Kamis, 19 Maret 2026

Empat Pelaku

 Empat tentara Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI ditangkap sebagai terduga pelaku penyiraman air keras pada aktivis Andrie Yunus. Hal ini disampaikan Komandan Puspom TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/3).



“Keempat yang diduga pelaku ini adalah Denma Bais TNI,” kata Yusri seperti dikutip dari Kompas. Mereka adalah Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES. Diketahui berasal dari Angkatan Laut dan Angktan Udara. 


Keempatnya kini masih ditahan di Puspom TNI. Yusri belum bisa menyebut motif para pelaku, karena masih dalam pendalaman. Proses hukum para terduga pelaku, menurut Yusri akan ditangani melalui mekanisme peradilan militer.


Sebelumnya, Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus jadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada Kamis (12/3) lalu. Andrie dikabarkan mengalami luka bakar sekitar 20 persen pada tubuhnya, termasuk mengenai mata.


Tim Advokasi untuk Demokrasi sebelumnya menyebut penyerangan itu sebagai upaya pembunuhan berencana. “Ada dugaan aktor intelektual, ada orang yang menjadi perencana, tapi punya kapsitas menentukan serangan dan mengambil keputusan serta memimpin koordinasi,” kata Direktur LBH Jakarta Fadhil Alfathan, Senin (16/3) di Konferensi Pers TAUD.

Senin, 16 Maret 2026

Negara Harus Hadir

 Pernyataan Feri Amsari itu lahir dari kekecewaan yang dalam terhadap cara negara menangani kejahatan terhadap aktivis. 

Ketika sebuah serangan brutal seperti penyiraman air keras tidak pernah benar-benar dibuka terang siapa dalangnya, publik wajar curiga ada sesuatu yang sengaja ditutup. 



Negara seharusnya berdiri paling depan melindungi warga dan mengungkap pelaku, bukan membiarkan kasus menggantung tanpa kejelasan. 

Jika kejahatan sebesar itu dibiarkan kabur, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan bagi korban, tetapi juga kepercayaan rakyat pada negara itu sendiri.