Kamis, 26 September 2019

CERITA SURABI

Surabi, orang jadul yang hidup di Jakarta pasti tau. Makanan ringan ini memang buat kita menelan ludah ketika melihatnya, terlebih jika pernah merasakannya ditambah perut sang pemandang sedang lapar.



Saya ingat ketika tahun 80 an di daerah Petamburan masih banyak lahan kosog, orang orang menggelar layar tancap, ada layar besar untuk pemutaran film dijadikan sarana Nobar ala jadul, dimana beratapkan bintang, jadi tak perlu penutup ruangan yang gelap lagi seperti di gedung gedung Bioskop. Bintang bintang pun lebih gampang ditemui dibanding sekarang ini. Maklum polusi Megapolutan ini sudah semakin mengkhawatirkan. Loh kok jadi melebar. Iya.. saat layar tancap kue surabi menjadi makanan favorit para penonton.





Surabi sendiri merupakan jajanan pasar tradisional yang berasal dari Indonesia. Ada dua jenis serabi, yaitu serabi manis yang menggunakan kinca (gula merah cair) dan serabi asin dengan atau tanpa taburan oncom yang telah dibumbui di atasnya. Di Bandung, serabi biasa dijajakan di pagi hari dan dimasak menggunakan tungku sehingga menghasilkan rasa yang khas.


Kadangkala telur ayam yang telah dikocok ditambahkan ke atas adonan serabi yang sedang dimasak. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak yang terus berinovasi dengan menambahkan berbagai topping seperti sosis, keju, maupun mayones yang tujuannya untuk mematahkan asumsi bahwa serabi adalah makanan yang terkesan rendahan. Tempat yang menyajikan serabi dengan berbagai variasi rasa tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor.


Salam berbagi,
Fadlik Al Iman