Senin, 23 Februari 2026

Tata Cara Mandi Junub

 🛁 Tata Cara Mandi Junub

1️⃣ Niat di dalam hati

Niat cukup di hati, tidak harus dilafalkan.

Contoh niat dalam hati:

Saya niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.

2️⃣ Membersihkan kedua tangan

Cuci tangan 3 kali sebelum menyentuh bagian tubuh lain.

3️⃣ Membersihkan kemaluan dan kotoran

Bersihkan bagian depan & belakang dengan tangan kiri sampai benar-benar bersih.

4️⃣ Berwudu seperti wudu mau shalat

Lakukan wudu lengkap:

Cuci tangan

Kumur & bersihkan hidung

Basuh wajah

Basuh tangan sampai siku

Usap kepala

Basuh kaki

👉 Boleh menunda membasuh kaki sampai akhir mandi jika lantai licin/kotor.

5️⃣ Menyiram kepala 3 kali

Pastikan air sampai ke kulit kepala dan pangkal rambut.

Bagi yang rambut tebal, sela-selai dengan jari.

6️⃣ Menyiram seluruh tubuh

Siram dan ratakan air ke seluruh tubuh tanpa ada bagian yang kering, mulai dari:

➡️ Sisi kanan

➡️ Sisi kiri

Jangan lupa bagian yang sering terlewat:

✔️ Lipatan telinga

✔️ Ketiak

✔️ Pusar

✔️ Belakang lutut

✔️ Sela jari kaki & tangan

7️⃣ Membasuh kaki (jika belum saat wudu)

Terakhir, cuci kedua kaki sampai bersih.




✅ Setelah mandi junub

Jika semua tubuh sudah terkena air dengan niat mandi wajib, maka:

✔️ Sudah suci dari hadas besar

✔️ Bisa langsung shalat tanpa wudu lagi (jika wudunya tidak batal selama mandi)

#tips #doa #tipsandtrick

Menginspirasi

 Pada awal tahun 1992, sebuah ambisi besar tengah menyala di dada lima pendaki Mapala Universitas Indonesia (UI). Mereka sedang merangkai sejarah untuk menjadi tim Indonesia pertama yang menaklukkan Seven Summits, tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.


Portofolio mereka sudah gilang-gemilang. Bendera Merah Putih dan Mapala UI telah berhasil mereka tancapkan di Carstensz Pyramid (1973), Kilimanjaro (1985), McKinley (1989), dan Elbrus (1990). Target kelima mereka adalah Gunung Aconcagua (6.959 mdpl) di Argentina, puncak tertinggi di Benua Amerika.


Tim ini dipimpin oleh sosok legendaris, Norman Edwin (37) sang pelopor pendakian gunung yang berjuluk "Beruang Gunung", sekaligus jurnalis Kompas yang tulisan-tulisannya telah menginspirasi ribuan anak muda Indonesia untuk mencintai alam bebas. Bersamanya turut serta Didiek Samsu (31), pendaki tangguh dan rekan penulis, serta tiga pendaki muda: Rudy Nurcahyo (24), Dian Hapsari (24), dan M. Fayez (23). Ekspedisi ini memikul idealisme literasi yang kuat; mereka tidak sekadar mendaki, tetapi merekam jejak untuk diceritakan kembali kepada bangsa.


Pada 7 Februari 1992, perjalanan dimulai. Setelah mengurus perizinan di Santiago, Cile, mereka tiba di Puente del Inca, kaki Gunung Aconcagua, bersiap menembus zona es dan salju abadi.


I. Harga Sebuah Persahabatan


Alih-alih memilih rute normal yang landai namun panjang, Norman memimpin tim menantang maut melewati jalur Gletser Polandia rute tebing es yang curam, sangat teknis, dan berisiko tinggi. Semuanya berjalan sesuai rencana hingga petaka pertama menyergap di ketinggian kritis, sekitar 6.100 hingga 6.400 mdpl.


M. Fayez tergelincir hebat di lereng es yang terjal. Tangannya patah dan kakinya cedera parah, membuatnya lumpuh di tengah gunung.


Di sinilah karakter sejati sang pemimpin teruji. Melihat sahabatnya tak berdaya, Norman Edwin dan Rudy Nurcahyo mengambil keputusan krusial: membatalkan summit attack dan memprioritaskan nyawa. Mereka menginstruksikan pendaki lain turun ke kemah utama, sementara Norman dan Rudy mengevakuasi Fayez.


Membawa rekan yang cedera di tebing es vertikal adalah mimpi buruk. Selama lima hari berturut-turut, mereka terperangkap badai salju dan suhu mematikan demi membawa Fayez turun perlahan-lahan. Evakuasi itu berhasil menyelamatkan nyawa Fayez, namun bayarannya amat mahal. Di rumah sakit Mendoza, Argentina, pisau bedah harus bekerja. Norman kehilangan satu ruas jari tengah tangan kirinya akibat radang beku (frostbite), sementara Rudy harus merelakan beberapa ruas jari telunjuk dan tengahnya diamputasi.


II. Kembali Menantang Badai


Logika awam akan mengatakan ekspedisi telah usai. Fisik mereka hancur, dan jari sang pemimpin baru saja dipotong. Namun, dorongan psikologis untuk menuntaskan misi Seven Summits menolak tunduk.


Pada 11 Maret 1992, dengan perban amputasi yang belum sepenuhnya mengering, Norman Edwin dan Didiek Samsu memutuskan kembali ke gunung berdua. Kali ini, menyadari fisik yang terkuras, mereka memilih Ruta Normal masuk melalui Plaza de Mulas (4.300 mdpl).


Mereka merangsek naik, melewati Nido de Cóndores, dan mencapai kamp terakhir di elevasi nyaris 6.000 mdpl. Di titik inilah pelindung bebatuan berakhir. Mereka sepenuhnya terbuka terhadap cuaca dari Samudra Pasifik. Saat mereka mencoba melakukan serangan ke puncak, Aconcagua melepaskan murkanya yang paling mematikan: fenomena badai El Viento Blanco (Angin Putih).


Badai ini menghantam dengan kecepatan di atas 150 km/jam. Suhu anjlok seketika hingga menyentuh -40°C. Salju tebal berterbangan menciptakan whiteout, membutakan pandangan, dan menyatukan langit dan bumi dalam warna putih yang mematikan. Oksigen yang tipis di ketinggian ekstrem membuat tubuh mereka tak mampu lagi memproduksi panas. Setiap tarikan napas adalah pertarungan melawan kematian seluler.


III. Kesunyian di Reruntuhan Kayu


Hingga tanggal 22 Maret 1992, batas waktu mereka untuk lapor kembali di titik awal telah terlewati. Kedutaan Besar RI di Argentina segera mengaktifkan alarm diplomatik. Tim SAR dari Pertahanan Sipil Mendoza dikerahkan ke tengah ganasnya sisa badai untuk menyisir jalur turun.


Pada hari-hari terakhir bulan Maret, di ketinggian 6.400 mdpl, tim SAR menemukan sebuah puing pondok kayu tanpa atap bernama Refugio Independencia. Di reruntuhan yang berselimut salju itu, terbujur sesosok tubuh yang telah membeku kaku. Ia adalah Didiek Samsu.


Didiek gugur sendirian dalam pelukan hipotermia akut. Fakta bahwa ia berada di sana menyisakan sebuah kesimpulan yang menyayat hati: Didiek sudah tak sanggup melangkah, dan Norman sebagai pemimpin meninggalkannya di satu-satunya tempat berlindung terdekat, untuk mencoba mencari bantuan, atau mungkin, menembus badai itu sendirian.


IV. Titik Akhir Sang Legenda


Pertanyaan tentang nasib sang "Beruang Gunung" akhirnya terjawab pada 3 April 1992 lewat sebuah kawat teleks yang dikirimkan ke posko krisis di Jakarta.


Tubuh Norman Edwin ditemukan di Canaleta, sebuah lorong curam yang menguras tenaga di elevasi 6.650 mdpl hanya berjarak sekitar 300 meter vertikal lagi menuju puncak impiannya. Kondisi penemuannya menggetarkan setiap nurani yang mendengarnya.


Norman ditemukan telah membeku di atas tumpukan salju. Posisinya telungkup, menghadap lurus ke arah puncak. Ia tidak mati dalam keadaan menyerah atau mencoba lari turun dari badai. Ia memaksakan tubuhnya merangkak naik hingga detik terakhir nyawanya ditarik oleh dingin. Tangannya masih menancap, menggenggam erat sebuah kapak es.


Di punggungnya, ransel merah itu masih menempel. Saat dibuka oleh tim penyelamat, di dalamnya tersimpan rapi bendera Mapala UI dan Sang Saka Merah Putih, menunggu untuk dikibarkan.


V. Warisan yang Tak Membeku


Jenazah kedua pahlawan pegunungan ini akhirnya dievakuasi dari ketinggian yang nyaris mustahil itu dan diterbangkan pulang ke Jakarta pada akhir April 1992. Mereka disambut dengan tangis dan penghormatan luar biasa sebelum dimakamkan di Tanah Air. Di Argentina, nama mereka diabadikan di sebuah plakat logam keperakan di Cementerio del Andinista, sebuah pemakaman pendaki di kaki Pegunungan Andes.


Tragedi ini memang menghentikan misi Seven Summits Indonesia selama hampir dua dekade, namun ia melahirkan warisan yang jauh lebih besar. Dari ransel mereka, gulungan roll film fotografi dan jurnal tulisan tangan berhasil diselamatkan dari suhu minus. Artefak itu direstorasi menjadi sebuah mahakarya literatur berjudul "Norman Edwin: Catatan Sahabat Sang Alam". Buku itu menjadi saksi bisu hari-hari terakhir mereka, sekaligus "kitab suci" bagi generasi petualang Indonesia berikutnya.


VI. Refleksi


Kisah Norman Edwin dan Didiek Samsu di Aconcagua adalah epos tentang kemenangan jiwa di atas kekalahan raga. Mereka mengajarkan bahwa ambisi terbesar sekalipun tidak boleh mengalahkan kesetiaan pada sahabat, terbukti dari ruas jari yang mereka relakan di percobaan pertama.



Saat jasad Norman ditemukan menatap puncak dengan genggaman pada kapak esnya, semesta seolah memotret sebuah pesan abadi: Kehormatan sejati bukanlah semata-mata soal berhasil menginjakkan kaki di puncak kemuliaan, melainkan soal keberanian untuk tidak berbalik arah, dan terus berjuang walau takdir telah bersiap menutup usia. Mereka tidak gagal; mereka memindahkan letak puncak itu dari atas awan, ke dalam relung hati sejarah bangsa ini.