Kamis, 31 Mei 2012

Tangkuban Perahu


Kisah anjing bernama Tumang yang kemudian dijadikan suami oleh Dayangsumbi yang memiliki kecantikan yang laur biasa. Dayangsumbi dikaruniai anak bernama Sangkurinag yang kemudian setelah Sangkuriang dewasa ingin menikahi Dayangsumbi yang kemudian kelak diketahui bahwa dayangsumbi adalah ibu kandungnya. Kekecewaan sangkuriang memuncak, ia menyesali perbuatannya, ditendagnya sebuah berahu yang kemudian posisinya terbalik menyerupai gunung. Mulai itulah dikenal dengan sebutan gunung Tangkuban Perahu karena bentuk gunung yang menyerupai perahu terbalik. Kisah diatas merupakan lagenda masyarakat tataran Sunda.


Lepas dari kisah itu bahwa gunung ini masih menyimpan potensi bencana. Gunung berapi juga merupakan anugrah bagi masyarakat di sekitarnya, debu debu setelah letusan yang mengakibatkan tanah menjadi subur, di sekitarnya juga terdapat pemandian air panas. Jikalau mau menginap di dekat gunung tersebut terdapat banyak penginapan. banyak juga yang menjajakan makanan dan oleh oleh khas Bandung.
motor mampir di Bogor

dari Ibu kota Jawa Barat yakni bandung ke Tangkuban Perahu memiliki jarak tempuh 30 km. Pada tahun 1959 dan 1983 gunung ini pernah meletus, setelah letusan itu banyak warga mengambil anugerahnya. Kita bisa langsung berjalan jalan di pinggir kawah sambil merebus telur dari air yang mendidih di dekat kawah. Perjalanan yang melelahkan menggunakan motor dari jakarta memang melelahkan, tangkuban Perahu mampu membayar rasa lelah kami. Jika anda ke Jawa Barat jangan lupa ke gunung ini dan jangan mengotori tempat wisata dengan apa yang sudah kita makan. Bawa kembali sampah yang ada.


Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Rabu, 30 Mei 2012

Jalan Jaksa


Siapa sangka jalan yang hanya memiliki panjang 400 meter bisa terkenal sampai ke Dunia Internasional. Ketika Jakarta menjadi sasaran wisata manca negara maka jalan yang harus diingat terlebih dahulu adalah jalan Jaksa, jalan ini berada di sebelah selatan Tugu Monas di jakarta Pusat, berada di sebelah barat Stasiun kereta api Gondangdia. Jarak tempuh dari Monas ke jalan Jaksa  lebih kurang 1 km. Asal nama jalan ini berasal dari zaman Belanda yang ketika itu ada mahasiswa yang menginap, semenjak itulah nama  jalan dikenal dengan sebutan jalan Jaksa.
Konser di festival jalan Jaksa

Mulai sejak itu banyak yang mau menginap, karena tempatnya aman, hingga pada tahun 60 an didirikan wisma pertama di jalan ini yang diberi nama Wisma Delima. Ditahun 1993 Dinas Pariwisata mencatat sebanyak 27.201 wisatawan menginap di jalan ini. Termasuk 29.676 warga Eropa, 3.309 warga Australia, 4.215 warga Amerika dan 649 warga Afrika. Lama menginap biasanya tiga hari. Tempat ini makin populer ketika pada bulan Agustus 1994 jalan Jaksa menyelenggarakan "Festival Jalan Jaksa" yang kemudian menjadi tradisi di tiap tahunnya. Dari Festival ini mampu menyerap ribuan pengunjung.


Didalam buku panduan yang paling terkenal untuk melancong yakni Lonly Planet akan bisa dilihat tentang data jalan Jaksa. Di awal tahun 2000an setelah Bom Bali jumlah wisatawan merosot drastis, jalan ini tetap dikenang menjadi tempat para pelancong dari luar negeri. Dari penginapan yang murah puluhan ribu sampai jutaan bisa dicari disini. Di sepanjang jalan ini juga diibaratkan pintu masuk ke Indonesia, karena di jalan jaksa terdapat travel, penukaran mata uang, pengenalan menu tradisional dan lain sebagainya. Jika ada warga Jakarta bisa melihat keberagaman di Jalan ini, ongkos paling murah untuk melihat dunia luar.


Salam berbagi,
Fadlik Al Iman