Mengenang Ustaz Tengku Zulkarnain: Sosok Pendakwah Vokal yang Tak Pernah Gentar Menyuarakan Prinsip.
Lahir di Medan pada 14 Agustus 1963, Tengku Zulkarnain mewarisi darah bangsawan Melayu Deli dan Riau yang kental. Sejak kecil, ia adalah sosok yang penuh warna; di satu sisi ia sangat tekun belajar Al-Qur'an sejak usia empat tahun, namun di sisi lain ia memiliki bakat seni yang luar biasa. Masa remajanya diwarnai dengan petikan gitar dan alunan suara yang membawanya menjadi juara menyanyi di RRI dan TVRI Medan. Prestasi seninya bahkan sempat membawanya ke panggung profesional sebagai penyanyi kontrak di sebuah tempat ternama di Medan. Namun, sebuah panggilan jiwa pada tahun 1986 mengubah segalanya; ia memutuskan berhenti total dari dunia musik dan membuang alat-alat musiknya ke sungai sebagai simbol keseriusannya berpindah ke jalur agama.
Pendidikan formalnya justru ditempuh di jalur yang mungkin tidak disangka banyak orang: Sastra Inggris di Universitas Sumatera Utara. Latar belakang akademis ini membawanya menjadi dosen di almamaternya, membuktikan bahwa seorang dai bisa memiliki wawasan inklusif yang melampaui batas-batas tradisional. Kecerdasannya dalam manajemen juga terlihat saat ia dipercaya menduduki jabatan direktur di berbagai lembaga pendidikan dan keuangan syariah. Kemampuan manajerial ini kelak menjadi modal berharga saat ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal MUI periode 2015-2020, di mana ia berperan aktif dalam mengelola urusan keumatan secara nasional.
Kehidupan Ustaz Tengku tidak pernah jauh dari riak kontroversi yang melambungkan namanya di media sosial. Ia dikenal sebagai pendakwah yang ceplas-ceplos dan sangat berani dalam melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Mulai dari pandangannya tentang lokasi ibu kota baru hingga aksi-aksi bela Islam yang ia ikuti, ia selalu konsisten berdiri di barisan yang ia yakini benar. Meski sering mendapat penolakan di beberapa daerah, ia tetap tegar melangkahkan kaki dari mimbar ke mimbar, mengajak masyarakat untuk kembali pada ajaran Islam yang ia pelajari dari guru-guru besar seperti Syaikh Dahlan Musa.
Integritasnya sebagai penulis juga terukir melalui karyanya yang berjudul Salah Faham, sebuah bentuk jawaban intelektual atas dinamika pemikiran Islam di Indonesia. Ia adalah bukti bahwa dakwah bisa disampaikan melalui berbagai saluran—tulisan, cuitan di Twitter, hingga orasi di lapangan terbuka. Bagi para pengikutnya, ia adalah singa podium yang mampu membangkitkan semangat; sementara bagi para pengkritiknya, ia adalah sosok yang selalu memantik ruang debat yang panas namun inklusif bagi perkembangan demokrasi di tanah air.
Kepergiannya pada 10 Mei 2021 di Pekanbaru akibat COVID-19 meninggalkan lubang yang cukup besar dalam peta dakwah di Indonesia. Ia berpulang di usia 57 tahun, tepat saat ia masih aktif melakukan perjalanan syiar. Kisah hidupnya memberikan pesan universal bahwa setiap orang memiliki hak untuk memilih jalannya, dan setiap pilihan menuntut konsekuensi berupa keteguhan prinsip. Ia mengajarkan kita bahwa latar belakang apa pun—baik itu musisi maupun ahli bahasa—bisa menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan pesan kebaikan jika dibarengi dengan ketulusan.
Hingga saat ini, jejak digital dan pemikiran Tengku Zulkarnain tetap sering menjadi bahan diskusi. Beliau adalah pengingat akan masa di mana suara-suara kritis dari kalangan ulama menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika bangsa. Warisannya adalah semangat untuk tidak pernah takut bicara, asalkan berlandaskan pada keyakinan yang kuat. Beliau telah menyelesaikan babak kehidupannya dengan cara yang paling ia cintai: berdakwah hingga napas terakhir, meninggalkan memori tentang seorang putra Melayu yang berani mewarnai sejarah Nusantara.
Sumber: Wikipedia - "Tengku Zulkarnain"
#TengkuZulkarnain #UlamaVokal #MUI #SejarahDakwah #TokohMelayuDeli #SastraInggrisUSU #KisahInspiratif #SyiarIslam #KontroversiTokoh #IslamIndonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar