Rabu, 11 Februari 2026

Ekspedisi Mapala Stacia UMJ

 Ekspedisi Mapala Stacia UMJ di awal 90 an adalah ekspedisi kolosal yang dilakukan Stacia. Banyak melibatkan tenaga, pikiran, referensi yang jitu untuk melakukannya.

Kami terinspirasi dari Ekspedisi Sulawesi, mereka melakukan Poligon di seluruh Sulawesi, tercatat ada 12 Puncak Gunung yang ada di Sulawesi mampu ditapaki oleh para senior.

Berikut dokumentasi yang telah terangkum :










Khusus foto terakhir perjalanan saya tahun 2019 di Gunung Latimojong - Sulawesi.


Salam berbagi,

Fadlik Al Iman 

Semoga Pak Polisi Di Seluruh Indonesia Bisa Menjalankan Perannya

 Aksi Heroik Bocah 13 Tahun: Begal Pulang Jalan Kaki, Korban Pulang Naik Motor


Kalau ada pepatah “niat jahat sering kalah sama cicilan”, mungkin inilah contohnya.

Seorang bocah 13 tahun di Palembang, Wahid Al Hafis, mendadak naik level dari “anak main HP di pinggir jalan” menjadi “calon legenda kampung” setelah menggagalkan aksi pencurian dengan kekerasan. Bukan dengan jurus silat, bukan pula dengan teriakan ala film laga melainkan dengan tekad suci bernama takut dimarahi ibu.


Peristiwa ini terjadi Senin malam (9/2/2026), sekitar pukul 20.00 WIB, di Jalan Bungaran 4, Jakabaring. Waktu yang biasanya dipakai warga buat ngopi, scroll medsos, atau mengutuk sinyal internet.

Wahid saat itu sedang berjalan santai bersama teman-temannya. HP Realme A5 yang baru dua minggu lalu dibelikan sang ibu secara kredit menjadi teman setia. 

Belum lunas, 

masih anget, 

masih disayang.


Lalu datanglah pelaku begal, naik motor, berhenti sebentar, dan cling! HP berpindah tangan. Begitu cepatnya, seperti diskon kilat di e-commerce.

HP memang berhasil dirampas. Tapi pelaku rupanya lupa satu hal penting, anak ini punya beban moral bernama cicilan ibu.


Alih-alih pasrah atau nangis, saat pelaku menyambar HP-nya dan mencoba tancap gas, Wahid melakukan hal yang biasanya hanya dilakukan pemeran pengganti di film aksi. Ia melompat ke atas motor pelaku dan duduk manis di situ. 

Bukan minta bonceng. 

Bukan juga minta diantar pulang. 

Ia menjadi "penumpang gelap" yang sangat berisik.


Motor sempat melaju sekitar enam meter. Enam meter yang mungkin terasa seperti enam kilometer bagi pelaku.


Wahid berteriak minta tolong. Pelaku panik. Dalam kepanikan itu, pelaku bahkan sempat menusuk korban dengan senjata tajam. Tapi sekali lagi, pelaku salah hitung. Rasa sakit ternyata masih kalah oleh rasa takut menghadapi ibu di rumah.Di tengah situasi genting, Wahid melakukan manuver pamungkas mencabut kunci kontak motor.


Motor mati, 

Hukum gravitasi bekerja, 

Dan mereka terjatuh, 

Plot twist terjadi.


HP memang sudah raib, tapi motor pelaku tertinggal. Pelaku kabur. Pulang entah ke mana kemungkinan besar jalan kaki sambil merenungi nasib dan salah strategi hidup.


Wahid mengalami luka tusuk di lengan kanan, namun berhasil selamat. Ia dibantu warga dan langsung dibawa ke Polrestabes Palembang, lengkap dengan barang bukti motor pelaku.


Ibu Wahid, Hatipa (46), hanya bisa berharap satu hal pelaku segera ditangkap. Mungkin juga berharap cicilan HP tetap lanjut tanpa drama tambahan.


Pihak kepolisian membenarkan laporan tersebut dan menyatakan kasus masih dalam penyelidikan. Pelaku kini diburu. Motor sudah diamankan. HP? Entah sudah berpindah tangan, entah sudah dijual murah, atau entah masih jadi kenang-kenangan.


Peristiwa ini adalah potret getir sekaligus lucu tentang betapa berharganya sebuah barang cicilan di mata rakyat kecil. Wahid adalah simbol perlawanan terhadap kriminalitas yang didorong oleh rasa tanggung jawab (dan ketakutan) kepada orang tua. Namun, secara prosedural, tindakan ini sangat berbahaya dan tidak disarankan untuk ditiru, kecuali Anda memiliki tingkat keberuntungan dan kecepatan tangan seperti Wahid.


Dan untuk para pelaku kejahatan di luar sana, mungkin perlu catatan kecil, kalau mau begal, pastikan targetnya bukan anak yang HP-nya masih kredit.


---


Andrian Saputra 

10 Februari 2026

22 Sya'ban 1447 H


#Wahid #BegalPalembang #UpdatePalembang