Kamis, 04 September 2014

Abrasi di Pantai Banyubiru Bali

Abrasi di pantai Banyubiru kian mengkhuwatirkan.
NEGARA--Abrasi di Kabupaten Jembrana, Bali, meluas hingga Desa Banyubiru yang dikenal sebagai objek wisata kuliner.

Di desa itu, sejumlah warung makanan dan rumah warga hancur diterjang ombak dari selatan Pulau Bali.
"Sudah empat hari ini ombak besar. Selain rumah kami, dua warung lesehan di pinggir pantai juga rusak," kata Sadikin, korban abrasi di Desa Banyubiru, Senin (16/6/2014).

Ia bersama dua warga korban abrasi lainnya mengungsi ke arah utara yang dengan pantai dibatasi jalan desa.

Selain itu, mereka berusaha menyelamatkan material rumahnya yang masih bisa digunakan lagi, khususnya tiang-tiang kayu utama.

Menurut dia, abrasi di pantai Desa Banyubiru sudah berlangsung dua tahun terakhir dan kian parah setiap tahunnya.

"Apalagi yang sekarang, ombak tinggi bergulung hingga ke pantai dan menyeret tanah dalam jumlah besar saat kembali ke laut," katanya.

Kepala Desa Banyubiru, Masturi, mengaku sudah melapor ke Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Sosial Kabupaten Jembrana.
"Ke Dinas Sosial kami usulkan agar para korban ini secepatnya mendapatkan bantuan darurat untuk kebutuhan mereka sehari-hari," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jembrana, I Gusti Putu Mertadan, sudah mengusulkan proyek penanggulangan abrasi di wilayah tersebut ke pemerintah pusat dan berharap tahun 2015 bisa direalisasikan.

Sebelumnya, abrasi juga merusak delapan rumah di Dusun Jineng Agung, Kelurahan Gilimanuk, dan mengancam belasan rumah di pinggir pantai lainnya.

Abrasi hebat juga melanda wilayah Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, dan Desa Pengambengan, Kecamatan Negara.
Sumber : Antara
Foto : Fadlik
Editor : Ema Sukarelawanto

Rabu, 03 September 2014

Naik Gunung

Berangsur angsur pendaki naik, dikatakan I Komang Kayun Kordinator Pemandu yang berasal dari banjar Temukus Desa Besakih bahwa sebelumnya sudah ada yang naik, terhitung banyak pendaki dari berbagai daerah, ada yang dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Yokyakarta, Malang, Bali, Lombok bahkan dari Manca Negara.
Ribuan pendaki merayakan HUT RI ke 69 Tahun di Puncak Gunung Agung, sedikitnya tercatat 1.108 pendaki dari dua jalur yang ada di Gunung Agung, jalur pendakian konvensional berada di Besakih dan Pura pasar Agung dengan titik puncak yang berbeda. Selain di gunung Agung banyak juga yang merayakan di gunung Batur, Abang serta Batukaru.
Dari jalur Besakih pendakian Gunung Agung ditempuh 7 – 8 jam. Sebelum komunitas Bali Parkour mendaki Komang memberikan kata sambutannya agar di atas berhati hati, agar selalu menjaga kekompakan, dilarang berkata kata kotor. Tahun 2008 ada pendaki tewas, ada juga yang sampai saat ini belum ditemukan, tambahnya.
Kali ini Bali Parkour berjumlah 30 orang dengan target pengibaran bendera merah putih di puncak Gunung Agung. Jalur pendakian di mulai dari Pura Pengubengan Besakih dengan menelusuri aspal yang terputus ke arah utara, kemudaian dilanjutkan jalan kerikil yang kemudian menanjak sampai bertemu dengan jalan setapak yang makin terjal dengan pegangan akar akar pohon.
Satu jam pertama sampailah di Pos Pura Gili, interpreter menjelaskan tentang hutan hujan tropis dan mengapa hutan harus dijaga kelestariannya, tak lama berselang kami bergerak naik. Saya teringat ungkapan Budha “Keinginan adalah sumber penderitaan”, dengan nafas tersengal, tenaga yang pas pasan, menahan dingin dan kantuk yang luar biasa seraya membayangkan betapa sulitnya mencapai puncak kemerdekaan.
Sekitar jam 07.07 beberapa pendaki sudah mencapai Pura Puri Agung,salah satu Camp terakhir sebelum menuju puncak.