Kamis, 26 Juli 2012

Genjer genjer

genjer yang tumbuh di pesawahanSore hari pemandangan sawah nan indah saya nikmati di Ubud, tepatnya di sebelah utara Sunset Hill. Disela sela tanaman padi tumbuh komunal genjer yang saya abadikan sejenak. Tanaman genjer yang hidup di daerah rawa ini kerap dibilang gulma, biasanya pada pesawahan yang digenangi air, di lahan gambut pasang surut, tanaman ini sebelumnya dikonsumsi itik. Pada masa pendudukan Jepang dan bahkan sebelumnya tanaman ini juga telah dikonsumsi. Bagi rakyat kecil yang tidak mampu membeli daging bisa merasakan ini, sambil mata terpejam, merasakannya sama dengan daging. Biasanya dikonsumsi setelah ditumis. Genyer juga bisa disajikan dalam bentuk lain seperti lalap, gado gado serta pecel.

Meski pada masa lalu tanaman genjer ini identik dengan lapisan bawah, namun sekarang sudah banyak yang mengkonsumsi genjer, tidaklah heran, karena masyarakat makin mengetahui kandungan yang kaya serat ini sehingga sangat baik untuk saluran pencernaan. Mengandung protein, kalsium, kalbohidrat dan lainnya. Selain dimakan tanaman ini juga banyak dipesan untuk eksterior, interior ruangan, ada yang dijadikan tas, tikar, lapisan luar untuk lampu, banyak sekali, bahkan untuk serat kursi.

Pada masa penjajahan Jepang lagu "genjer genjer" kerap didengar dan dinyanyikan kaum papa, pada masa orde lama setelah kemerdekaan orang orang mengidentikkan lagu ini sebagai lagunya "PKI" padahal secara lirik hanyalah keseharian seorang ibu yang menyusun genjer hingga mengkonsumsinya bersama. Pada masa orde baru lagu "genjer genjer" dilarang beredar. Namun sekarang lagu ini tidak lagi dilarang, bahkan banyak beredar dikarenakan jalur informasi dinikmati secara terbuka dengan akses yang beragam.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar