Minggu, 22 Februari 2015

Kisah Pagi Di Slipi

Pagi buta seorang pegawai rapih menunggu bis, cantik, metropolis, 96,7% pria yang melihatnya kurasa dia suka.

Masih cerita dengan perempuan tadi yang mengeluarkan ponsel genggamnya,  makin menambah pesona diri.

Pagi memang buta di Slipi,  tetapi saya tidak buta. Perempuan tadi yang menjadi interpretasi perempuan Metro polis Jakarta tanpa bersalah membuang sampah sembarangan.

Mungkin hal tadi yang membuat Jakarta tak lepas dari persoalan pelik. Orang yang dianggap contoh malah mencemooh akal sehat. Naluri yang bersih, rohani yang menjaga sekitarnya.

Jakarta akan terus menjadi rongsokan, karena prilaku manusia yang tidak menghargai kotanya, bahkan mengotorinya dengan sampah.

Belum lama berselang, datang pahlawan yang selalu dicibir, membersihkan muntah saudaranya. Kota maafkanlah kami, masih bisakah kau bangga, karena masih ada pembelamu.

Meski ia kotor, tak sekolah, saya yakin semangat subuh bapak ini akan menjadi bola salju dimana generasi muda memungut semangat dari sosok teladan seperti anda.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar