Rabu, 25 Februari 2026

Beginilah Balasannya

 Jagad media sosial Indonesia sedang mendidih. Sebuah skandal moral dan etika yang melibatkan "darah biru" intelektual hasil didikan dana negara kini menjadi sorotan tajam. Istilah "Pengkhianat Negara Gaya Baru" kini menyemat pada sosok Dwi Sasetyaningtyas (DS) dan suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro (AP), setelah serangkaian tindakan mereka yang dianggap meludahi rasa nasionalisme bangsa yang telah membiayai kemewahan pendidikan mereka.


Krisis ini meledak ketika DS, seorang alumni LPDP dari TU Delft Belanda, mengunggah video yang memamerkan paspor Inggris anak keduanya. Dengan nada yang dianggap sangat merendahkan, ia menulis, "Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu". Pernyataan ini dianggap sebagai pengkhianatan emosional terhadap negara yang telah mengucurkan miliaran rupiah untuk menyekolahkannya di luar negeri. Di saat ribuan anak bangsa berjuang mati-matian demi beasiswa, DS justru dengan bangga menyebut dirinya "capek jadi WNI".


Dosa etika ini semakin dalam ketika publik menguliti status sang suami, Arya Pamungkas Iwantoro. AP adalah penerima beasiswa LPDP untuk jenjang S2 dan S3 di Utrecht University, Belanda. Bukannya pulang untuk mengabdi sesuai aturan ketat 2N+1 (dua kali masa studi ditambah satu tahun), AP justru terdeteksi menetap di Inggris dan berkarier mentereng sebagai Senior Research Consultant di University of Plymouth.


LPDP kini secara resmi melayangkan panggilan klarifikasi karena AP diduga kuat melanggar kontrak negara. Jika terbukti "kabur" dari kewajiban pengabdian, ia terancam sanksi pengembalian seluruh dana beasiswa yang nilainya ditaksir mencapai miliaran rupiah—uang yang seharusnya kembali dalam bentuk kontribusi untuk rakyat, bukan untuk memperkaya diri di negeri orang.


Kemarahan publik kian memuncak saat jejak digital DS mengungkap penggunaan fasilitas negara yang luar biasa mewah. Pada Januari 2026, DS memamerkan pengalamannya riset di Pulau Sumba dengan fasilitas mobil, sopir, hotel, hingga pengawalan ajudan.


Usut punya usut, fasilitas ini diduga kuat berasal dari pengaruh ayah mertuanya, Syukur Iwantoro, yang merupakan mantan pejabat tinggi (Eselon I) di Kementerian Pertanian. Publik pun melontarkan sindiran pedas: bagaimana mungkin seseorang yang mengaku "capek jadi WNI" tetap dengan tak tahu malu menikmati fasilitas dinas dan perlindungan ajudan yang dibayar dari pajak rakyat?.


Kasus ini menjadi alarm keras bagi pengelola dana pendidikan negara. Muncul tuntutan masif agar LPDP tidak hanya mengejar pengembalian dana, tetapi juga melakukan blacklist permanen dan penyitaan aset jika diperlukan bagi para alumni yang mengkhianati kontrak sosial. Fenomena "Brain Drain" yang dibalut kesombongan ini dianggap sebagai bentuk korupsi gaya baru—mengambil manfaat sebesar-besarnya dari negara, lalu membuang identitas bangsa saat sudah merasa "elit".


Kini, publik menunggu ketegasan pemerintah: apakah mereka akan tetap membiarkan para "pengkhianat akademik" ini melenggang bebas di luar negeri, atau menyeret mereka pulang untuk mempertanggungjawabkan setiap perak uang rakyat yang telah mereka telan?



Sumber Referensi:

 * Laporan Investigasi Suara, CNBC Indonesia, dan Tempo (Februari 2026)


#NusantaraExcited #LPDP #PengkhianatNegara #DwiSasetyaningtyas #AryaPamungkas #SkandalBeasiswa #NasionalismeGadai #KeadilanUntukRakyat

Tolong Bantu Kami Menjelaskan

 


Rangkap Jabatan

 ‎Dua kasus rangkap jabatan mencuat ke ruang publik, namun berujung nasib hukum yang sangat berbeda. Di daerah, seorang guru honorer harus berhadapan dengan proses pidana. Sementara di pusat kekuasaan, rangkap jabatan justru dilegitimasi dan disertai remunerasi fantastis.


‎• Di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Mohammad Hisabul Huda, guru honorer SDN Brabe 1, Kecamatan Maron, ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri Probolinggo. Ia dinilai melanggar aturan karena merangkap jabatan sebagai guru honorer dan pendamping lokal desa sejak 2019.

‎Honor sebagai pendamping desa yang diterimanya sekitar Rp2,2 juta per bulan. Audit Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menyebut total potensi kerugian negara mencapai Rp118,86 juta. Atas perbuatannya, MHH dijerat Pasal 603 atau Pasal 604 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

‎• Sementara itu di Jakarta, nama Angga Raka Prabowo menjadi sorotan publik karena mengemban tiga jabatan strategis sekaligus: Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BKP), serta Komisaris Utama PT Telkom Indonesia.

‎Sebagai Wakil Menteri, Angga membantu Meutya Hafid dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan digital nasional. Di waktu yang sama, ia mengendalikan narasi komunikasi kepresidenan melalui BKP, sekaligus menduduki posisi pengawasan tertinggi di BUMN telekomunikasi terbesar di Indonesia.

‎Berdasarkan estimasi dari berbagai komponen remunerasi:

‎1. Wakil Menteri: sekitar Rp98,5 juta per bulan

‎2. Kepala BKP: sekitar Rp18,6 juta per bulan

‎3. Komisaris Utama Telkom: sekitar Rp800 juta per bulan

‎Total estimasi penghasilan kotor mencapai sekitar Rp917 juta per bulan sebelum pajak.

‎Kombinasi jabatan tersebut memicu kritik sejumlah kalangan karena berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, mengingat posisi Wakil Menteri berada di ranah regulator, sementara Telkom merupakan entitas yang berada di bawah pengawasan regulasi tersebut. Isu ini juga dikaitkan dengan Putusan MK Nomor 80/PUU-XVII/2019, yang menegaskan larangan rangkap jabatan menteri juga berlaku bagi wakil menteri.

‎• Dua kasus ini menampilkan kontras tajam dalam penegakan aturan. Di satu sisi, guru honorer dengan penghasilan minim diproses hukum karena rangkap jabatan bernilai ratusan juta rupiah. Di sisi lain, pejabat negara dengan rangkap jabatan strategis justru menikmati pendapatan mendekati Rp1 miliar per bulan.

‎Perbandingan ini memunculkan pertanyaan publik tentang keadilan, konsistensi hukum, dan arah penegakan integritas di Indonesia: apakah hukum ditegakkan sama kuatnya ke atas dan ke bawah?

Benyamin Sueb

 Benyamin Sueb (5 Maret 1939 – 5 September 1995) adalah legenda seni budaya Betawi yang dikenal sebagai seniman serbabisa. Ia merupakan seorang aktor, penyanyi, pelawak, sutradara, hingga penyiar radio.


Merilis lebih dari 75 album. Lagu-lagu populernya antara lain Ondel-ondel dan Kompor Meleduk. Ia sangat berjasa memopulerkan musik Gambang Kromong ke kancah nasional. Membintangi lebih dari 50 film. Beberapa yang ikonik termasuk Si Doel Anak Betawi, Intan Berduri, dan Benyamin Biang Kerok.


Meraih dua Piala Citra sebagai Aktor Terbaik melalui film Intan Berduri (1973) dan Si Doel Anak Modern (1977. Namanya diabadikan sebagai salah satu Nama Jalan Utama di Kemayoran, Jakarta, tempat kelahirannya. 

#ArtisIndonesia #BeritaSelebriti #ArtisJadul #AhSyafii #BeritaArtisTerkini #Infotainment #InformasiSelebriti #publicfigure #socialissues  #Wednesdaynight #fanrecognition #gameshow #dramaseries #realitytv #drama #fanappreciation #tvpersonality #tv #BenyaminSueb

Perempuan Perkasa

 Sebuah foto sunyi di atas perahu kecil itu sempat menggetarkan media sosial. Seorang perempuan duduk tenang, berdampingan dengan seekor harimau yang terbaring lemah. Perempuan itu adalah Yanti Musabine, seorang dokter hewan yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan satwa liar terutama Harimau Sumatera.


Dengan pelampung di tubuh dan masker menutupi wajahnya, Yanti menemani sang harimau yang sedang dievakuasi menyusuri sungai. Tak ada sorak, tak ada heroisme yang dipamerkan. Hanya keberanian yang diam, dan kepedulian yang tulus. Foto itu bukan sekadar gambar dramatis, melainkan potret pengorbanan seorang perempuan yang rela mempertaruhkan keselamatan demi satu nyawa yang hampir punah.


Harimau Sumatera adalah satu-satunya harimau yang tersisa di Indonesia. Populasinya terus menurun, terdesak oleh perburuan dan hilangnya hutan. Banyak dari mereka ditemukan dalam kondisi terluka, kelaparan, atau terjerat perangkap manusia.


Di situlah Yanti berdiri. Ia terlibat langsung dalam pembiusan, pemeriksaan, hingga pemindahan harimau ke tempat yang lebih aman. Medan berat dan jalur darat yang mustahil sering memaksa evakuasi dilakukan lewat sungai seperti momen yang terekam dalam foto itu.



Berada satu perahu dengan predator puncak bukan hal biasa. Meski harimau itu terbius, risiko tetap nyata. Namun ketenangan Yanti mencerminkan pengalaman, keberanian, dan cinta yang besar pada alam.


Foto itu bukan sekadar viral. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan menjaga satwa langka masih berlangsung, senyap dan penuh risiko. Setiap penyelamatan berarti menahan satu langkah dari kepunahan.


Dan selama masih ada sosok seperti Yanti Musabine yang memilih berdiri di garis depan harapan bagi Harimau Sumatera belum benar-benar padam.

Banyak Orang Memilih Aman

Dari Paket C ke Puncak UGM! Tiyo Ardianto Bungkam Stigma, Tantang Kekuasaan Demi Kebenaran. 


Di tengah hiruk-pikuk politik nasional dan perdebatan soal program Makan Bergizi Gratis (MBG), nama Tiyo Ardianto mendadak menggema. Ketua BEM KM UGM itu bukan hanya menjadi sorotan karena kritiknya terhadap program andalan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, tetapi juga karena latar belakang pendidikannya yang tak biasa: lulusan Paket C.


Namun publik seakan lupa, bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh selembar ijazah. Tiyo membuktikan, dari jalur pendidikan alternatif di PKBM Omah Dongeng Marwah Kudus, ia mampu menembus bangku filsafat di Universitas Gadjah Mada — kampus favorit dan simbol intelektualitas nasional. Bukan hanya masuk, ia terpilih menjadi Ketua BEM, posisi strategis yang selama ini identik dengan mahasiswa berprestasi akademik dan organisatoris tinggi.


Keberanian Tiyo semakin diuji saat ia menyurati UNICEF terkait evaluasi program MBG. Langkah itu memicu polemik nasional. Ia bahkan menerima teror dan framing negatif di media sosial. Namun, alih-alih mundur, ia justru berdiri lebih tegak. Baginya, suara mahasiswa adalah suara nurani rakyat — bukan gema kekuasaan.



Dalam berbagai forum, termasuk Musyawarah Nasional BEM SI di Padang, Tiyo menunjukkan sikap independen dengan menarik BEM UGM dari aliansi yang dinilai terlalu dekat dengan elit politik. Ia menegaskan, gerakan mahasiswa harus tetap menjadi kekuatan moral yang berdiri di luar lingkar kuasa.


Latar belakang Paket C yang sempat dipertanyakan sebagian pihak justru menjadi simbol daya juang. Ia sendiri pernah menulis bahwa sekolah hanyalah “tanah”, sementara keberhasilan ditentukan oleh “petani”-nya. Tanah paling subur pun tak berarti bila tak diolah dengan keberanian dan ketekunan.


Kisah Tiyo Ardianto adalah tamparan bagi stigma lama: bahwa jalan hidup tidak selalu lurus dan formal. Dari keluarga sederhana di Kudus, dari pendidikan non-konvensional, hingga memimpin mahasiswa di kampus kerakyatan — ia menjelma menjadi simbol bahwa keberanian berpikir dan bersuara jauh lebih penting daripada label administratif.


Di era ketika banyak orang memilih aman, Tiyo memilih bersikap. Dan mungkin di situlah letak jati dirinya yang sesungguhnya: bukan pada ijazahnya, melainkan pada keberaniannya menyuarakan apa yang ia yakini benar.


Sumber:

tvOne | Pernyataan BEM KM UGM | Surat BEM UGM ke UNICEF (6 Februari 2026) | Keterangan Menteri HAM | Dokumentasi media sosial


#TiyoArdianto

#KetuaBEMUGM

#DariPaketCkeUGM

#MahasiswaBergerak

#SuaraKebenaran

#BEMUGM

#LawanStigma

Tak Percaya Pada Polisi

 Gelombang teror yang menyasar Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, kini tidak lagi bersifat personal.

Situasinya berkembang menjadi lebih luas dan mengkhawatirkan.


Awalnya, intimidasi hanya dialami oleh Tiyo dan kedua orang tuanya.

Namun, dalam perkembangannya, lebih dari 40 pengurus BEM UGM ikut menerima teror dari nomor tak dikenal.


Bahkan, orang tua sejumlah pengurus lainnya juga menjadi sasaran aksi serupa.

Polanya sama: pesan dan panggilan misterius yang menimbulkan rasa tidak aman. 


Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menerangkan teror kepadanya dan pengurus BEM yang kini menjadi isu publik rupanya masih terjadi.


Artinya, tekanan tersebut belum benar-benar berhenti meski sudah mendapat perhatian luas.

Merespons situasi ini, BEM UGM tidak tinggal diam.

Mereka telah menjalin koordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), serta pihak Universitas Gadjah Mada.


Meski berbagai pihak mendorong agar kasus ini dilaporkan kepada aparat penegak hukum, BEM UGM hingga kini masih mempertimbangkan langkah tersebut dan belum memilih menempuh jalur hukum.


Fokus utama BEM UGM saat ini adalah menyampaikan evaluasi dan kritik kepada pemerintah.

"Karena pada dasarnya teror yang terjadi itu tidak berimbas apa-apa kepada kami, kami akan senantiasa melawan, senantiasa akan mengkritik apa yang kami anggap tidak adil dan menindas rakyat," katanya saat ditemui di UII Cik Di  Tiro, Minggu (22/2/2026).


"Justru terima kasih kepada teman-teman yang menyampaikan teror, karena justru persaudaraan diantara teman-teman BEM  UGM semakin solid. Karena punya nasib yang sama, yaitu menjadi korban dari teror nomor-nomor yang tidak dikenal," sambungnya.


Tidak percaya pada Polisi


Ketidakpercayaan pada institusi Polri pun menjadi alasan BEM UGM tidak ingin melaporkan teror. 

Apalagi ada seorang anak di Tual, Maluku yang pada Kamis (19/2/2026) meninggal dunia seusai dianiaya oleh anggota Brimob Polda Maluku.


Peristiwa itu justru semakin menguatkan keraguan BEM UGM untuk melaporkan teror ke kepolisian.



"Untuk melaporkan ini ke pihak kepolisian, itu juga menjadi satu keraguan bagi kami. Karena baru terjadi kemarin, seorang polisi yang membunuh rakyat Indonesia, membunuh anak bangsa Indonesia. Lalu dengan situasi seperti ini, kita akan minta tolong ke polisi? Rasanya kemanusiaan kami justru dipertanyakan. Karena teror ini masih sebatas digital, sehingga justru kami tidak mau disibukan dengan itu," terangnya.


Sumber : tribuntrend

Selasa, 24 Februari 2026

Buka Mata Dan Telinga

 


BEM UGM Mengedukasi Kita

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menjadi sorotan publik setelah menyampaikan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.


Perhatian terhadap dirinya semakin meningkat ketika ia mengungkapkan telah mengirim surat kepada UNICEF terkait program tersebut. Dalam pandangannya, terdapat kesenjangan antara data yang disampaikan pemerintah dan kondisi riil di lapangan, terutama menyangkut kesejahteraan serta akses pendidikan anak.


Setelah kritik itu mencuat, Tiyo mengaku mengalami serangan di media sosial, termasuk penyebaran isu pribadi yang menurutnya tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk framing yang tidak relevan dengan substansi kritik kebijakan yang ia sampaikan.


Latar belakang pendidikan Tiyo turut menjadi perbincangan. Ia merupakan lulusan pendidikan kesetaraan Paket C dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah di Kudus. Dalam beberapa unggahan, ia menceritakan perjuangannya menempuh jalur pendidikan alternatif sebelum akhirnya diterima sebagai mahasiswa Program Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada.


Sebagai aktivis kampus, Tiyo dikenal kritis terhadap kebijakan publik. Dalam Musyawarah Nasional XVIII Aliansi BEM Seluruh Indonesia Kerakyatan, ia membawa BEM UGM keluar dari aliansi tersebut karena menilai gerakan mahasiswa harus tetap independen dan tidak terlalu dekat dengan kekuasaan.


Polemik ini juga mendapat tanggapan dari Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai. Ia menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis sejalan dengan prinsip hak asasi manusia, khususnya hak atas pangan dan kesejahteraan anak. Menurutnya, kritik diperbolehkan selama bertujuan memperbaiki kebijakan, namun upaya yang dianggap ingin meniadakan program pemenuhan hak dasar perlu dipertimbangkan secara serius.



Surat terbuka BEM UGM yang dikirim pada 6 Februari 2026 disebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas kondisi pendidikan dan kesejahteraan anak di daerah, termasuk kasus seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang memicu perdebatan tentang prioritas anggaran negara.


Perdebatan ini menunjukkan dinamika antara pemerintah dan gerakan mahasiswa dalam menyikapi kebijakan publik. Di satu sisi, pemerintah menekankan pentingnya program sebagai pemenuhan hak dasar. Di sisi lain, mahasiswa menyoroti aspek implementasi serta prioritas kebijakan. Diskusi tersebut menjadi bagian dari ruang demokrasi yang memungkinkan perbedaan pandangan disampaikan secara terbuka.

Kisah Tragis

 Kisah Tragis Utman bin Affan, 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah


Tulisan ke-8 Edisi Ramadan. Tragedi paling berdarah dalam Islam dimulai dari Khalifah Utman bin Affan. Rumahnya dikepung sampai 40 hari, lalu diterobos, nyawanya dihabisi dengan sangat kejam. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul usai buka puasa, wak!


Mekah abad ke-6 seperti pusat konglomerasi tanpa etika audit, tempat para saudagar berlomba menumpuk dirham dan gengsi. Di tengah panggung itu berdiri seorang pria yang hartanya bisa membuat bangsawan Persia dan Bizantium melirik iri. Dialah Utsman bin Affan. Lahir sekitar 573–576 M dari Bani Umayyah, yatim sejak kecil karena ayahnya, Affan, wafat lebih dulu, ia tumbuh sebagai salah satu orang terkaya di Jazirah Arab. Tapi kekayaan itu tak membuatnya liar. Ia tak menyentuh khamar, tak gemar berteriak, dan dikenal pemalu luar biasa. Bisa baca-tulis di tengah masyarakat yang mayoritas buta huruf. Dermawan tanpa panggung. Sopan sampai malaikat pun disebut malu kepadanya.


Tahun keenam kenabian, ia diajak sahabatnya, Abu Bakr ash-Shiddiq, memeluk Islam. Tanpa drama. Tanpa negosiasi politik. Keluarga menekan, paman mengancam, tapi ia tetap tegak. Ia menikahi Ruqayyah, putri Muhammad, lalu hijrah pertama ke Habasyah pada 615 M, gelombang hijrah paling awal dalam sejarah Islam. Kemudian, hijrah kedua ke Madinah. Setelah Ruqayyah wafat, ia menikahi Ummu Kultsum. Dua putri Nabi dinikahinya, hingga Rasulullah menjulukinya Dzun Nurain, pemilik dua cahaya. Ia tak ikut Perang Badar karena merawat istrinya yang sakit, namun tetap diberi bagian ghanimah dan pahala penuh. Seolah langit sendiri tahu, pengabdian tak selalu bersuara pedang.


Tahun 644 M, setelah Umar bin Khattab wafat akibat tikaman, enam tokoh besar (Ali, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah) bermusyawarah. Utsman terpilih dalam usia 68–71 tahun, menjadi khalifah tertua di antara Khulafaur Rasyidin. Ia berjanji berpegang pada Alquran dan sunnah Abu Bakr-Umar. Masa pemerintahannya 12 tahun menyaksikan ekspansi besar dari Armenia, Khurasan, Afrika Utara. Armada laut Muslim pertama bahkan mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Layar Besar tahun 655 M. Namun kebijakan paling monumental adalah standarisasi Alquran. Karena perbedaan bacaan di berbagai provinsi, ia memerintahkan Zaid bin Tsabit menyusun mushaf resmi, menyalinnya dan mengirimkannya ke berbagai wilayah, serta membakar mushaf lain demi persatuan. Tujuannya menyatukan umat. Tapi seperti biasa, kebijakan persatuan sering dipelintir jadi bahan tuduhan.


Ia membeli sumur Rumah di Madinah dengan puluhan ribu dirham dari hartanya sendiri dan mewakafkannya gratis selamanya. Ia memperluas Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, membebaskan budak setiap Jumat, mengirim bantuan pangan saat paceklik. Seorang khalifah super kaya yang hidup sederhana. Namun ketika ia mengangkat beberapa kerabat sebagai gubernur, tuduhan nepotisme meledak. Politik memang tak pernah kekurangan cara untuk mengubah amal menjadi kecurigaan.


Lalu tibalah bab paling gelap, 40 hari pengepungan.


Tahun 656 M, sekitar 500 hingga 1.000 orang dari Mesir, Kufah, dan Basrah datang ke Madinah. Rumah khalifah dikepung selama 40–49 hari. Air diputus. Makanan ditahan. Tuduhan dilontarkan. Nepotisme, korupsi, menyimpang dari sunnah. Sebuah surat misterius, diduga terkait Marwan bin al-Hakam yang memerintahkan pembunuhan pemimpin delegasi Mesir dicegat, memicu ledakan amarah. Isu berembus tentang figur seperti Abdullah bin Saba’. Propaganda menyebar cepat. Fitnah berubah jadi keyakinan.


Para sahabat siap membela. Ali mengirim Hasan dan Husain berjaga. Para pemuda Anshar menghunus pedang. Satu perintah dari Utsman saja, Madinah bisa berubah jadi medan perang. Tapi ia menolak. “Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang menumpahkan darah umat setelah Rasulullah.” Ia memilih bersabar. Pilihan yang terdengar lembut, tapi sesungguhnya seberat gunung.


Jumat, 18 Dzulhijjah 35 H. Ia berpuasa. Duduk membaca mushaf di rumahnya bersama istrinya, Nailah. Karena rasa malunya, ia tetap mengenakan seluar agar aurat tak terbuka bahkan saat dibunuh. Rumahnya diterobos. Muhammad bin Abu Bakr sempat mencengkeram jenggotnya, namun mundur setelah diingatkan dengan lembut tentang ayahnya. Tapi yang lain tak berhenti.


Kinanah bin Bisyr memukul kepalanya dari belakang. Sudan bin Humran menebas lagi. Amr bin al-Hamiq duduk di dadanya dan menusuk perutnya enam hingga sembilan kali. Nailah melindungi suaminya, jari-jarinya terpotong oleh tebasan. Darah mengalir. Menetes ke mushaf yang sedang dibaca, pada ayat-ayat tentang kesabaran.


Di situlah judul ini menemukan maknanya, satu mushaf berdarah.


Ia wafat dalam keadaan puasa, usia 82 tahun. Syahid. Jenazahnya tertahan tiga hari sebelum dimakamkan diam-diam di Jannatul Baqi’. Tanpa upacara besar. Tanpa pengawalan megah. Hanya sunyi dan pilu.


Seorang khalifah yang membeli sumur untuk umat, memperluas masjid dengan hartanya sendiri, menyatukan mushaf agar tak ada perpecahan bacaan, akhirnya gugur oleh fitnah yang mengatasnamakan perbaikan. Ia bisa saja mempertahankan kekuasaan dengan pedang. Tapi ia memilih mempertahankan persatuan dengan nyawanya.


Empat puluh hari pengepungan itu bukan sekadar episode sejarah. Itu retakan pertama dalam tubuh umat yang dampaknya terasa berabad-abad. Setiap kali mushaf Utsmani dibaca hari ini, ada jejak darah seorang lelaki tua yang memilih kesabaran dari perang saudara.


Empat puluh hari dikepung. Satu mushaf berdarah. Sebuah kesabaran yang tak pernah benar-benar mati.


Foto Ai hanya ilustrasi



Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

Senin, 23 Februari 2026

Tata Cara Mandi Junub

 🛁 Tata Cara Mandi Junub

1️⃣ Niat di dalam hati

Niat cukup di hati, tidak harus dilafalkan.

Contoh niat dalam hati:

Saya niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.

2️⃣ Membersihkan kedua tangan

Cuci tangan 3 kali sebelum menyentuh bagian tubuh lain.

3️⃣ Membersihkan kemaluan dan kotoran

Bersihkan bagian depan & belakang dengan tangan kiri sampai benar-benar bersih.

4️⃣ Berwudu seperti wudu mau shalat

Lakukan wudu lengkap:

Cuci tangan

Kumur & bersihkan hidung

Basuh wajah

Basuh tangan sampai siku

Usap kepala

Basuh kaki

👉 Boleh menunda membasuh kaki sampai akhir mandi jika lantai licin/kotor.

5️⃣ Menyiram kepala 3 kali

Pastikan air sampai ke kulit kepala dan pangkal rambut.

Bagi yang rambut tebal, sela-selai dengan jari.

6️⃣ Menyiram seluruh tubuh

Siram dan ratakan air ke seluruh tubuh tanpa ada bagian yang kering, mulai dari:

➡️ Sisi kanan

➡️ Sisi kiri

Jangan lupa bagian yang sering terlewat:

✔️ Lipatan telinga

✔️ Ketiak

✔️ Pusar

✔️ Belakang lutut

✔️ Sela jari kaki & tangan

7️⃣ Membasuh kaki (jika belum saat wudu)

Terakhir, cuci kedua kaki sampai bersih.




✅ Setelah mandi junub

Jika semua tubuh sudah terkena air dengan niat mandi wajib, maka:

✔️ Sudah suci dari hadas besar

✔️ Bisa langsung shalat tanpa wudu lagi (jika wudunya tidak batal selama mandi)

#tips #doa #tipsandtrick

Menginspirasi

 Pada awal tahun 1992, sebuah ambisi besar tengah menyala di dada lima pendaki Mapala Universitas Indonesia (UI). Mereka sedang merangkai sejarah untuk menjadi tim Indonesia pertama yang menaklukkan Seven Summits, tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.


Portofolio mereka sudah gilang-gemilang. Bendera Merah Putih dan Mapala UI telah berhasil mereka tancapkan di Carstensz Pyramid (1973), Kilimanjaro (1985), McKinley (1989), dan Elbrus (1990). Target kelima mereka adalah Gunung Aconcagua (6.959 mdpl) di Argentina, puncak tertinggi di Benua Amerika.


Tim ini dipimpin oleh sosok legendaris, Norman Edwin (37) sang pelopor pendakian gunung yang berjuluk "Beruang Gunung", sekaligus jurnalis Kompas yang tulisan-tulisannya telah menginspirasi ribuan anak muda Indonesia untuk mencintai alam bebas. Bersamanya turut serta Didiek Samsu (31), pendaki tangguh dan rekan penulis, serta tiga pendaki muda: Rudy Nurcahyo (24), Dian Hapsari (24), dan M. Fayez (23). Ekspedisi ini memikul idealisme literasi yang kuat; mereka tidak sekadar mendaki, tetapi merekam jejak untuk diceritakan kembali kepada bangsa.


Pada 7 Februari 1992, perjalanan dimulai. Setelah mengurus perizinan di Santiago, Cile, mereka tiba di Puente del Inca, kaki Gunung Aconcagua, bersiap menembus zona es dan salju abadi.


I. Harga Sebuah Persahabatan


Alih-alih memilih rute normal yang landai namun panjang, Norman memimpin tim menantang maut melewati jalur Gletser Polandia rute tebing es yang curam, sangat teknis, dan berisiko tinggi. Semuanya berjalan sesuai rencana hingga petaka pertama menyergap di ketinggian kritis, sekitar 6.100 hingga 6.400 mdpl.


M. Fayez tergelincir hebat di lereng es yang terjal. Tangannya patah dan kakinya cedera parah, membuatnya lumpuh di tengah gunung.


Di sinilah karakter sejati sang pemimpin teruji. Melihat sahabatnya tak berdaya, Norman Edwin dan Rudy Nurcahyo mengambil keputusan krusial: membatalkan summit attack dan memprioritaskan nyawa. Mereka menginstruksikan pendaki lain turun ke kemah utama, sementara Norman dan Rudy mengevakuasi Fayez.


Membawa rekan yang cedera di tebing es vertikal adalah mimpi buruk. Selama lima hari berturut-turut, mereka terperangkap badai salju dan suhu mematikan demi membawa Fayez turun perlahan-lahan. Evakuasi itu berhasil menyelamatkan nyawa Fayez, namun bayarannya amat mahal. Di rumah sakit Mendoza, Argentina, pisau bedah harus bekerja. Norman kehilangan satu ruas jari tengah tangan kirinya akibat radang beku (frostbite), sementara Rudy harus merelakan beberapa ruas jari telunjuk dan tengahnya diamputasi.


II. Kembali Menantang Badai


Logika awam akan mengatakan ekspedisi telah usai. Fisik mereka hancur, dan jari sang pemimpin baru saja dipotong. Namun, dorongan psikologis untuk menuntaskan misi Seven Summits menolak tunduk.


Pada 11 Maret 1992, dengan perban amputasi yang belum sepenuhnya mengering, Norman Edwin dan Didiek Samsu memutuskan kembali ke gunung berdua. Kali ini, menyadari fisik yang terkuras, mereka memilih Ruta Normal masuk melalui Plaza de Mulas (4.300 mdpl).


Mereka merangsek naik, melewati Nido de Cóndores, dan mencapai kamp terakhir di elevasi nyaris 6.000 mdpl. Di titik inilah pelindung bebatuan berakhir. Mereka sepenuhnya terbuka terhadap cuaca dari Samudra Pasifik. Saat mereka mencoba melakukan serangan ke puncak, Aconcagua melepaskan murkanya yang paling mematikan: fenomena badai El Viento Blanco (Angin Putih).


Badai ini menghantam dengan kecepatan di atas 150 km/jam. Suhu anjlok seketika hingga menyentuh -40°C. Salju tebal berterbangan menciptakan whiteout, membutakan pandangan, dan menyatukan langit dan bumi dalam warna putih yang mematikan. Oksigen yang tipis di ketinggian ekstrem membuat tubuh mereka tak mampu lagi memproduksi panas. Setiap tarikan napas adalah pertarungan melawan kematian seluler.


III. Kesunyian di Reruntuhan Kayu


Hingga tanggal 22 Maret 1992, batas waktu mereka untuk lapor kembali di titik awal telah terlewati. Kedutaan Besar RI di Argentina segera mengaktifkan alarm diplomatik. Tim SAR dari Pertahanan Sipil Mendoza dikerahkan ke tengah ganasnya sisa badai untuk menyisir jalur turun.


Pada hari-hari terakhir bulan Maret, di ketinggian 6.400 mdpl, tim SAR menemukan sebuah puing pondok kayu tanpa atap bernama Refugio Independencia. Di reruntuhan yang berselimut salju itu, terbujur sesosok tubuh yang telah membeku kaku. Ia adalah Didiek Samsu.


Didiek gugur sendirian dalam pelukan hipotermia akut. Fakta bahwa ia berada di sana menyisakan sebuah kesimpulan yang menyayat hati: Didiek sudah tak sanggup melangkah, dan Norman sebagai pemimpin meninggalkannya di satu-satunya tempat berlindung terdekat, untuk mencoba mencari bantuan, atau mungkin, menembus badai itu sendirian.


IV. Titik Akhir Sang Legenda


Pertanyaan tentang nasib sang "Beruang Gunung" akhirnya terjawab pada 3 April 1992 lewat sebuah kawat teleks yang dikirimkan ke posko krisis di Jakarta.


Tubuh Norman Edwin ditemukan di Canaleta, sebuah lorong curam yang menguras tenaga di elevasi 6.650 mdpl hanya berjarak sekitar 300 meter vertikal lagi menuju puncak impiannya. Kondisi penemuannya menggetarkan setiap nurani yang mendengarnya.


Norman ditemukan telah membeku di atas tumpukan salju. Posisinya telungkup, menghadap lurus ke arah puncak. Ia tidak mati dalam keadaan menyerah atau mencoba lari turun dari badai. Ia memaksakan tubuhnya merangkak naik hingga detik terakhir nyawanya ditarik oleh dingin. Tangannya masih menancap, menggenggam erat sebuah kapak es.


Di punggungnya, ransel merah itu masih menempel. Saat dibuka oleh tim penyelamat, di dalamnya tersimpan rapi bendera Mapala UI dan Sang Saka Merah Putih, menunggu untuk dikibarkan.


V. Warisan yang Tak Membeku


Jenazah kedua pahlawan pegunungan ini akhirnya dievakuasi dari ketinggian yang nyaris mustahil itu dan diterbangkan pulang ke Jakarta pada akhir April 1992. Mereka disambut dengan tangis dan penghormatan luar biasa sebelum dimakamkan di Tanah Air. Di Argentina, nama mereka diabadikan di sebuah plakat logam keperakan di Cementerio del Andinista, sebuah pemakaman pendaki di kaki Pegunungan Andes.


Tragedi ini memang menghentikan misi Seven Summits Indonesia selama hampir dua dekade, namun ia melahirkan warisan yang jauh lebih besar. Dari ransel mereka, gulungan roll film fotografi dan jurnal tulisan tangan berhasil diselamatkan dari suhu minus. Artefak itu direstorasi menjadi sebuah mahakarya literatur berjudul "Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam". Buku itu menjadi saksi bisu hari-hari terakhir mereka, sekaligus "kitab suci" bagi generasi petualang Indonesia berikutnya.


VI. Refleksi


Kisah Norman Edwin dan Didiek Samsu di Aconcagua adalah epos tentang kemenangan jiwa di atas kekalahan raga. Mereka mengajarkan bahwa ambisi terbesar sekalipun tidak boleh mengalahkan kesetiaan pada sahabat, terbukti dari ruas jari yang mereka relakan di percobaan pertama.



Saat jasad Norman ditemukan menatap puncak dengan genggaman pada kapak esnya, semesta seolah memotret sebuah pesan abadi: Kehormatan sejati bukanlah semata-mata soal berhasil menginjakkan kaki di puncak kemuliaan, melainkan soal keberanian untuk tidak berbalik arah, dan terus berjuang walau takdir telah bersiap menutup usia. Mereka tidak gagal; mereka memindahkan letak puncak itu dari atas awan, ke dalam relung hati sejarah bangsa ini.

Jumat, 20 Februari 2026

Mengislamkan Ribuan Warga Papua

 Jihad Literasi dari Ujung Timur: Bagaimana Ustadz Fadlan Garamatan Mengirim Ribuan Anak Papua Menjemput Impian.


Perjalanan hidup M. Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan adalah bukti bahwa karakter pemimpin sejati ditempa oleh kerja keras. Meski lahir dari garis keturunan bangsawan di Fak-Fak, beliau memilih jalan kemandirian saat merantau ke Makassar. Titik awal perjuangannya terekam jelas saat ia menempuh studi di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin pada tahun 1980-an. Tanpa berpangku tangan pada kekayaan orang tua, Fadlan muda membiayai kuliahnya sendiri dengan menarik gerobak dorong berjualan minuman ringan, sebuah pengalaman yang membentuk mentalitas pantang menyerahnya.


Kedekatannya dengan organisasi mahasiswa seperti HMI dan aktivitas di Masjid Raya Makassar menjadi titik balik yang memperluas pandangan dunianya. Fadlan tidak hanya ingin sukses secara pribadi; ia merasa memiliki utang budi pada tanah kelahirannya. Ia melihat bahwa banyak saudara-saudaranya di pedalaman Papua yang masih hidup dalam ketertinggalan, bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena minimnya akses terhadap peradaban dan pendidikan yang layak.



Setelah menyelesaikan studinya, ia memutuskan untuk mewakafkan hidupnya bagi tanah Papua melalui Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN). Dakwah yang beliau jalankan sangat unik; ia masuk ke pedalaman bukan hanya membawa kitab suci, tapi juga membawa sabun, pakaian, dan obat-obatan. Beliau memahami bahwa untuk menyentuh hati seseorang, kita harus terlebih dahulu peduli pada kebutuhan dasarnya. Pendekatan kemanusiaan ini berhasil merangkul ratusan suku, mengubah pola hidup menjadi lebih bersih dan sehat tanpa menghilangkan identitas lokal mereka.


Visi besar Ustadz Fadlan melampaui sekadar ceramah di mimbar. Ia secara konsisten mengirimkan ribuan anak-anak asli Papua untuk bersekolah di berbagai pesantren dan universitas di Jawa dan daerah lainnya. Harapannya satu: agar mereka kembali ke Papua menjadi motor penggerak pembangunan. Baginya, dakwah adalah tentang menciptakan dokter, guru, dan pemimpin masa depan yang memiliki iman yang kokoh sekaligus keahlian profesional yang mumpuni.


Kepedulian beliau terhadap kedaulatan bangsa juga terlihat dari caranya menanamkan rasa cinta tanah air di pelosok Papua. Beliau sering kali menegaskan bahwa Islam dan rasa nasionalisme harus berjalan beriringan. Di bawah asuhannya di Pondok Pesantren AFKN, para santri didik untuk menjadi pribadi yang inklusif, menghargai keberagaman, dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia dari ufuk timur.


Kisah Ustadz Fadlan Garamatan memberikan pelajaran berharga bagi kita semua bahwa sebuah perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Keberaniannya menyusuri hutan rimba selama berbulan-bulan demi sebuah misi kemanusiaan menunjukkan bahwa ketulusan adalah bahasa yang paling mudah dipahami oleh siapa pun. Perjalanannya menginspirasi kita untuk tidak pernah memandang remeh perjuangan seseorang dalam mengangkat martabat sesama manusia.


Semangat pengabdian beliau menjadi pengingat bagi setiap anak bangsa bahwa kemajuan sebuah daerah adalah tanggung jawab bersama. Dengan ilmu dan kasih sayang, tantangan seberat apa pun—termasuk keterasingan geografis—bisa dijembatani. Kisah "Putra Papua" ini mengajak kita untuk terus menebar manfaat secara universal, melintasi batas suku dan budaya, demi masa depan bangsa yang lebih gemilang.


Sumber: Biografi Tokoh Ternama - "Profil Ustadz Fadlan Garamatan - Ulama Asli Papua Yang Mengislamkan Ribuan Warga Papua"

Ulama Vokal

 Mengenang Ustaz Tengku Zulkarnain: Sosok Pendakwah Vokal yang Tak Pernah Gentar Menyuarakan Prinsip.



Lahir di Medan pada 14 Agustus 1963, Tengku Zulkarnain mewarisi darah bangsawan Melayu Deli dan Riau yang kental. Sejak kecil, ia adalah sosok yang penuh warna; di satu sisi ia sangat tekun belajar Al-Qur'an sejak usia empat tahun, namun di sisi lain ia memiliki bakat seni yang luar biasa. Masa remajanya diwarnai dengan petikan gitar dan alunan suara yang membawanya menjadi juara menyanyi di RRI dan TVRI Medan. Prestasi seninya bahkan sempat membawanya ke panggung profesional sebagai penyanyi kontrak di sebuah tempat ternama di Medan. Namun, sebuah panggilan jiwa pada tahun 1986 mengubah segalanya; ia memutuskan berhenti total dari dunia musik dan membuang alat-alat musiknya ke sungai sebagai simbol keseriusannya berpindah ke jalur agama.


Pendidikan formalnya justru ditempuh di jalur yang mungkin tidak disangka banyak orang: Sastra Inggris di Universitas Sumatera Utara. Latar belakang akademis ini membawanya menjadi dosen di almamaternya, membuktikan bahwa seorang dai bisa memiliki wawasan inklusif yang melampaui batas-batas tradisional. Kecerdasannya dalam manajemen juga terlihat saat ia dipercaya menduduki jabatan direktur di berbagai lembaga pendidikan dan keuangan syariah. Kemampuan manajerial ini kelak menjadi modal berharga saat ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal MUI periode 2015-2020, di mana ia berperan aktif dalam mengelola urusan keumatan secara nasional.


Kehidupan Ustaz Tengku tidak pernah jauh dari riak kontroversi yang melambungkan namanya di media sosial. Ia dikenal sebagai pendakwah yang ceplas-ceplos dan sangat berani dalam melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Mulai dari pandangannya tentang lokasi ibu kota baru hingga aksi-aksi bela Islam yang ia ikuti, ia selalu konsisten berdiri di barisan yang ia yakini benar. Meski sering mendapat penolakan di beberapa daerah, ia tetap tegar melangkahkan kaki dari mimbar ke mimbar, mengajak masyarakat untuk kembali pada ajaran Islam yang ia pelajari dari guru-guru besar seperti Syaikh Dahlan Musa.


Integritasnya sebagai penulis juga terukir melalui karyanya yang berjudul Salah Faham, sebuah bentuk jawaban intelektual atas dinamika pemikiran Islam di Indonesia. Ia adalah bukti bahwa dakwah bisa disampaikan melalui berbagai saluran—tulisan, cuitan di Twitter, hingga orasi di lapangan terbuka. Bagi para pengikutnya, ia adalah singa podium yang mampu membangkitkan semangat; sementara bagi para pengkritiknya, ia adalah sosok yang selalu memantik ruang debat yang panas namun inklusif bagi perkembangan demokrasi di tanah air.


Kepergiannya pada 10 Mei 2021 di Pekanbaru akibat COVID-19 meninggalkan lubang yang cukup besar dalam peta dakwah di Indonesia. Ia berpulang di usia 57 tahun, tepat saat ia masih aktif melakukan perjalanan syiar. Kisah hidupnya memberikan pesan universal bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih jalannya, dan setiap pilihan menuntut konsekuensi berupa keteguhan prinsip. Ia mengajarkan kita bahwa latar belakang apa pun—baik itu musisi maupun ahli bahasa—bisa menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan pesan kebaikan jika dibarengi dengan ketulusan.


Hingga saat ini, jejak digital dan pemikiran Tengku Zulkarnain tetap sering menjadi bahan diskusi. Beliau adalah pengingat akan masa di mana suara-suara kritis dari kalangan ulama menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika bangsa. Warisannya adalah semangat untuk tidak pernah takut bicara, asalkan berlandaskan pada keyakinan yang kuat. Beliau telah menyelesaikan babak kehidupannya dengan cara yang paling ia cintai: berdakwah hingga napas terakhir, meninggalkan memori tentang seorang putra Melayu yang berani mewarnai sejarah Nusantara.


Sumber: Wikipedia - "Tengku Zulkarnain"


#TengkuZulkarnain #UlamaVokal #MUI #SejarahDakwah #TokohMelayuDeli #SastraInggrisUSU #KisahInspiratif #SyiarIslam #KontroversiTokoh #IslamIndonesia

Tanpa Digaji

 Tidak banyak yang mengenalnya.


Namun di Jayawijaya, Papua,

namanya dikenal oleh para ibu

dan anak-anak yang ia ajar.



Semangatnya tidak mengendur,

bahkan ketika dirinya sedang hamil.


Ia tetap aktif,

tetap hadir,

tetap menjalankan perannya.



Setelah buah hatinya lahir,

Ia tidak berhenti.


Setiap pekan,

ia mengajar para ibu dan anak-anak,


mengaji,

membaca,

dan belajar dasar-dasar agama.



Semua itu ia lakukan

di tengah kesibukannya

melanjutkan pendidikan di Wamena.



Ia juga tak ragu

mengantar dan menjemput para ibu


agar dapat kembali ke honai

(rumah khas suku Baliem),


meskipun jaraknya tidak dekat.



Perjuangan itu

akhirnya berbuah manis.


BSMI Jayawijaya,

bersama pihak terkait,


memberikan dedikasi 

berupa perjalanan umrah.



“Alhamdulillah,

beliau terpilih untuk umrah gratis,”

demikian disampaikan

melalui akun resmi BSMI Jayawijaya.




Kisah ini kemudian

menyita perhatian publik,


dan sampai ke telinga

berbagai kalangan masyarakat Papua.



Aminatus Sadiyah,

seorang Muslimah Papua asli,

berasal dari Lembah Baliem,

Desa Wosilimo,

Wamena, Papua.


yang tetap berjalan,


mengajar,

dan mengabdi,


tanpa banyak bicara.


---


AJR

Kamis, 19 Februari 2026

Al Fatihah Buat Pak Kades

 Sebuah kisah menyentuh datang dari Sungai Ngreneng, Gunungkidul.

Seorang dukuh muda, Wahyu Ristanto (25) dari Semono Wetan, Kalurahan Dadapayu, Semanu, Gunungkidul, gugur setelah menyelamatkan dua mahasiswi KKN yang terseret arus saat berenang.



“Pak dukuh kemudian menolong kedua KKN tersebut. Setelah berhasil menyelamatkan mereka, namun nahas Pak Dukuh tidak selamat,” ujar Kapolsek Semanu AKP Pudjijono.


Wahyu berhasil memastikan kedua mahasiswi itu selamat ke tepi. Tetapi setelah aksi heroiknya… ia sendiri hilang dan kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal.


💔 Ia pergi sebagai pahlawan.

💔 Ia memilih menolong tanpa ragu.

💔 Keberaniannya jadi kisah yang akan dikenang warga dan para mahasiswa.


Kenapa Kisah Ini Penting Kita Bagikan?


✔ Mengingatkan bahwa pahlawan tak selalu berseragam

✔ Mengajarkan keberanian dan kemanusiaan

✔ Menguatkan keluarga dan warga yang ditinggalkan

✔ Mengingatkan pentingnya keselamatan di area sungai


Turut berduka sedalam-dalamnya untuk keluarga dan warga Semanu.


Semoga kebaikan dan keberanian Wahyu menjadi amal yang tak terputus. 🙏


“Tidak semua pahlawan memakai jubah — sebagian hadir sebagai tetangga yang selalu siap menolong.”


Jika kamu merasa kisah ini penting, bantu bagikan agar lebih banyak orang mengenang keberaniannya.


❤️ Like

💬 Tulis doa dan dukungan

↗️ Share untuk menginspirasi yang lain


#Gunungkidul #Semanu #SungaiNgreneng #MahasiswiKKN #DukuhSemanu #WahyuRistanto #AksiHeroik #Pengorbanan #Kemanusiaan #DoaTerbaik #TurutBerduka #KisahNyata #InspirasiHidup #ViralJogja #InformasiYogyakarta #KisahViral #Jogja

Maling Berkedok Gizi (MBG)

 Gelombang intimidasi terhadap Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) kian meluas dan menyasar lingkar terdekat pimpinan organisasi.



Setelah melontarkan kritik keras terhadap pemerintah, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mengungkap dirinya, ibu kandungnya, hingga puluhan pengurus menjadi target teror digital yang terstruktur dan masif.


Rangkaian teror tersebut tidak hanya menyerang secara personal, tetapi juga menyentuh ranah keluarga.


Tiyo membeberkan bahwa sang ibu menerima pesan intimidatif pada waktu yang dinilai sangat sensitif, yakni tengah malam.


Serangan itu disebutnya sebagai bentuk teror psikologis yang dirancang untuk menimbulkan ketakutan.


“Kalau update terakhir ada dua kali, tengah malam. Luar biasa terorisnya ini tahu waktu yang paling rentan bagi ibu saya untuk cukup punya rasa takut yaitu tengah malam ketika ibu pasti dalam suasana batin yang tidak stabil gitu,” kata Tiyo dalam zoom meeting, Selasa (17/2/2026).


Menurut Tiyo, pesan yang diterima ibunya berisi tuduhan serius terkait dugaan penggelapan uang selama dirinya menjabat sebagai Ketua BEM UGM.


Narasi tersebut dikemas dalam bentuk fitnah yang menyerang integritasnya sebagai pimpinan mahasiswa.


“Pesannya yang pertama adalah bahwa ‘anakmu, Tiyo Ardianto, itu sebagai Ketua BEM dia nilep uang’. Yang kedua adalah bahwa ada berita orang tua Ketua BEM UGM kecewa karena anaknya nilep uang gitu,” ujarnya.


Tuduhan itu berdampak langsung pada kondisi psikologis sang ibu. Tiyo menyebut ibunya yang tinggal di desa dengan latar belakang pendidikan terbatas mengalami ketakutan mendalam setelah menerima pesan tersebut.


“Dua pesan itu yang sampai ke ibu saya dan ibu saya secara verbal tanpa saya tanya mengatakan bahwa ibu cukup takut, ibu takut,” imbuhnya.


Teror terhadap keluarga disebut bukan satu-satunya bentuk intimidasi. Sekitar 20 hingga 30 pengurus BEM UGM lainnya juga menerima pesan serupa dari nomor tak dikenal pada pertengahan Februari 2026.


Isi pesan itu identik, yakni menuding adanya praktik korupsi dan penggelapan dana di internal organisasi mahasiswa tersebut.


“Kira-kira tanggal 15 (Februari 2026) sekitar 20 sampai 30 pengurus BEM UGM menerima teror juga dari nomor tidak dikenal yang pesannya juga sama dengan apa yang diterima oleh ibu bahwa ‘Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang’,” paparnya.


Selain serangan berbasis pesan singkat, Tiyo juga mengaku menerima teror digital melalui media sosial.


Ia mendapatkan pesan dari nomor dengan kode negara Inggris Raya (+44), yang menambah daftar panjang intimidasi lintas kanal digital.


Tak berhenti di situ, ia juga mengaku mengalami dugaan ancaman fisik berupa penguntitan oleh sosok berbadan tegap di ruang publik.


Bahkan, muncul ancaman pembunuhan yang mencatut nama lembaga negara melalui pihak ketiga, yang dinilai sebagai upaya sistematis menebar paranoia.


Upaya pembunuhan karakter turut dilakukan dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Konten manipulatif yang menyerang kehidupan pribadinya beredar di ruang digital.


Tiyo difitnah terkait orientasi seksual hingga dituding sebagai pelanggan hiburan malam, tudingan yang disebutnya sebagai bagian dari serangan terorganisir untuk merusak reputasi.


Seluruh rangkaian intimidasi tersebut dinilai Tiyo sebagai bentuk kepengecutan rezim di tengah absennya jaminan perlindungan kebebasan akademik.


Ia menegaskan, tekanan dan teror tidak akan menghentikan langkah BEM UGM dalam menyuarakan kritik dan mengawal isu publik.


“BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu untuk dikawal,” tandasnya.


Sorotan juga datang dari kalangan akademisi. Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki, menilai teror digital yang menyasar Tiyo dan keluarganya mencerminkan rendahnya indeks keamanan digital di Indonesia.


Menurutnya, pola serangan yang mencakup pembongkaran data pribadi, disinformasi, hingga dugaan pengawasan digital menunjukkan adanya operasi yang terorganisir.


“Ada surveillance, ada pembongkaran data pribadi, ada disinformasi. Ini bukan hanya menunjukkan keamanan digital yang sangat rentan, tapi ini bagian dari konspirasi negara untuk meredam kritik melalui platform digital,” tegas Masduki.


Kasus intimidasi terhadap Ketua BEM UGM dan puluhan pengurus ini menjadi sorotan serius terkait isu keamanan digital, kebebasan berpendapat, serta perlindungan terhadap aktivisme mahasiswa.


Di tengah meningkatnya teror digital dan ancaman fisik, BEM UGM menyatakan akan memperketat solidaritas internal demi memastikan keselamatan seluruh pengurus dari ancaman yang dinilai semakin sistematis.

BRIMOB

 Komisi Pencari Fakta (KPF) Masyarakat Sipil menyatakan kematian pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, pada 28 Agustus 2025 bukanlah kecelakaan, melainkan pembunuhan. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/2).



“Kami memang menetapkan ini sebagai pembunuhan. Berdasarkan saksi mata, setelah lindasan pertama pada pukul 19.27 WIB, rantis Brimob sempat berhenti sekitar 7 detik. Saat itu warga sudah mengerubungi rantis agar berhenti, namun kendaraan tersebut justru kembali maju dan melindas korban untuk kedua kalinya,” ungkap Ravio saat konferensi pers.


Ravio menjelaskan, Affan masih dalam kondisi sadar setelah lindasan pertama. Namun, korban mulai memuntahkan darah setelah lindasan kedua terjadi. Affan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), tetapi nyawanya tidak tertolong.


“Affan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 19.58 WIB di RSCM. Inilah data yang ditemukan Komisi sebagai pemicu meledaknya kekerasan di hari-hari berikutnya,” kata Ravio.


KPF menyebut kesimpulan tersebut diambil berdasarkan penelusuran lapangan, keterangan saksi, serta analisis sejumlah bukti yang dihimpun tim investigasi masyarakat sipil. Komisi juga mendesak agar proses penyelidikan dilakukan secara transparan dan akuntabel.


Kasus ini sebelumnya memicu gelombang demonstrasi di sejumlah daerah, dengan tuntutan agar penanganan perkara dilakukan secara profesional dan terbuka kepada publik.


Sumber: Media Indonesia, Suaracom, Tirto

Rabu, 18 Februari 2026

Teknik Packing

 🎒 Cara Packing Carrier yang Benar = Mendaki

Lebih Nyaman & Aman


Packing carrier bukan soal muat banyak, tapi penempatan yang tepat. Barang berat sebaiknya berada di bagian tengah dan dekat punggung agar beban seimbang.

Barang ringan & sering dipakai taruh di bagian atas, sementara perlengkapan empuk seperti sleeping bag aman di bagian bawah.

Manfaatkan sisi samping untuk botol minum atau trekking pole, dan jangan lupa gunakan dry bag agar barang tetap kering.



Distribusi beban yang baik membantu:

✅ Mengurangi pegal & cedera

✅ Menjaga keseimbangan saat trekking

✅ Membuat perjalanan lebih efisien


Ingat, carrier yang rapi = energi lebih awet di jalur⛰️


Siap mendaki dengan nyaman!

Selasa, 17 Februari 2026

Bodoh

 Di Balik Surat BEM UGM untuk UNICEF: Nyawa Seharga Buku Tulis dan Teror yang Mengintai Tiyo Ardianto


Yogyakarta, 16 Februari 2026 — Di tengah riuh rendahnya wacana triliunan rupiah untuk program raksasa di ibu kota, sebuah kabar duka dari pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) menyeruak bak tamparan keras. Akhir Januari lalu, seorang bocah 10 tahun di Kabupaten Ngada memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis. Alasannya menyayat hati: sang ibu, seorang janda yang bekerja sebagai petani serabutan, tak sanggup memberinya uang sepuluh ribu rupiah untuk membeli buku dan pena.


​Tragedi itu mungkin berlalu begitu saja sebagai obituari pinggiran. Namun, di Yogyakarta, keputusasaan itu mengkristal menjadi sebuah perlawanan.


​Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) meradang. Di bawah kepemimpinan Ketua BEM Tiyo Ardianto, mereka mengambil langkah tak biasa. Alih-alih berteriak di depan gerbang istana, pada 6 Februari 2026, mereka melayangkan surat resmi melintasi batas negara—langsung kepada UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa).


​Diksi "Bodoh" yang Membakar Kontroversi


​Surat tersebut bukan sekadar laporan, melainkan sebuah proklamasi kekecewaan terhadap prioritas negara. Di dalamnya, tertulis sebuah kalimat tajam berbahasa Inggris yang kini menjadi episentrum perdebatan nasional:


​"Help us to tell Prabowo Subianto how stupid he is as president."


(Bantu kami beri tahu Prabowo Subianto betapa bodohnya dia sebagai presiden).


​Penggunaan kata "bodoh" jelas memantik kontroversi. Namun, Tiyo dan kabinetnya tidak asal jeplak. Mereka berdalih pada akar linguistik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), di mana "bodoh" juga bermakna "tidak tahu".


​Bagi para mahasiswa ini, sang kepala negara dinilai buta terhadap realitas sesungguhnya di akar rumput. Mereka menggugat ironi negeri ini: negara sibuk memoles statistik dan menjalankan mega-proyek, sementara di sudut lain, nyawa anak-anak melayang hanya karena absennya kehadiran negara pada kebutuhan paling dasar.


​Harga Sebuah Kritik: Bayang-Bayang Teror di Kota Pelajar


​Di Indonesia, kritik bernada tinggi jarang datang tanpa konsekuensi. Hanya berselang hari setelah surat itu viral, bayang-bayang teror mulai mengintai sang Ketua BEM.


​Sejak 9 Februari, ketenangan hidup Tiyo direnggut. Ponselnya dibanjiri pesan WhatsApp dari deretan nomor tak dikenal dengan kode negara Inggris (+44). Isinya bukan lagi sekadar cacian, melainkan ancaman penculikan dan tudingan serius bahwa dirinya adalah "agen asing penjual narasi sampah".


​Intimidasi itu keluar dari dunia maya dan mengambil wujud fisik. Di sebuah kedai kopi di sudut Yogyakarta, Tiyo mendapati dirinya diawasi dan difoto diam-diam oleh dua pria berpostur tegap. Saat ia mencoba bangkit dan mendekat, kedua sosok misterius itu raib ditelan keramaian jalanan. Puncaknya, pada momentum hari kasih sayang, 14 Februari, teror itu mengetuk pintu keluarganya. Sang ibunda dilaporkan turut menerima pesan bernada ancaman.


​Ujian Demokrasi di Simpang Jalan


​Kini, kasus ini telah melampaui batas persoalan surat menyurat. Rentetan teror ini memancing reaksi keras dari para akademisi dan Senayan. Komisi X DPR RI mulai angkat bicara, mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas intimidasi tersebut dan melindungi hak berekspresi mahasiswa.


​Kematian tragis bocah SD di NTT telah membuka kotak pandora tentang prioritas bangsa. Pertanyaannya kini, apakah negara akan menjawab kritik tajam BEM UGM dengan introspeksi kebijakan anggaran yang lebih berpihak pada rakyat miskin, atau justru membiarkan ancaman dan teror menjadi jawaban bisu atas suara-suara kritis dari kampus?



​Bagi Tiyo dan BEM UGM, pesan mereka sudah telanjur terbang ke ranah global. Dan dunia, kini ikut menatap bagaimana Indonesia memperlakukan anak-anak dan mahasiswa kritisnya.

Minggu, 15 Februari 2026

Mengenang Sang Maestro

 


Cucu Adam Malik Tokoh Bangsa

 Cucu Adam Malik yang Jadi Penjaga Ekonomi Bangsa: Mengenal Faisal Basri, Sang Ahli Reformasi Migas Berdarah Angkola


Dunia ekonomi dan politik Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya pada September 2024 lalu. Faisal Basri, atau yang memiliki nama lengkap Faisal Hasan Basri Batubara, adalah sosok yang lebih dari sekadar ekonom. Ia adalah cucu dari mendiang Wakil Presiden RI Adam Malik yang memilih jalan hidup sebagai penjaga nurani ekonomi bangsa. Dikenal sebagai pengamat yang sangat kritis, Faisal merupakan sosok yang dipercaya negara untuk memimpin reformasi besar di sektor tata kelola minyak dan gas bumi.


Titik awal kariernya dimulai dari kemandirian seorang pemuda yang harus membiayai kuliahnya sendiri setelah sang ayah wafat. Lahir di Bandung pada tahun 1959, Faisal merupakan pria berdarah Angkola (Mandailing) yang sangat gigih. Ia memulai langkahnya sebagai peneliti di LPEM-UI pada tahun 1981 demi bisa membayar uang kuliah. Kecerdasannya yang menonjol membuatnya terpilih masuk di tiga perguruan tinggi ternama sekaligus, namun ia memilih Ekonomi UI karena ketertarikannya pada isu ekonomi politik. Kegigihan ini membawanya meraih gelar Master dari Vanderbilt University, Amerika Serikat.


Titik balik yang mengukuhkan namanya sebagai tokoh bangsa terjadi saat ia mulai memegang peran-peran strategis untuk memperbaiki sistem negara. Dari seorang akademisi dan dosen senior, ia bertransformasi menjadi pengabdi negara yang berani. Karier pentingnya mencakup posisi sebagai anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas pada 2014, hingga yang terbaru sebagai anggota Satgas Tindak Pidana Pencucian Uang. Bahkan, ia pernah menunjukkan komitmennya pada suara rakyat dengan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta melalui jalur independen.



Hingga akhir hayatnya, Faisal Basri tetap setia pada jalur integritas. Ia membuktikan bahwa darah tokoh besar dari sang kakek, Adam Malik, tetap hidup dalam bentuk dedikasi yang tak tergoyahkan untuk kemajuan ekonomi Indonesia. Warisannya adalah teladan tentang bagaimana seorang intelektual harus bersikap jujur demi kepentingan orang banyak.


Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia - "Faisal Basri"


#MengenalFaisalBasri #EkonomSenior #TokohBangsa #BatakMandailing #MargaBatubara #CucuAdamMalik #ReformasiMigas #EkonomiIndonesia #InspirasiTokoh #PencucianUang

Sabtu, 14 Februari 2026

Kisah Lama Terkenang Lagi

 Kisah ini bermula pada senja yang temaram, 21 September 1970. Di sudut kota Yogyakarta yang mulai ramai, berdiri seorang gadis desa berusia 17 tahun bernama Sumarijem. Ia bukan siapa-siapa, hanya anak seorang petani kecil dari Godean yang menyambung hidup dengan berjualan telur ayam kampung.


Hari itu, dagangannya laris. Di saku kebayanya tersimpan uang sebesar Rp 4.650,-, sebuah jumlah yang cukup besar kala itu, hasil jerih payahnya seharian. Dengan hati lega, ia berdiri di sekitar Ngupasan, menunggu bus kota untuk pulang ke pelukan keluarga.


Namun, bus yang dinanti tak kunjung datang. Justru sebuah mobil mewah melambat dan berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, dan mimpi buruk pun dimulai. Sekelompok pemuda berpenampilan perlente, berambut gondrong, dan berpakaian rapi ciri khas anak orang kaya atau "anak gedongan" saat itu menyeretnya paksa masuk ke dalam mobil. Teriakan Sumarijem hilang ditelan deru mesin mobil yang tancap gas membelah keramaian Yogya.


I. Neraka Berjalan


Di dalam mobil yang berputar-putar tanpa tujuan itu, Sumarijem kehilangan segalanya. Sebuah kain berbau menyengat obat bius eter ditekankan ke hidungnya. Tubuhnya lemas, kesadarannya melayang, namun rasa sakit itu nyata.


Di atas kursi mobil yang mewah itu, kehormatan gadis penjual telur itu dirampas secara bergilir oleh para pemuda tersebut. Tak cukup menodai tubuhnya, mereka juga merampas uang hasil dagangan telurnya. Setelah puas melampiaskan nafsu binatangnya, mobil itu melaju ke arah Jalan Wates-Purworejo. Di sana, di tepi jalan yang gelap dan sepi, tubuh Sumarijem yang terkoyak dan memar dibuang begitu saja bagai sampah.


Malam itu, warga menemukannya merintih kesakitan. Ia dibawa ke RS PKU Muhammadiyah, membawa serta trauma yang akan menghantuinya seumur hidup.


II. Perkosaan Kedua oleh Hukum


Jika pemerkosaan fisik adalah tragedi pertama, maka apa yang terjadi selanjutnya adalah tragedi kedua yang lebih keji. Ketika Sumarijem melapor ke polisi dengan harapan mendapat keadilan, ia justru menghadapi tembok tebal kekuasaan.


Alih-alih memburu pemuda bermobil mewah itu, polisi Yogyakarta malah menahan Sumarijem. Aparat membangun narasi jahat: Sumarijem dituduh sebagai wanita tuna susila yang mengarang cerita pemerkosaan karena kurang bayaran dari pelanggannya.


Di ruang interogasi yang dingin, Sumarijem disiksa. Ia diancam akan disetrum, dipermalukan secara seksual, dan dipaksa mengaku bohong. Puncaknya, polisi menggunakan ayahnya yang tua sebagai sandera. "Kalau kamu tidak mengaku bohong, ayahmu tidak akan pulang," ancam penyidik. Demi menyelamatkan ayahnya, Sumarijem menyerah. Ia menandatangani kertas terkutuk itu: pengakuan bahwa ia telah menyebarkan berita bohong.


Tak cukup sampai di situ, stigma politik pun ditempelkan. Ia dituduh anggota Gerwani (sayap wanita PKI), tuduhan yang di era Orde Baru sama dengan hukuman mati perdata.



III. Sang Jenderal Turun Gunung


Namun, bangkai tak bisa selamanya ditutupi. Harian Kedaulatan Rakyat dan mahasiswa Yogyakarta mencium bau busuk ketidakadilan ini. Mereka berteriak lantang, "Siapa di balik pemerkosa Sum Kuning?" Berita ini mengguncang nasional hingga sampai ke telinga Kapolri di Jakarta, Jenderal Hoegeng Imam Santoso.


Hoegeng, polisi yang dikenal jujur dan tak mempan disuap, murka. Ia tahu ada anak buahnya yang "main mata" untuk melindungi orang kuat. Januari 1971, Hoegeng membentuk "Tim Pemeriksa Sum Kuning" dan mengambil alih kasus dari polisi lokal.


Sumpah Hoegeng menggema: "Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa."


IV. Sandiwara Kambing Hitam


Penyelidikan Tim Hoegeng mulai mengarah pada dugaan bahwa pelaku adalah anak-anak pejabat tinggi dan perwira militer di Yogyakarta. Panik dengan investigasi ini, polisi lokal tiba-tiba mengumumkan penangkapan pelaku: 10 pemuda yang disebut kelompok "Pakje".


Namun, ini adalah sandiwara yang buruk. Anggota Pakje adalah anak-anak miskin, penjual karcis bioskop, dan berambut cepak. Sangat berbeda dengan ciri-ciri "anak gedongan berambut gondrong" yang disebut Sumarijem. Di depan Tim Hoegeng, anggota Pakje bersujud dan menangis, mengaku bahwa mereka disiksa polisi Yogya untuk mengaku sebagai pelaku demi melindungi pelaku sebenarnya.


V. Benturan dengan Cendana


Ketika Hoegeng semakin dekat untuk membongkar siapa "anak pejabat" di balik kasus ini, tangan kekuasaan tertinggi bergerak. Presiden Soeharto memanggil Hoegeng ke Cendana.


Dengan dingin, Presiden memerintahkan agar kasus ini diserahkan ke Kopkamtib lembaga keamanan militer, bukan kepolisian. "Jenderal, urusan itu biar diselesaikan instansi lain saja," titah Soeharto.


Tak lama setelah itu, Hoegeng "dibuang". Ia ditawari menjadi Duta Besar di Belgia agar jauh dari Jakarta. Namun, Hoegeng menolak dengan harga diri tinggi: "Saya tidak bisa jadi dubes. Saya polisi." Akibatnya, pada 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan dini. Kariernya tamat karena ia terlalu jujur.


VI. Palu Hakim dan Keadilan yang Hilang


Tanpa Hoegeng, kasus ini dibawa ke pengadilan dengan skenario yang sudah "diamankan". Namun, di ruang sidang Pengadilan Negeri Yogyakarta, setitik cahaya muncul dari Hakim Lamya Moeljanto.


Hakim Lamya memvonis bebas Sumarijem dari tuduhan menyebarkan kabar bohong. Hakim meyakini pemerkosaan itu nyata. Di sidang lain, kelompok "Pakje" juga dibebaskan karena terbukti mereka hanyalah kambing hitam korban salah tangkap.


Secara hukum, Sumarijem bebas. Pakje bebas. Tapi pertanyaan besarnya tetap menggantung: Lantas, siapa pelakunya?


Para pemuda bermobil mewah, berambut gondrong, anak-anak pejabat itu tidak pernah duduk di kursi pesakitan. Mereka melenggang bebas, identitasnya terkubur rapat dalam "peti es" sejarah Orde Baru.


VII. Luka yang Tak Pernah Kering


Sumarijem akhirnya melanjutkan hidup, bekerja di RS PKU Muhammadiyah, tempat yang dulu merawat luka tubuhnya. Ia menikah dan mencoba melupakan masa lalu. Namun, sejarah mencatat namanya bukan hanya sebagai korban kejahatan seksual, tetapi sebagai saksi bisu bagaimana hukum di negeri ini pernah begitu tak berdaya di hadapan kekuasaan.


Kasus Sum Kuning mengajarkan kita sebuah pelajaran mahal: Bahwa kebenaran di pengadilan belum tentu berarti keadilan yang sejati. Dan di antara puing-puing ketidakadilan itu, nama Jenderal Hoegeng tetap abadi, mengingatkan kita bahwa pernah ada seorang polisi yang rela kehilangan jabatannya demi membela seorang penjual telur.

Rabu, 11 Februari 2026

Ekspedisi Mapala Stacia UMJ

 Ekspedisi Mapala Stacia UMJ di awal 90 an adalah ekspedisi kolosal yang dilakukan Stacia. Banyak melibatkan tenaga, pikiran, referensi yang jitu untuk melakukannya.

Kami terinspirasi dari Ekspedisi Sulawesi, mereka melakukan Poligon di seluruh Sulawesi, tercatat ada 12 Puncak Gunung yang ada di Sulawesi mampu ditapaki oleh para senior.

Berikut dokumentasi yang telah terangkum :










Khusus foto terakhir perjalanan saya tahun 2019 di Gunung Latimojong - Sulawesi.


Salam berbagi,

Fadlik Al Iman 

Semoga Pak Polisi Di Seluruh Indonesia Bisa Menjalankan Perannya

 Aksi Heroik Bocah 13 Tahun: Begal Pulang Jalan Kaki, Korban Pulang Naik Motor


Kalau ada pepatah “niat jahat sering kalah sama cicilan”, mungkin inilah contohnya.

Seorang bocah 13 tahun di Palembang, Wahid Al Hafis, mendadak naik level dari “anak main HP di pinggir jalan” menjadi “calon legenda kampung” setelah menggagalkan aksi pencurian dengan kekerasan. Bukan dengan jurus silat, bukan pula dengan teriakan ala film laga melainkan dengan tekad suci bernama takut dimarahi ibu.


Peristiwa ini terjadi Senin malam (9/2/2026), sekitar pukul 20.00 WIB, di Jalan Bungaran 4, Jakabaring. Waktu yang biasanya dipakai warga buat ngopi, scroll medsos, atau mengutuk sinyal internet.

Wahid saat itu sedang berjalan santai bersama teman-temannya. HP Realme A5 yang baru dua minggu lalu dibelikan sang ibu secara kredit menjadi teman setia. 

Belum lunas, 

masih anget, 

masih disayang.


Lalu datanglah pelaku begal, naik motor, berhenti sebentar, dan cling! HP berpindah tangan. Begitu cepatnya, seperti diskon kilat di e-commerce.

HP memang berhasil dirampas. Tapi pelaku rupanya lupa satu hal penting, anak ini punya beban moral bernama cicilan ibu.


Alih-alih pasrah atau nangis, saat pelaku menyambar HP-nya dan mencoba tancap gas, Wahid melakukan hal yang biasanya hanya dilakukan pemeran pengganti di film aksi. Ia melompat ke atas motor pelaku dan duduk manis di situ. 

Bukan minta bonceng. 

Bukan juga minta diantar pulang. 

Ia menjadi "penumpang gelap" yang sangat berisik.


Motor sempat melaju sekitar enam meter. Enam meter yang mungkin terasa seperti enam kilometer bagi pelaku.


Wahid berteriak minta tolong. Pelaku panik. Dalam kepanikan itu, pelaku bahkan sempat menusuk korban dengan senjata tajam. Tapi sekali lagi, pelaku salah hitung. Rasa sakit ternyata masih kalah oleh rasa takut menghadapi ibu di rumah.Di tengah situasi genting, Wahid melakukan manuver pamungkas mencabut kunci kontak motor.


Motor mati, 

Hukum gravitasi bekerja, 

Dan mereka terjatuh, 

Plot twist terjadi.


HP memang sudah raib, tapi motor pelaku tertinggal. Pelaku kabur. Pulang entah ke mana kemungkinan besar jalan kaki sambil merenungi nasib dan salah strategi hidup.


Wahid mengalami luka tusuk di lengan kanan, namun berhasil selamat. Ia dibantu warga dan langsung dibawa ke Polrestabes Palembang, lengkap dengan barang bukti motor pelaku.


Ibu Wahid, Hatipa (46), hanya bisa berharap satu hal pelaku segera ditangkap. Mungkin juga berharap cicilan HP tetap lanjut tanpa drama tambahan.


Pihak kepolisian membenarkan laporan tersebut dan menyatakan kasus masih dalam penyelidikan. Pelaku kini diburu. Motor sudah diamankan. HP? Entah sudah berpindah tangan, entah sudah dijual murah, atau entah masih jadi kenang-kenangan.


Peristiwa ini adalah potret getir sekaligus lucu tentang betapa berharganya sebuah barang cicilan di mata rakyat kecil. Wahid adalah simbol perlawanan terhadap kriminalitas yang didorong oleh rasa tanggung jawab (dan ketakutan) kepada orang tua. Namun, secara prosedural, tindakan ini sangat berbahaya dan tidak disarankan untuk ditiru, kecuali Anda memiliki tingkat keberuntungan dan kecepatan tangan seperti Wahid.


Dan untuk para pelaku kejahatan di luar sana, mungkin perlu catatan kecil, kalau mau begal, pastikan targetnya bukan anak yang HP-nya masih kredit.


---


Andrian Saputra 

10 Februari 2026

22 Sya'ban 1447 H


#Wahid #BegalPalembang #UpdatePalembang


Selasa, 10 Februari 2026

Dipanggil Menhan

 Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mengaku dihubungi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin untuk bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Kertanegara, Jakarta Selatan.


“(Dihubungi) Pak Menhan,” kata Abraham kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).


Dia mengaku diminta Sjafrie untuk membuat roadmap atau rancangan rencana perbaikan indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia. Sebab, IPK Indonesia pada 2024 terbilang cukup rendah yaitu 37.


“Saya sebelumnya diminta oleh Menhan buat Rodmap sebelum Pertemuan itu untk dismpaikan ke Presiden,” ujar Abraham.


Dalam pertemuan dengan Prabowo itu, Abraham mengaku memberikan masukan agar Indonesia mengubah strategi pemberantasan korupsi, yaitu dengan menjalankan amanah United Nations Convention Against Corruption (UNCAC).


“Kalau Anda lihat apa yang diamanahkan oleh United Nations Convention against Corruption

(UNCAC), itu dia mensyaratkan kalau IPK

mau naik secara drastis, maka harus menyentuh yang namanya judicial corruption,” kata Abraham Samad usai diskusi bertajuk ‘Profesionalisme Penegakan Hukum dan Pengaruhnya bagi Iklim Usaha’ bersama Suara.com di Hotel Manhattan Jakarta, Rabu (4/2/2026).


“Selain judicial corruption, ada empat lagi: foreign bribery, kemudian trading influence, kemudian illicit enrichment, dan yang keempat commercial bribery,” tambah dia.


Lebih lanjut, Abraham menegaskan kepada Prabowo agar tidak hanya bicara untuk memperbaiki IPK Indonesia ke depan.


“Makanya saya sudah sampaikan bahwa kita harus fokus ke lima hal tadi, ya dan tidak boleh omon-omon, saya sampaikan begitu, harus serius gitu ya, harus dikonkretkan dalam implementasi di lapangan,” tegas Abraham.



Menurut dia, pihak lain yang juga menghadiri pertemuan tersebut mengusulkan dilakukannya reformasi Kepolisian secara total dengan mengganti Kapolri.


“Mereka mengatakan bahwa reformasi Kepolisian tanpa mengganti pucuk pimpinan Polri itu sama saja dengan reformasi yang setengah hati,” tandas Abraham.

Kamis, 05 Februari 2026

Apa Kata Dino

 Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dino Patti Jalal, menyampaikan pandangan kritis terkait wacana kontribusi Indonesia sebesar Rp17 triliun untuk Board of Peace. Menurut Dino, angka tersebut terlalu besar jika dibandingkan dengan kapasitas fiskal Indonesia dan tidak memiliki preseden dalam sejarah diplomasi luar negeri RI.


Dino menegaskan bahwa sepanjang sejarah, Indonesia tidak pernah membayar dana sebesar itu untuk keanggotaan atau partisipasi dalam organisasi internasional mana pun. Ia membandingkan, Rp17 triliun setara dengan ratusan kali iuran tahunan Indonesia ke Sekretariat ASEAN, puluhan tahun iuran ke PBB, bahkan melebihi total anggaran tahunan Kementerian Luar Negeri.


Ia juga menyoroti minimnya perdebatan mendalam di DPR saat angka tersebut dibahas. Menurutnya, keputusan strategis dengan dampak besar terhadap keuangan negara semestinya melalui kajian komprehensif dan pengawasan legislatif yang ketat.


Terkait isu Palestina, Dino menekankan bahwa tidak pernah ada permintaan resmi dari otoritas Palestina agar Indonesia menyumbangkan dana sebesar Rp17 triliun. Ia menyatakan bahwa yang paling dibutuhkan Palestina dari Indonesia selama ini adalah dukungan politik, diplomatik, dan moral, bukan kontribusi dana dalam jumlah sangat besar.


Dino turut mengingatkan bahwa Board of Peace dipimpin oleh Donald Trump, dengan struktur kepemimpinan yang dinilainya berisiko karena kontrol organisasi bersifat terpusat dan tidak melibatkan perwakilan Palestina. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah akuntabilitas dan kepentingan politik jangka panjang.


Dalam konteks domestik, Dino menilai kondisi ekonomi Indonesia masih menghadapi berbagai tekanan, mulai dari keterbatasan ruang fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan daya beli masyarakat, hingga kebutuhan besar penanganan bencana alam di dalam negeri. Karena itu, ia menegaskan bahwa dana sebesar Rp17 triliun masih sangat dibutuhkan untuk kepentingan rakyat Indonesia sendiri.


Sebagai solusi, Dino menyarankan agar Indonesia tidak terburu-buru menggelontorkan dana besar dan cukup memberikan bantuan sesuai kemampuan fiskal. Ia juga menganjurkan agar Indonesia tetap menjadi anggota biasa Board of Peace, tanpa memaksakan diri menjadi anggota permanen yang berpotensi membatasi ruang gerak politik luar negeri Indonesia di masa depan.



Dino menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa politik luar negeri Indonesia seharusnya tetap berpijak pada kepentingan nasional dan prinsip kemanusiaan, bukan pada upaya menyenangkan kekuatan politik tertentu, serta tetap konsisten dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.