Senin, 24 Juni 2013

Kau takkan mengerti maksudku


Klise klasik belum kau cetak,dari bayang bayang jalan di atas tanah merah yang becek. Seorang anak kecil tanpa baju, telanjang kaki, kepala terdapat koreng, dari hidung mengucur basah, kental, ingus aktif. Di dalam rumah bertembok putih tebal, layar kaca hitam putih, lembut memang, seperti Joan Baez memanggil dengan gitar yang disandang. Seperti pohon rindang diterpa angin ketika terik. Anak anak ada di kali sedikit keruh.

Dua belas hari lagi ramadhan ketika itu. Tak kau lupa, tak ada bayangan membeli benang yang baru. Cerita suka suka, modal kata dirangkai seperti kritik kental Bob Dylan di dalam tongkrongan becek di jalan sempit. Penuh warna pada tembok, lampiaskan amarah yang tertampung dari generasi ke generasi. Kini hilang semua kisah, tv hitam putih, jalan becek di atas tanah, suara sungai mengalir diselingi tawa anak anak mandi di sungai. Dikelabuhi sinyal Hanphone, dikelabuhi beton beton mengacung, dikelabuhi kendaraan yang kadang tanpa maksud mewarnai jalan.

Kini anak anak sudah besar,bersama wajah yang ada, bersama bahan buatan, pewarna buatan. Ku sentuh lagi, kali ini sama dengan biasanya, hanya beda waktu dan keinginan yang makin kuat. Sama seperti sudut nyalimu. Aku disini, berselimut tulis. Untuk smangat anak anak yang harus terus tumbuh, ditemani jalanku, ditemani maksud keriangan. Sementara disini sudah over, over, over.
Salam,
-f@i-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar