Kamis, 17 Mei 2012

Mengenang Hutan Leuser

Tahun 1999 merupakan tahun penuh tantangan dalam hidup, memulai segalanya dari nol. Ilmu kepecinta alaman yang dimiliki belum lengkap rasanya jika tidak dipadukan dengan pengamatan alam. Organisasi Non Pemerintah yang sering melakukan pengamatan alam pada waktu itu adalah Klub Indonesia Hijau (KIH), gencar beritanya di Majalah majalah, dengan mengadakan PEKA ALAM (Pendidikan Konservasi Alam), TRABAS (Keterampilan Alam Bebas) sampai ke EKSPA (Ekspedisi Pengamatan Alam). Berpijak dari konsep di atas rasanya baru berasa Mapala jika bukan sekedar naik gunung aja, tetapi untuk lingkungan dan ilmu pengetahuan.


Dimulai dari tahun 1998 kami coba mencari data, belajar melakukannya sendiri, belajar pengamatan burung dari Kang Yoki, buat herbarium dari Jati, studi jejak, dengan pijakan belajar biologi di bangku SMA rupanya sedikit demi sedikit mengamati bisa menyenangkan. Dengan meminjam buku pengamatan burung, binokuler yang hampir rusak, kami lakukan, perlahan namun pasti. Dengan membuat sketsa burung, mengidentifikasi ukuran, tingkah laku, warna pada bagian tubuh serta keunikannya. Semuanya menyenangkan, terlebih fasilitator dengan sabar memberikan ilmu.


Puncak Leuser 3.404 m. dplDi awal tahun 1999 kami coba buat programnya, Ekspedisi Leuser'99 dengan pengamatan alam, latihan selama berbulan bulan menghasilkan kebanggaan yang mendalam, terlebih pada waktu itu semua akses kita upayakan sendiri, audensi dengan Kopassus, Unit Manajemen Leuser yang didanai Uni Europa, semuanya pengalaman baru. 15 hari di dalam hutan yang melelahkan, memasak nasi dari air yang bersih sampai air rawa kami rasakan. Yang tak terlupakan ketika naik setiap tiga hari, kami harus menanam logistik untuk perbekalan diwaktu kami turun. Waktu siang selagi lelah, dibayar kepulan asap tanda guide Pak Ali telah rampung memasak. Hari ketujuh salah satu ransel dari tim jebol, untunglah kami membawa peralatan untuk menjahit. Semuanya menjadi kenangan yang tak terlupakan. Dihari kesembilan setelah badai dua hari di bivak lima, pagi pagi kami berangkat bersama angin dan kabut yang cukup tebal. Pada rambut rambut menuai butiran embun kecil karena dingin.  Subhanallah, rasa haru menggebu menjadi satu. Kami keluarga Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta. Hari ini tiba di puncak.


Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar