Senin, 23 Maret 2026

Haedar Nashir Angkat Bicara

Haedar Nashir Angkat Bicara: Perbedaan Penetapan Idul Fitri dan Sikap Muhammadiyah


Sosok Haedar Nashir kembali menjadi sorotan publik setelah beredarnya potongan video yang menampilkan tanggapan terkait isu penetapan Hari Raya Idul Fitri. Dalam video tersebut, ia terlihat menyampaikan pandangan dengan tenang dan tegas, menanggapi polemik yang kerap muncul setiap tahun terkait perbedaan metode penentuan 1 Syawal di Indonesia.



Polemik ini mencuat setelah pernyataan Cholil Nafis yang menegaskan bahwa penetapan dan pengumuman awal Ramadan serta Idulfitri merupakan wewenang pemerintah (ulil amri), merujuk pada fatwa Majelis Ulama Indonesia tahun 2004 serta keputusan Nahdlatul Ulama. Ia juga sempat menyampaikan bahwa pengumuman Lebaran di luar ketetapan pemerintah dipandang tidak tepat dalam perspektif tersebut. Menanggapi hal ini, Haedar Nashir menekankan bahwa perbedaan cara penentuan tidak semestinya dipersempit menjadi vonis hukum yang kaku, melainkan dipahami sebagai bagian dari tradisi ijtihad yang memiliki landasan keilmuan dan historis dalam Islam.


Sebagai Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir menjelaskan bahwa penentuan awal bulan Hijriah memiliki ragam pendekatan yang sama-sama berakar pada dalil dan metodologi. Muhammadiyah menggunakan hisab sebagai hasil ijtihad ulama yang terus berkembang, yang dirumuskan secara kolektif oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah sebagai pedoman resmi organisasi. Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan melalui sidang isbat dengan mengombinasikan hisab dan rukyat.


Dalam menyikapi perbedaan tersebut, Haedar Nashir mengajak umat Islam untuk mengedepankan sikap bijak dan saling menghormati. Perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekayaan khazanah keislaman yang perlu disikapi dengan kedewasaan.


Fenomena ini sekaligus menunjukkan dinamika keberagamaan di Indonesia yang plural dan penuh warna. Muhammadiyah tetap konsisten pada prinsip ijtihad berbasis ilmu, sembari mengingatkan bahwa menjaga persatuan umat jauh lebih utama dibanding memperdebatkan perbedaan yang bersifat metodologis.


Di tengah derasnya arus informasi dan potensi kesalahpahaman di media sosial, pernyataan Haedar Nashir menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan sekadar penetapan tanggal, tetapi momentum untuk kembali pada nilai persaudaraan, saling menghargai, dan menjaga ukhuwah Islamiyah.


Sumber: CNN Indonesia (dalam cuplikan video yang beredar)


#Hashtag:

#HaedarNashir #CholilNafis #Muhammadiyah #MUI #NU #IjtihadUlama #PersatuanUmat

Kebijaksanaan adalah harta orang beriman yang hilang

Ungkapan "kebijaksanaan (hikmah) adalah harta orang beriman yang hilang" berasal dari hadits (HR. Tirmidzi & Ibnu Hibban) yang bermakna seorang muslim harus aktif mencari kebenaran dan ilmu bermanfaat di mana pun, dari siapa pun, dan dalam situasi apa pun. Hikmah adalah aset berharga yang wajib diambil kembali layaknya barang berharga yang hilang.

Berikut poin penting dari konsep ini:

Pencarian Tanpa Batas: Hikmah tidak dibatasi sumbernya (tidak harus dari sesama muslim), asalkan benar dan tidak bertentangan dengan syariat.

Makna Hikmah: Hikmah diartikan sebagai pengetahuan tinggi, kearifan, pelajaran hidup, atau kebenaran yang realistis.

Kewajiban Mencari: Umat beriman diperintahkan untuk tidak pasif, melainkan giat mencari ilmu dan kebijaksanaan untuk diterapkan dalam kehidupan.

Fokus pada Konten: Hadits ini mengajarkan untuk fokus pada kebenaran isi nasihat, bukan pada siapa yang menyampaikannya. 

Intinya, seorang beriman tidak boleh sombong dan harus terbuka terhadap kebenaran yang datang dari manapun, menjadikannya pelajaran untuk perbaikan diri.