Selasa, 24 Maret 2026

Figur tertentu sengaja dikorbankan demi melindungi sistem

Akademisi sekaligus pendiri Lokataru Foundation, Haris Azhar, menyoroti langkah Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI yang mendadak menahan empat prajurit TNI terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Haris menilai penahanan tersebut mengandung kejanggalan, terutama karena minimnya penjelasan mengenai proses penyelidikan awal.



“Kapan penyelidikannya dilakukan? Apa dasar yang membuat mereka langsung ditahan?” ujar Haris dalam diskusi publik bertajuk Menggugat Pembungkaman dan Impunitas Penyerangan Aktivis bersama LP3ES di Jakarta, Kamis (19/3/2026).


Haris membandingkan transparansi Puspom TNI dengan Polda Metro Jaya yang dinilai lebih terbuka dalam memaparkan tahapan penyelidikan hingga penyidikan. Ia juga menyoroti perbedaan mencolok terkait identitas para terduga pelaku.


Sebelumnya, kepolisian menyebut dua inisial terduga pelaku yakni BHC dan MAK. Namun, TNI justru mengumumkan empat prajurit dengan inisial berbeda, yakni Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES.


“Tentara dari kesatuan mana? Inisial namanya berbeda dengan temuan polisi, jumlahnya pun berbeda. Ini sangat meragukan,” kritik Haris.


Ia menduga perbedaan data ini menjadi sinyal bahwa penanganan kasus berisiko hanya berhenti pada tingkat pelaku lapangan semata. Haris bahkan mencium adanya indikasi keterlibatan struktur yang lebih besar, mengingat para pelaku disebut berasal dari Badan Intelijen Strategis (BAIS).


“Kita punya banyak pengalaman di mana figur tertentu sengaja dikorbankan demi melindungi sistem. Dalam kasus Andrie Yunus, hal ini sangat mungkin terjadi karena melibatkan BAIS. Struktur di atasnya harus dibongkar,” tegasnya.


Lebih jauh, Haris menegaskan bahwa perkara ini seharusnya diproses melalui peradilan umum, bukan peradilan militer. Pertimbangannya adalah korban merupakan warga sipil dan lokasi kejadian berada di ruang publik, bukan di area militer.


Selain itu, ia mengkritik penggunaan pasal penganiayaan terhadap para pelaku. Menurutnya, serangan menggunakan air keras yang direncanakan secara matang lebih tepat dijerat dengan pasal percobaan pembunuhan.


“Ini seharusnya pasal pembunuhan karena ada perencanaan matang. Tentara tidak mungkin bergerak sendiri tanpa ada pihak yang mengendalikan dan membiayai operasionalnya,” tambahnya.


Haris mendesak agar aktor intelektual di balik penyerangan ini segera diungkap.


“Jika dalangnya tidak terungkap, itu membuktikan adanya operasi terstruktur di atas mereka. Tidak mungkin aksi sekeji ini hanya inisiatif level prajurit rendah,” pungkasnya.

DARI IJAZAH PALSU KE PERANG DUNIA III



dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc

Neuroscience Behavior, Neuropolitika


Bismillahirrahmanirrahiim.


Pasca Lebaran ini, 

Di saat banyak orang masih larut dalam hangatnya silaturahmi, saya mengingat bahwa tidak semua perjuangan mengenal hari libur.


Ada yang harus tetap berdiri, bahkan ketika semua memilih duduk.


Ada yang harus tetap bersuara, bahkan ketika diam terasa lebih aman.


Apa yang saya alami belakangan ini, tentang sebuah ijazah yang seharusnya sederhana, ternyata membuka lapisan yang jauh lebih dalam:

tentang kejujuran,

tentang keberanian,

tentang bagaimana kebenaran diperlakukan di negeri ini.



Lebaran mengajarkan kita kembali kepada fitrah.

Namun fitrah itu bukan sekadar saling memaafkan,

melainkan juga kembali kepada kejujuran yang sejati.


Jika kebohongan dibiarkan menjadi kebiasaan,

jika kebenaran harus bernegosiasi dengan kekuasaan,

maka sesungguhnya kita sedang berjalan menuju kehancuran tanpa kita sadari.


Dan di saat yang sama,

dunia sedang bergerak menuju ketegangan besar.


Perang Dunia III bukan lagi sekadar kemungkinan.

Ia sedang disiapkan, perlahan tapi pasti:

melalui pandemi,

melalui a rsenal nuklir,

melalui krisis energi,

melalui konflik geopolitik,

melalui ketidakstabilan global yang semakin nyata.


Pertanyaannya:

Apakah kita siap?


Bukan hanya secara fisik,

tetapi secara moral,

secara spiritual,

dan secara keberanian untuk berdiri di pihak yang benar.


Karena bangsa yang rapuh oleh kebohongan dari dalam,

akan sangat mudah runtuh oleh tekanan dari luar.


Pasca Lebaran ini, saya tidak akan berhenti.

Saya memilih untuk melangkah lebih jauh.

Saya akan membantu masyarakat, membantu umat,

mempersiapkan diri menghadapi multi krisis yang nyata di depan mata:

krisis pangan,

krisis energi,

krisis kesehatan,

dan krisis kemanusiaan yang bisa dipicu oleh Perang Dunia III.


Ini bukan tentang ketakutan.

Ini tentang kesiapan.

Ini tentang ikhtiar.


Kita harus belajar mandiri,

menguatkan komunitas,

menjaga kesehatan,

dan membangun ketahanan dari dalam.

Pasca Lebaran ini,

izinkan saya tidak hanya mengucapkan selamat,

tetapi juga mengajak:

Mari kita kembali kepada fitrah yang sesungguhnya: 

jujur, berani, dan berpihak pada kebenaran.


Dan bersiap,

karena masa depan tidak menunggu kita siap.

Kitalah yang harus menyiapkan diri.


Hasbunallah wanikmal wakil

Nikmal maula wanikman nashir

La haula wala quwwata ila billah


dr Tifa