Gelombang intimidasi terhadap Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) kian meluas dan menyasar lingkar terdekat pimpinan organisasi.
Setelah melontarkan kritik keras terhadap pemerintah, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mengungkap dirinya, ibu kandungnya, hingga puluhan pengurus menjadi target teror digital yang terstruktur dan masif.
Rangkaian teror tersebut tidak hanya menyerang secara personal, tetapi juga menyentuh ranah keluarga.
Tiyo membeberkan bahwa sang ibu menerima pesan intimidatif pada waktu yang dinilai sangat sensitif, yakni tengah malam.
Serangan itu disebutnya sebagai bentuk teror psikologis yang dirancang untuk menimbulkan ketakutan.
“Kalau update terakhir ada dua kali, tengah malam. Luar biasa terorisnya ini tahu waktu yang paling rentan bagi ibu saya untuk cukup punya rasa takut yaitu tengah malam ketika ibu pasti dalam suasana batin yang tidak stabil gitu,” kata Tiyo dalam zoom meeting, Selasa (17/2/2026).
Menurut Tiyo, pesan yang diterima ibunya berisi tuduhan serius terkait dugaan penggelapan uang selama dirinya menjabat sebagai Ketua BEM UGM.
Narasi tersebut dikemas dalam bentuk fitnah yang menyerang integritasnya sebagai pimpinan mahasiswa.
“Pesannya yang pertama adalah bahwa ‘anakmu, Tiyo Ardianto, itu sebagai Ketua BEM dia nilep uang’. Yang kedua adalah bahwa ada berita orang tua Ketua BEM UGM kecewa karena anaknya nilep uang gitu,” ujarnya.
Tuduhan itu berdampak langsung pada kondisi psikologis sang ibu. Tiyo menyebut ibunya yang tinggal di desa dengan latar belakang pendidikan terbatas mengalami ketakutan mendalam setelah menerima pesan tersebut.
“Dua pesan itu yang sampai ke ibu saya dan ibu saya secara verbal tanpa saya tanya mengatakan bahwa ibu cukup takut, ibu takut,” imbuhnya.
Teror terhadap keluarga disebut bukan satu-satunya bentuk intimidasi. Sekitar 20 hingga 30 pengurus BEM UGM lainnya juga menerima pesan serupa dari nomor tak dikenal pada pertengahan Februari 2026.
Isi pesan itu identik, yakni menuding adanya praktik korupsi dan penggelapan dana di internal organisasi mahasiswa tersebut.
“Kira-kira tanggal 15 (Februari 2026) sekitar 20 sampai 30 pengurus BEM UGM menerima teror juga dari nomor tidak dikenal yang pesannya juga sama dengan apa yang diterima oleh ibu bahwa ‘Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang’,” paparnya.
Selain serangan berbasis pesan singkat, Tiyo juga mengaku menerima teror digital melalui media sosial.
Ia mendapatkan pesan dari nomor dengan kode negara Inggris Raya (+44), yang menambah daftar panjang intimidasi lintas kanal digital.
Tak berhenti di situ, ia juga mengaku mengalami dugaan ancaman fisik berupa penguntitan oleh sosok berbadan tegap di ruang publik.
Bahkan, muncul ancaman pembunuhan yang mencatut nama lembaga negara melalui pihak ketiga, yang dinilai sebagai upaya sistematis menebar paranoia.
Upaya pembunuhan karakter turut dilakukan dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Konten manipulatif yang menyerang kehidupan pribadinya beredar di ruang digital.
Tiyo difitnah terkait orientasi seksual hingga dituding sebagai pelanggan hiburan malam, tudingan yang disebutnya sebagai bagian dari serangan terorganisir untuk merusak reputasi.
Seluruh rangkaian intimidasi tersebut dinilai Tiyo sebagai bentuk kepengecutan rezim di tengah absennya jaminan perlindungan kebebasan akademik.
Ia menegaskan, tekanan dan teror tidak akan menghentikan langkah BEM UGM dalam menyuarakan kritik dan mengawal isu publik.
“BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu untuk dikawal,” tandasnya.
Sorotan juga datang dari kalangan akademisi. Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki, menilai teror digital yang menyasar Tiyo dan keluarganya mencerminkan rendahnya indeks keamanan digital di Indonesia.
Menurutnya, pola serangan yang mencakup pembongkaran data pribadi, disinformasi, hingga dugaan pengawasan digital menunjukkan adanya operasi yang terorganisir.
“Ada surveillance, ada pembongkaran data pribadi, ada disinformasi. Ini bukan hanya menunjukkan keamanan digital yang sangat rentan, tapi ini bagian dari konspirasi negara untuk meredam kritik melalui platform digital,” tegas Masduki.
Kasus intimidasi terhadap Ketua BEM UGM dan puluhan pengurus ini menjadi sorotan serius terkait isu keamanan digital, kebebasan berpendapat, serta perlindungan terhadap aktivisme mahasiswa.
Di tengah meningkatnya teror digital dan ancaman fisik, BEM UGM menyatakan akan memperketat solidaritas internal demi memastikan keselamatan seluruh pengurus dari ancaman yang dinilai semakin sistematis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar