Jihad Literasi dari Ujung Timur: Bagaimana Ustadz Fadlan Garamatan Mengirim Ribuan Anak Papua Menjemput Impian.
Perjalanan hidup M. Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan adalah bukti bahwa karakter pemimpin sejati ditempa oleh kerja keras. Meski lahir dari garis keturunan bangsawan di Fak-Fak, beliau memilih jalan kemandirian saat merantau ke Makassar. Titik awal perjuangannya terekam jelas saat ia menempuh studi di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin pada tahun 1980-an. Tanpa berpangku tangan pada kekayaan orang tua, Fadlan muda membiayai kuliahnya sendiri dengan menarik gerobak dorong berjualan minuman ringan, sebuah pengalaman yang membentuk mentalitas pantang menyerahnya.
Kedekatannya dengan organisasi mahasiswa seperti HMI dan aktivitas di Masjid Raya Makassar menjadi titik balik yang memperluas pandangan dunianya. Fadlan tidak hanya ingin sukses secara pribadi; ia merasa memiliki utang budi pada tanah kelahirannya. Ia melihat bahwa banyak saudara-saudaranya di pedalaman Papua yang masih hidup dalam ketertinggalan, bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena minimnya akses terhadap peradaban dan pendidikan yang layak.
Setelah menyelesaikan studinya, ia memutuskan untuk mewakafkan hidupnya bagi tanah Papua melalui Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN). Dakwah yang beliau jalankan sangat unik; ia masuk ke pedalaman bukan hanya membawa kitab suci, tapi juga membawa sabun, pakaian, dan obat-obatan. Beliau memahami bahwa untuk menyentuh hati seseorang, kita harus terlebih dahulu peduli pada kebutuhan dasarnya. Pendekatan kemanusiaan ini berhasil merangkul ratusan suku, mengubah pola hidup menjadi lebih bersih dan sehat tanpa menghilangkan identitas lokal mereka.
Visi besar Ustadz Fadlan melampaui sekadar ceramah di mimbar. Ia secara konsisten mengirimkan ribuan anak-anak asli Papua untuk bersekolah di berbagai pesantren dan universitas di Jawa dan daerah lainnya. Harapannya satu: agar mereka kembali ke Papua menjadi motor penggerak pembangunan. Baginya, dakwah adalah tentang menciptakan dokter, guru, dan pemimpin masa depan yang memiliki iman yang kokoh sekaligus keahlian profesional yang mumpuni.
Kepedulian beliau terhadap kedaulatan bangsa juga terlihat dari caranya menanamkan rasa cinta tanah air di pelosok Papua. Beliau sering kali menegaskan bahwa Islam dan rasa nasionalisme harus berjalan beriringan. Di bawah asuhannya di Pondok Pesantren AFKN, para santri didik untuk menjadi pribadi yang inklusif, menghargai keberagaman, dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia dari ufuk timur.
Kisah Ustadz Fadlan Garamatan memberikan pelajaran berharga bagi kita semua bahwa sebuah perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Keberaniannya menyusuri hutan rimba selama berbulan-bulan demi sebuah misi kemanusiaan menunjukkan bahwa ketulusan adalah bahasa yang paling mudah dipahami oleh siapa pun. Perjalanannya menginspirasi kita untuk tidak pernah memandang remeh perjuangan seseorang dalam mengangkat martabat sesama manusia.
Semangat pengabdian beliau menjadi pengingat bagi setiap anak bangsa bahwa kemajuan sebuah daerah adalah tanggung jawab bersama. Dengan ilmu dan kasih sayang, tantangan seberat apa pun—termasuk keterasingan geografis—bisa dijembatani. Kisah "Putra Papua" ini mengajak kita untuk terus menebar manfaat secara universal, melintasi batas suku dan budaya, demi masa depan bangsa yang lebih gemilang.
Sumber: Biografi Tokoh Ternama - "Profil Ustadz Fadlan Garamatan - Ulama Asli Papua Yang Mengislamkan Ribuan Warga Papua"

