Kamis, 05 Februari 2026

Apa Kata Dino

 Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dino Patti Jalal, menyampaikan pandangan kritis terkait wacana kontribusi Indonesia sebesar Rp17 triliun untuk Board of Peace. Menurut Dino, angka tersebut terlalu besar jika dibandingkan dengan kapasitas fiskal Indonesia dan tidak memiliki preseden dalam sejarah diplomasi luar negeri RI.


Dino menegaskan bahwa sepanjang sejarah, Indonesia tidak pernah membayar dana sebesar itu untuk keanggotaan atau partisipasi dalam organisasi internasional mana pun. Ia membandingkan, Rp17 triliun setara dengan ratusan kali iuran tahunan Indonesia ke Sekretariat ASEAN, puluhan tahun iuran ke PBB, bahkan melebihi total anggaran tahunan Kementerian Luar Negeri.


Ia juga menyoroti minimnya perdebatan mendalam di DPR saat angka tersebut dibahas. Menurutnya, keputusan strategis dengan dampak besar terhadap keuangan negara semestinya melalui kajian komprehensif dan pengawasan legislatif yang ketat.


Terkait isu Palestina, Dino menekankan bahwa tidak pernah ada permintaan resmi dari otoritas Palestina agar Indonesia menyumbangkan dana sebesar Rp17 triliun. Ia menyatakan bahwa yang paling dibutuhkan Palestina dari Indonesia selama ini adalah dukungan politik, diplomatik, dan moral, bukan kontribusi dana dalam jumlah sangat besar.


Dino turut mengingatkan bahwa Board of Peace dipimpin oleh Donald Trump, dengan struktur kepemimpinan yang dinilainya berisiko karena kontrol organisasi bersifat terpusat dan tidak melibatkan perwakilan Palestina. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah akuntabilitas dan kepentingan politik jangka panjang.


Dalam konteks domestik, Dino menilai kondisi ekonomi Indonesia masih menghadapi berbagai tekanan, mulai dari keterbatasan ruang fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan daya beli masyarakat, hingga kebutuhan besar penanganan bencana alam di dalam negeri. Karena itu, ia menegaskan bahwa dana sebesar Rp17 triliun masih sangat dibutuhkan untuk kepentingan rakyat Indonesia sendiri.


Sebagai solusi, Dino menyarankan agar Indonesia tidak terburu-buru menggelontorkan dana besar dan cukup memberikan bantuan sesuai kemampuan fiskal. Ia juga menganjurkan agar Indonesia tetap menjadi anggota biasa Board of Peace, tanpa memaksakan diri menjadi anggota permanen yang berpotensi membatasi ruang gerak politik luar negeri Indonesia di masa depan.



Dino menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa politik luar negeri Indonesia seharusnya tetap berpijak pada kepentingan nasional dan prinsip kemanusiaan, bukan pada upaya menyenangkan kekuatan politik tertentu, serta tetap konsisten dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Kisah Tragis

 Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Ia tumbuh sebagai anak yang gelisah—bukan karena tak punya arah, justru karena pikirannya berlari terlalu cepat. Sejak muda, Chairil sudah akrab dengan buku-buku asing, kata-kata yang menantang, dan keinginan kuat untuk hidup dengan caranya sendiri. Ia tak betah pada aturan, tak sreg dengan kemapanan. Hidup, baginya, adalah sesuatu yang harus ditaklukkan—atau setidaknya dilawan dengan kata-kata.


Ketika hijrah ke Jakarta, dunia terasa lebih keras, tapi juga lebih luas. Di kota inilah Chairil menemukan panggungnya. Ia menulis puisi dengan napas baru: lebih berani, lebih jujur, lebih “aku”. Puisinya tak bertele-tele, tapi menghantam. Tak rapi menurut selera lama, tapi justru di situlah daya ledaknya. Ia seperti membuka jendela dan membiarkan angin masuk—dingin, liar, tapi menyegarkan.


Chairil hidup sederhana, bahkan sering kekurangan. Ia berpindah-pindah tempat, berutang ke sana-sini, dan kerap sakit. Namun semangatnya nyaris tak pernah padam. Ia menulis bukan untuk jadi suci, tapi untuk jadi hidup. Dalam kata-katanya, ada perlawanan, ada cinta, ada kesepian yang tidak minta dikasihani. Ia menolak tunduk, bahkan pada usia muda.



Kesehatannya perlahan runtuh. Penyakit datang bertubi-tubi, sementara hidup tak juga melunak. Pada 28 April 1949, Chairil Anwar meninggal dunia di Jakarta, dalam usia yang sangat muda—26 tahun. Terlalu cepat, kata banyak orang. Tapi barangkali Chairil sudah membakar hidupnya sehabis-habisnya. Ia pergi dengan tubuh yang lelah, namun dengan nama yang terus menyala.

Kini, Chairil Anwar dikenang bukan sekadar sebagai penyair Angkatan ’45, tapi sebagai suara yang mengajarkan keberanian: berani menjadi diri sendiri, berani jujur pada luka, berani hidup meski tahu akhirnya fana. Ia memang tak panjang umur, tapi kata-katanya—seperti ia sendiri—menolak mati.