Minggu, 09 April 2023

MEMAHAMI RAHASIA PUASA

Oeh: Dr. Soetrisno Hadi  7'73




Sudah lebih dari separuh bulan Ramadhan dilalui. Sudah cukup banyak jumlah hari puasa yang didapati. Sudah nampak perubahan yang terjadi. Ada ke arah yang lebih positif, tetapi ada juga yang mulai terkikis erosi dan euforia lebaran. 


Mungkin perlu _rethinking_ memikirkan kembali untuk apa dan mengapa kita puasa. Sejatinya, ada begitu banyak rahasia di balik puasa. Syari'at yang dipertahankan Allah,swt untuk tetap dilaksanakan dari masa ke masa _kama_ _kutiba 'ala al-ladziina min qablikum_ (QS.al-Baqarah,2:183). 


 _Pertama_ , puasa tetap diwajibkan Allah,swt pada kita karena faedah dan manfaatnya yang sangat besar bagi manusia baik secara fisikal, psikikal, maupun sosial. 


Dengan kata lain, puasa difardhukan karena dibutuhkan. Selain itu, ketika kita berpuasa kita dengan sengaja telah meneladani sifat-sifat luhur Allah,swt. Seperti Allah,swt tidak makan, tidak minum, selalu sibuk dengan berbagai kebajikan. Seperti dituturkan dalam QS.ar-Rahman,55:29, "Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan".


 _Kedua_ , berpuasa adalah mengarahkan diri dan hidup ini seperti Allah,swt yang Mahasuci. Puasa adalah ikhtiar religius untuk mengosongkan diri _takhalli_ dari kuatnya pengaruh hawa nafsu. Bersamaan dengan itu menghias diri _tahalli_ dengan sifat-sifat terpuji seperti berbagi _shadaqah_ dan lainnya. 


Pada ujungnya adalah kedekatan pada Allah,swt _taqarrub ila Allah_ , inilah pengalaman spiritual tertinggi yang dicapai seorang hamba dalam upaya dekat dengan _khaliq_ -nya. Pengalaman metafisis inilah yang dalam esoterisme Islam dikenal sebagai _tajalli_ . 


 _Ketiga_ , melalui puasa seorang hamba telah dengan sengaja mencitrakan dirinya seperti citra ketuhanan _imago Dei_ atau citra ilahi yang suci dan mulia. 


Karena itu, bisa dimengerti mengapa Syaikh 'Abd al-Qadir al-Jailani,rhm dalam kitabnya _Sirr al-Asrar_ menyebut ada puasa syariat, ada puasa tarekat. Atau dalam bahasa yang lebih umum, ada puasa fisik, ada puasa psikis menuju puasa ruhani. 


Berangkat dari pemahaman seperti itu, kita makin teguh dan yakin bahwa berpuasa adalah aktifitas pengabdian pada Allah,swt yang memang kita butuhkan dalam menuju kesempurnaan hidup di dunia. Kita sedang berjalan menuju _ridha_ -Nya dengan segala lika-likunya. 


Karenanya, ketegaran dan keuletan, semangat untuk terus maju meraih yang terbaik dari Allah,swt adalah obsesi kita semua. Semoga Allah,swt terus memberikan bimbingan, _tawfiq, hidayah_ , dan ' _inayah_ -Nya pada kita sekalian sehingga meraih ridha-Nya.


Salam berbagi,

Fadlik Al Iman 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar