Rabu, 09 Maret 2016

Dalam Hitungan Jemari Tangan

Beberapa tahun sebelumnya kau jumpai aku. Dalam waktu yang sempit di kaki bukit, berulang ulang. Aku mencari,  sementara darah remaja yang enggan menyapa dahulu seperti biji lada, ramai dan pedas.

Ketika kau menghilang dalam hitungan jemari tahun, sang waktu menyalami aku dalam titik yang benar,  seorang datang, bening, sopan, pelan dan kuat. Aku disapa warna masa lalu,  di depan taman, di depan plaza olah raga. Dalam pagi yang sempit, sibuk, kemudian dalam hitungan jemari tahun kau pun menghilang.
Foto. Pribadi 
Sempatku memaku, pada kilauan semangat muda, berapi api, gelora, bergelombang di atas ladang ladang Afrika yang tandus karena persoalannya sendiri. Kami berlari, menghampiri ladang demi ladang bawaan bijaksana pendahulu. Kami kemudian terpisah dalam hitungan tahun jemari tangan.

Hingga akhirnya doa dari air purba yang mengalir, doa dari keringat usul yang tepat datang untukku. Kamu ada dari balik jendela, ruang operasi keadaan yang lampau. Kamu hampiri taman, berjuang sendirian, menjemput perjuanganku tanpa bendera apa apa. Akhirnya jemari tahun belum bisa memastikan kapan kami berhenti.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar