Kamis, 06 Mei 2021

Sayangi yang Ada di Bumi, Yang di Langit Akan Menyayangimu

 

 

Irhamu man fil ardli yarhamkum man fis sama’”– Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.” —HR. Abu Dawud dan Timidzi.

 

Foto : Fauna di Taman Nasional Kilimanjaro, Mapala Stacia UMJ, Ekspedisi Merah Putih - 2001

Imam al-Ghazali, atau yang memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i ini dikenal dunia sebagai seseorang yang alim dan taat beragama. Namanya semakin besar, ketika ia menciptakan berbagai karya tulis yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Seperti Ihya Ulumuddin, Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan), Misykah al-Anwar, Maqasid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah; Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul, Mi`yar al-Ilm; al-Qistas al-Mustaqim, Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq, dsb.

Berkat karya-karyanya ini pula, ia mendapat kepercayaan sebagai seorang cendekiawan muslim yang komplit. Sebagai ulama besar, ahli filsafat, ahli teolog, dan bahkan dikarenakan daya ingatnya yang kuat dan bijak dalam berhujjah, ia pun mendapat gelar Hujjatul Islam. Ia sangat dihormati karena keluasan ilmunya, hingga kini.

Namun di balik totalitas al-Ghazali terhadap keilmuan dan Islam, terselip satu kisah yang unik, menggelitik, dan bermakna. Betapa tidak, dalam kisah tersebut terungkap gambaran lain seorang ahli tasawuf ini—yang konon telah mengantarkannya ke Syurga. Seorang imam besar yang terselematkan dari panasnya api neraka dikarenakan seekor lalat.

Dalam Nashaihul ‘IbadSyekh Nawawi al-Bantani menuliskan kisah tersebut. Konon pada suatu ketika ada seseorang berjumpa dengan Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi. Lantas ia pun bertanya, “Bagaimana Allah memperlakukanmu?.”

Imam al-Ghazali pun berkisah. Di hadapan Allah ia ditanya mengenai bekal apa yang hendak diserahkan kepada-Nya. Al-Ghazali menjawab dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.

Namun, Allah menolak semua itu. Kecuali, satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat. Dan, karena lalat itu pula Imam al-Ghazali diizinkan memasuki Syurga-Nya.

Dikisahkan pada suatu hari, Imam al-Ghazali tengah sibuk menulis kitab. Hal yang lazim dalam dunia kepenulisan adalah dengan menggunakan tinta dan sebatang pena. Pena itu harus dicelupkan dulu ke dalam tinta baru kemudian dipakai untuk menulis, jika habis dicelup lagi dan menulis lagi. Begitu seterusnya.

Di tengah kesibukan menulis itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan hinggap di mangkuk tinta Imam al-Ghazali. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu.

Dari kisah tersebut, kita tahu bahwa betapa luas kasih sayang Imam al-Ghazali terhadap sesama makhluk, termasuk lalat yang pada saat itu datang “mengganggu” kenikmatannya dalam kegiatan menulis.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa tidak ada hak bagi manusia untuk menilai besar kecilnya suatu ibadah. Apa yang kita anggap kecil, belum tentu menjadi kecil pula di hadapan Allah. Begitu pun sebaliknya, apa yang dianggap sebagai nilai ibadah besar dan bernilai tinggi, belum tentu memiliki nilai besar di mata Allah. Karena ternyata, penilaian ibadah manusia sepenuhnya milik-Nya, bukan milik manusia.

Hikmah lain dalam kisah ini adalah mengenai kasih sayang yang tiada batas. Kasih sayang manusia terhadap makhluk lain, sekali pun itu hewan. Tak menutup kemungkinan kasih sayang yang dianggap sepele ini dapat menghantarkan manusia menuju ke Syurga-Nya.

Sejatinya, Imam al-Ghazali hanya mempraktikkan apa yang diperintahkan dan diteladankan Muhammad Saw, “Irhamu man fil ardli yarhamkum man fis sama”–Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.”

Pun begitu dengan balasan yang ia peroleh akibat kebaikan yang ia tanamkan, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. 99: 7-8), dan sungguh, “Tiada balasan kebaikan selain kebaikan pula.” (Qs. Ar-Rohman: 60)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar