Selasa, 20 Januari 2026

Wanita Terkuat Di Balik Sosok Soekarno

 Di balik sosok Soekarno yang gagah berpidato, ada seorang wanita yang membiayai hidup dan perjuangannya. Namanya Inggit Garnasih. la lebih tua 12 tahun dari Soekarno (Kusno). Baginya, Kusno bukan hanya suami, tapi juga anak ideologis yang harus ia jaga. Inggit bukan wanita yang menikmati kemewahan. la adalah wanita yang akrab dengan penderitaan.



Saat Soekarno dipenjara di Sukamiskin, Inggitlah yang berjalan kaki mengantar makanan. la menyelundupkan buku dan uang agar suaminya tetap bisa membaca. Saat Soekarno dibuang ke Ende (Flores) dan Bengkulu, Inggit ikut tanpa ragu. la berjualan bedak dan jamu, memeras keringat demi menghidupi Soekarno yang saat itu tak punya apa-apa selain mimpi kemerdekaan.


Selama 20 tahun, ia menjadi tulang punggung dan "Oase" bagi Soekarno. Namun, ujian terberat bukan datang dari penjajah Belanda. Ujian itu datang dari hati. Di Bengkulu, Soekarno bertemu Fatmawati, gadis muda yang cantik.


Alasannya logis: Soekarno butuh keturunan. Sebab, Inggit tidak bisa memberikan anak biologis.


Soekarno lalu meminta izin: "Aku ingin menikah lagi, tapi aku tidak mau menceraikanmu." Bayangkan perasaannya. Setelah 20 tahun menemani dari nol, dari penjara ke penjara, kini saat masa kejayaan sudah dekat, ia diminta berbagi cinta. Jawaban Inggit tegas dan melegenda: "Kalau Kus mau ambil dia, ceraikan aku. Aku pantang dimadu!" Baginya, cinta adalah kesetiaan mutlak. Jika harus dibagi, lebih baik ia pergi.


Tahun 1943. Soekarno membawanya kembali ke Bandung. Di sebuah rumah di Jalan Ciateul, ikatan suci itu putus. Inggit resmi bercerai. la melepaskan kesempatan menjadi "Ibu Negara" Republik Indonesia yang sebentar lagi merdeka. la memilih kembali menjadi rakyat biasa, asalkan hatinya tidak teriris setiap hari melihat suaminya bersama wanita lain.


Bertahun-tahun kemudian, saat Soekarno sudah jatuh sakit dan menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Inggit datang menjenguk. Tidak ada dendam. Soekarno menangis meminta maaf. Inggit dengan besar hati berkata: "Kus, sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Yang lalu biar berlalu." Cinta itu masih ada, tapi prinsipnya jauh lebih besar.


Inggit Garnasih mengajarkan kita satu hal mahal: Bahwa kesetiaan seorang wanita bisa menembus tembok penjara, tapi harga dirinya... tak bisa dibeli oleh istana.


la memang tidak pernah tinggal di Istana Merdeka, tapi ia bertahta abadi di hati sejarah sebagai wanita terkuat yang pernah mendampingi Bung Karno.


Terima kasih, Ibu Inggit.


 #sukarno #inggitganarsih

Maulud Sebagai Potret Kegagalan System

 Di balik selembar penutup wajah hitam, tidak ada tunduk lesu atau isak tangis penyesalan. Maulud Riyanto (18) berdiri tegak di depan sorotan kamera dengan tatapan yang dingin. Kalimat yang meluncur dari bibirnya pun sanggup membuat bulu kuduk merinding:


​"Saya membunuh tetangga saya. Tidak menyesal, justru saya merasa lega."


​Ini bukan sekadar pengakuan kriminal biasa. Ini adalah jeritan dari sebuah batin yang sudah mati rasa, sebuah dendam kesumat yang dipelihara dengan rapi sejak ia masih mengenakan seragam merah putih.


​Luka yang Dipaksa Sembuh oleh Kata "Damai"


​Bayangkan seorang anak kecil di bangku Sekolah Dasar harus menyaksikan dunianya runtuh dalam sekejap. Maulud melihat ibunya, sosok pelindung utamanya, menjadi korban kekerasan seksual oleh tetangganya sendiri, Yasin Fadilah.


​Namun, yang lebih menyakitkan dari kejadian itu adalah apa yang terjadi setelahnya. Alih-alih mendapatkan keadilan hukum, kasus tersebut diselesaikan secara "kekeluargaan" oleh perangkat desa. Kata "damai" yang tertulis di atas kertas justru menjadi vonis penderitaan seumur hidup bagi Maulud dan ibunya.


​Selama bertahun-tahun, Maulud tumbuh dalam bayang-bayang ejekan. Ia dicemooh karena tragedi ibunya, sementara si pelaku melenggang bebas seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Di sinilah "keadilan" versi masyarakat gagal total, dan bara dendam mulai ditiup menjadi api.


​"Waktu itu saya tak punya daya, saya lemah. Kami sudah melapor, tapi tidak ditindaklanjuti. Masyarakat diam."


​Menjemput "Keadilan" dengan Ujung Belati


​Bagi Maulud, 16 Desember 2019 bukan sekadar tanggal merah di kalender. Itu adalah hari di mana ia memutuskan untuk berhenti menjadi penonton atas ketidakadilan yang menimpa keluarganya. Ia tidak lagi menunggu polisi atau perangkat desa.


​Di jalanan kampung yang sunyi, Maulud menghadang Yasin Fadilah. Dalam satu serangan yang penuh amarah, ia melampiaskan seluruh beban psikologis yang ia pikul selama satu dekade. Darah yang tertumpah hari itu, bagi Maulud, adalah penebus atas air mata ibunya yang tak pernah dihargai.


​Ia sadar betul akan konsekuensinya. Ia tahu jeruji besi sudah menunggunya. Namun, baginya, penjara jauh lebih manis daripada hidup dalam rasa malu yang tak berujung.


​Dilema Moral: Kriminal atau Pahlawan yang Terluka?


​Kasus ini menyisakan perdebatan panjang yang membelah empati publik:


​Secara Hukum: Maulud adalah pembunuh berencana. Pasal 340 KUHP menjatuhkan vonis 13 tahun penjara kepadanya. Hukum harus tegak, dan nyawa tidak bisa dibayar dengan nyawa secara personal.



​Secara Emosional: Banyak yang melihat Maulud sebagai potret kegagalan sistem. Ia adalah anak yang dipaksa dewasa oleh keadaan, yang mengambil peran sebagai hakim dan algojo karena merasa hukum telah "tumpul" sejak ia kecil.


​Kini, di usia remajanya yang seharusnya dihabiskan untuk meraih mimpi, Maulud harus mendekam di sel sempit. Namun, ada kepuasan ganjil yang ia bawa serta ke dalam penjara. Baginya, harga 13 tahun adalah nilai yang pantas untuk sebuah "kehormatan" yang selama ini diinjak-injak.


​Tragedi ini menjadi cermin retak bagi kita semua. Bahwa ketika sebuah luka hanya ditutup dengan plester "damai" tanpa keadilan yang nyata, ia tidak akan pernah sembuh—ia hanya akan membusuk dan meledak menjadi tragedi baru yang lebih memilukan.

Minggu, 18 Januari 2026

Pahlawan Bangsa Sendiri

 Di tahun 1947, Agus Salim menghadiri sidang PBB dengan jas yang lusuh dan sepatu bututnya. Dunia internasional terkejut, tapi justru di situlah ia membalik narasi. 


Dengan diplomatis, Salim berkata, "Inilah kondisi bangsa kami setelah 350 tahun dijajah." Bukan uang atau senjata, melainkan kata-kata yang menjadikannya master diplomasi.

.

Agus Salim pernah menolak tawaran Belanda untuk sekolah elit, memilih jalur independen. Ia menguasai 9 bahasa asing secara otodidak, dan surat-surat diplomatiknya sering ditulis tangan di atas kertas sederhana. 


Baginya, kemerdekaan bukan hanya fisik, tetapi juga kemampuan berpikir merdeka tanpa bergantung pada pihak asing.

.

Sutan Sjahrir justru lebih sering berjuang dari dalam penjara. Saat para tokoh lain berpidato panas, Sjahrir menghabiskan waktunya dengan membaca filsafat dan menulis strategi perlawanan halus. 


Ia percaya bahwa tanpa pendidikan politik rakyat, kemerdekaan hanyalah ilusi belaka.

.

Sjahrir adalah perdana menteri termuda Indonesia, tetapi justru dipenjara oleh negara yang ia bangun. Pikirannya yang sosialis-demokrat dinilai terlalu berseberangan dengan penguasa. 


Ironisnya, banyak gagasannya tentang demokrasi dan keadilan justru menjadi fondasi sistem politik modern Indonesia.

.

Mohammad Natsir mengguncang dunia dengan pidato di forum internasional tentang Islam dan demokrasi. 


Namun di dalam negeri, ia dianggap kontroversial karena menolak sekularisme ekstrem. Natsir pernah mengkritik Soekarno secara terbuka, yang akhirnya membawanya ke penjara tanpa proses pengadilan.



Mereka adalah bukti bahwa pahlawan sejati bukanlah yang selalu disukai penguasa. 


Pemikiran mereka melampaui zamannya, terkadang dianggap ancaman, justru karena visinya yang terlalu jauh ke depan. Sekarang, warisan mereka justru menjadi fondasi nilai demokrasi dan diplomasi Indonesia di mata dunia.

Sabtu, 17 Januari 2026

Irak Di Tahun 2003

 Pada invasi Irak tahun 2003, ketika pasukan Amerika Serikat dan sekutunya mulai menguasai wilayah Irak, ribuan pria Irak ditangkap, baik sebagai tersangka pejuang, pemberontak, maupun warga sipil yang berada di area operasi militer.



Mereka ditempatkan di berbagai fasilitas penahanan, salah satunya di wilayah Najaf.


Foto ini menangkap momen yang sangat menyayat hati: seorang tahanan Irak diberi izin bertemu anaknya yang masih kecil, sekitar 4 tahun. Namun pertemuan itu berlangsung dengan syarat yang tidak manusiawi, sang ayah harus mengenakan penutup kepala atau kantong, metode yang saat itu kerap digunakan untuk membatasi penglihatan tahanan sekaligus sebagai bentuk tekanan psikologis.


Di tengah kondisi tersebut, sang anak duduk di pangkuan ayahnya, mencari rasa aman melalui pelukan dan sentuhan, tanpa sepenuhnya memahami mengapa ayahnya diperlakukan seperti itu. Sebuah potret bisu tentang perang, yang tak hanya merenggut wilayah dan kekuasaan, tetapi juga martabat, keluarga, dan masa kecil.

Rabu, 14 Januari 2026

Rezeki Yang Halal

 Kewajiban mencari rezeki halal dalam Islam adalah perintah agama yang sangat penting, berdasarkan hadis "Mencari rezeki yang halal hukumnya wajib atas setiap orang Muslim," dan didukung Al-Qur'an, tujuannya agar tubuh bersih dari yang haram, doa lebih mudah dikabulkan, ibadah lebih khusyuk, dan mendapatkan keberkahan serta ketenangan dunia akhirat, menghindari riba, suap, dan segala cara batil lainnya. 




Dalil dan dasar hukum

Hadis: "Mencari rezeki yang halal hukumnya wajib atas setiap orang Muslim" (HR. Ath-Thabrani).

Al-Qur'an: QS. Al-Baqarah: 168 ("Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik") dan QS. An-Nisa: 29 ("Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil"). 

Mengapa ini kewajiban?

Menghindari kemaksiatan: Rezeki haram dapat menghalangi ketaatan dan membuat sulit beribadah.

Mendatangkan keberkahan: Harta halal membawa ketenangan dan memudahkan amal saleh.

Doa terkabul: Tubuh yang bersih dari yang haram menjadikan doa lebih mustajab.

Bagian dari ibadah: Mencari nafkah dengan cara halal adalah bagian integral dari ibadah, sama seperti salat dan zikir. 

Konsekuensi rezeki haram

Neraka: Daging yang tumbuh dari yang haram lebih pantas menjadi bahan bakar neraka (HR. At-Thabrani).

Kegelapan hati: Menimbulkan kegelapan di wajah dan hati, serta menghalangi ibadah.

Kekacauan: Riba menjadikan pemakannya seperti orang gila. 

Cara meraih rezeki halal

Ilmu: Berilmu sebelum beramal dalam pekerjaan atau dagang.

Kerja keras: Bekerja dengan tangan sendiri, seperti Rasulullah bersabda rezeki paling baik adalah pekerjaan laki-laki dengan tangannya sendiri.

Tawakal: Bertawakal kepada Allah dan tidak putus asa ketika rezeki terlambat.

Amal salih: Beristighfar, bersedekah, berbakti pada orang tua, dan bersyukur. 

Menjamu Tamu

 Menjamu tamu dalam Islam memiliki manfaat besar, yaitu mempererat silaturahmi, memperkuat keimanan, karena merupakan bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir, serta mendatangkan berkah dan rezeki, bahkan bisa menghapus dosa-dosa penghuni rumah. Amalan ini menunjukkan akhlak mulia, memperluas persaudaraan, dan membawa rahmat serta pahala besar. 

Manfaat Utama Menjamu Tamu dalam Islam:

Cerminan Iman dan Akhlak Mulia: Menjamu tamu dengan baik adalah bukti keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir, serta menunjukkan kesempurnaan akhlak mulia.

Mempererat Silaturahmi & Persaudaraan: Memuliakan tamu memperkuat hubungan kekeluargaan, persahabatan, dan memperluas lingkaran sosial, membantu mempererat ukhuwah (persaudaraan).

Mendatangkan Rezeki dan Berkah: Tamu yang datang membawa rezeki untuk tuan rumah, dan kepergiannya bisa menghapus dosa-dosa penghuni rumah.

Mendapatkan Pahala Besar: Memuliakan tamu setara dengan pahala puasa dan salat sunah, bahkan bisa dianggap seperti pahala haji dan umrah (menurut sebagian riwayat).

Menarik Rahmat Allah: Rumah yang sering dikunjungi tamu akan lebih sering dikunjungi malaikat rahmat, sebaliknya rumah tanpa tamu jarang dimasuki malaikat.

Menumbuhkan Toleransi: Dalam konteks modern, sikap baik terhadap tamu mengajarkan toleransi dan pemahaman antarbudaya. 



Cara Memuliakan Tamu (Adab):

Memberikan sambutan hangat, senyuman, dan tempat duduk yang nyaman.

Menawarkan minuman atau makanan ringan, tidak memaksa jika tamu enggan.

Menjaga privasi tamu dan berbicara hal positif yang bermanfaat.

Menyambut tamu dengan niat ikhlas dan menghindari perbuatan negatif seperti ghibah. 

Dengan menjamu tamu, tuan rumah tidak hanya berbagi, tetapi juga membersihkan diri dari dosa dan membuka pintu rahmat serta rezeki dari Allah SWT. 

Selasa, 13 Januari 2026

SBY : YBS (Yang BerSangkutan)

 Jejak Digital Tak Pernah Pensiun


Tahun 2014, SBY bicara lantang soal kedaulatan rakyat. Pilkada harus dipilih langsung, bukan lewat DPRD. Bahkan Perppu diterbitkan demi prinsip itu.



Tahun 2026, cuitan lama itu kembali muncul—dan publik justru mendapati sikap yang kini berseberangan.


Politik memang seni membaca zaman, tapi ketika prinsip ikut berganti arah, wajar bila rakyat bertanya:

yang berubah situasi, atau komitmen?


Sejarah tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu untuk diingatkan kembali.

Jumat, 09 Januari 2026

USA : ASU

 Mantan anggota Kongres AS, Curt Weldon, secara terbuka menyatakan bahwa kekuatan Barat bertindak mementang Muammar Gaddafi karena visinya untuk menyatukan ekonomi Afrika, mata uang yang didukung Afrika, dan kebebasan dari kendali keuangan Barat. 



Gaddafi menantang sistem dolar. Ia mendanai lembaga-lembaga Afrika. Ia mendorong orang Afrika untuk berdagang dengan sesama orang Afrika. Itulah ancaman sebenarnya. 

Libya dihancurkan sebagai peringatan: Pemimpin Afrika mana pun yang benar-benar menantang dominasi Barat akan dieliminasi.



Senin, 05 Januari 2026

Jin Yang Mengganggu Manusia

 


Mend Rea Ala Panji

 "Mens Rea" Ketika Kita Tertawa, Lalu Sadar yang Disindir Ternyata Diri Sendiri


Di tengah negeri yang kalau dengar kata hukum sering refleks menoleh ke belakang bukan karena takut salah, tapi takut disalahkan, Pandji Pragiwaksono datang membawa sebuah judul yang terdengar berat: “Mens Rea.” Istilah hukum Latin yang biasanya nongol di ruang sidang, bukan di panggung komedi. Tapi justru di situlah lelucon dimulai.


---


“Mens Rea” (2025) bukan sekadar spesial stand-up berdurasi 2 jam 24 menit yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025. Ini lebih mirip seperti ruang kelas alternatif, di mana dosennya bercanda, mahasiswanya tertawa, tapi pulangnya membawa PR bernama kesadaran. Diselenggarakan di Indonesia Arena, Jakarta, 30 Agustus 2025, acara ini terasa megah, tapi isinya sangat membumi membahas hal-hal yang sering kita keluhkan sambil ngopi, tapi jarang kita renungkan sambil berpikir.


Pandji mengajak penonton menelusuri budaya hukum Indonesia dengan gaya khasnya: santai, tajam, dan penuh jebakan logika yang bikin ketawa dulu, baru sadar kemudian. Ia bicara soal korupsi bukan seperti jaksa, tapi seperti teman lama yang capek menjelaskan hal yang sama berulang kali, dengan nada, “Sebenernya ini tuh simpel, tapi kok ya…”


Yang bikin “Mens Rea” jadi spesial dan mungkin agak bikin beberapa orang keringat dingin adalah kolaborasi resminya dengan KPK. Iya, lembaga yang biasanya identik dengan konferensi pers serius dan rompi oranye, kali ini memilih panggung komedi sebagai medium edukasi publik. Uniknya, tanpa sensor. Pandji dibiarkan menembak ke mana saja, selama pelurunya bernama fakta dan pengalaman sehari-hari.


Tujuannya pun realistis. Bukan berharap penonton langsung jadi malaikat anti korupsi keesokan harinya. Tapi minimal, ada rasa tertampar. Rasa tidak nyaman yang sehat. Karena perubahan besar seringkali dimulai dari kalimat sederhana: “Oh… iya juga ya.”


Disitu Pandji menyebut nama. Dan ia tidak berbisik.

Prabowo, Gibran, Jokowi, Luhut, Ferdy Sambo, Tedy Minahasa, bahkan Rafi Ahmad semua hadir bukan sebagai tokoh suci atau penjahat tunggal, tapi sebagai simbol dari sistem, kekuasaan, dan cara kita memaknainya. Bahkan Harris Azhar muncul sebagai penanda bahwa kritik di negeri ini kadang perlu “tips bertahan hidup”. Humor Pandji bekerja seperti pisau dapur, tidak terlihat mewah, tapi tajam dan sering mengenai jari sendiri.


Namun sasaran utamanya bukan cuma para elite.

Pandji justru lebih sering menoleh ke arah penonton ke arah kita. Ke warga Bogor yang dua kali salah pilih bupati. Ke Bandung yang tergoda popularitas artis. Ke pemilih yang datang ke TPS dengan semangat, tapi pulang tanpa benar-benar tahu siapa yang dicoblos. Di sini, sarkasmenya halus tapi kejam, “Kalau kita malas cari tahu, jangan heran kalau yang terpilih juga malas kerja.”


Respons publik pun beragam, sebagaimana seharusnya sebuah karya satir bekerja. Banyak yang memuji “Mens Rea” sebagai edukasi politik yang tidak menggurui, materi berat yang bisa dicerna tanpa kamus hukum di tangan. Pandji dinilai piawai mengemas isu kompleks menjadi lelucon yang dekat dengan realita soal birokrasi, kekuasaan, dan kebiasaan kecil yang diam-diam memelihara sistem besar yang kita kutuk bersama.



“Mens Rea” pada akhirnya bukan soal Pandji ingin terlihat paling benar, atau KPK ingin terlihat paling progresif. Ini soal sebuah eksperimen sosial: bisakah komedi membuat kita berpikir tanpa merasa digurui? Bisakah tawa menjadi pintu masuk refleksi, bukan sekadar pelarian?


Di ujung pertunjukan, “Mens Rea” tidak menawarkan solusi instan. Tidak ada janji perubahan besar besok pagi. Yang ada hanyalah harapan kecil bahwa setelah tertawa, penonton pulang dengan satu pertanyaan mengganggu di kepala:

“Selama ini, niat kita sebagai warga negara sebenarnya apa?”


"Mens Rea” akhirnya terasa seperti cermin besar yang dipasang di tengah arena. Kita tertawa melihat pantulan orang lain,politisi, pejabat, sistem. Sampai di satu titik, kita sadar yang ada di dalam cermin itu juga kita. Dengan pilihan-pilihan kecil kita. Dengan sikap permisif kita. Dengan kebiasaan kita menormalisasi hal-hal yang seharusnya tidak normal.


Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya dari spesial ini. Bukan pada siapa yang disindir, tapi pada siapa yang pulang dengan perasaan sedikit terusik. Karena perubahan, seperti kata hukum yang jadi judulnya, selalu dimulai dari niat. Dari mens rea. Dari isi kepala.


---


Andrian

3 Januari 2026

14 Rajab 1447 H


#MensRea #StandUpComedy #Panji #personalgrowth