Rabu, 23 Oktober 2013

Ilustrasi

Terik membaluri semua sampai ke otak, alang alang tinggi dengan hutan humus mendmbah sulitnya menempuh perjalanan, terlebih ketika pohon pohon semakin sedikit. Orang orang diperusahaan mempersalahkan masyarakat yang menebang pohon untuk kayu bakar dan pembukaan lahan dengan cara membakar kerap melalap habis pohon.

Sementara jauh besebrangan denagn masyarakat bahwa orang orang di perusahaan kayu kurang memperhatikan pelestarian lingkungan, jumlah pohon yang terus merosot semakin mempersulit mencari kayu gelondongan mana yang berkualitas, alih alih tidak ada lagi sistem tebang pilih. Semuanya jadi sasaran agar bisa makan hari ini.

Dalam kelompok yang ketiga coba memfasilitasi keduanya, meski kadang ada saja ungkapan orang bahwa negara asing ingin mengontrol sistem dalam negeri, sementara pemerintahan merasa tak punya tenaga yang cukup kuat untuk merapikan sistem yang sudah berjalan. Peraturan yang sudah dibuat dengan gampang sekali diselewengakan di baik meja.
Melihat peluang dalam negeri yang rentan (foto.fadlik)

Hukum yang telah dibuat, dilanggar oleh pembuatnya sendiri, sementara masyarakat miskin jumlahnya semakin banyak, kerentanan ini yang amat memudahkan uluran peluan negara lain. Lalu ingatkah kita dari sejarah. Para pejuang membebaskan negeri dari cengkraman asing, sementara pengisinya mencari demi proyekan. Kerusuhan jadi proyek, kemiskinan jadi proyek, hak azasi manusia, keberagaman budaya, adat, lingkungan, banyak sekali keberagaman yang bisa dijual untuk memerosotkan diri bangsa menjadi bangsa terjajah. Selamat datang penjajahan gaya baru.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar