Sabtu, 19 September 2020

Rindu Seketika Perlu

Dikatakan oleh angin, bahwa ia melihat gumpalan awan hitam. Dilanjutkan oleh burung dan dimengerti kaum serangga.

Semuanya biasa saja. Hanya manusia yang penakut, melihat gelagat jantungnya menciut seperti telur semut, keringatnya memantul bagai biji si jali jali.

Prasangka mampu membesarkan dan menciutkan nyali. Hanya pemanah yang memiliki pandangan luas tak pernah pasrah, meski targetnya hanya fatamorgana.

Diperbuat angin yang masuk di sela sela bulu kuduk menyapa rasa, rindu akan keindahan semesta.



Rindu pada samudra dan paku bumi. Semuanya murni tanpa maksud mengada Ngada.

#fadliksept2020


Selasa, 15 September 2020

Tentang Kehidupan

 Berdiri Cemara laut di ujung teluk

Jawara multi talenta

Isyaratkan arah angin

Memfilter air asin

Menjaga gelombang abrasi 

Meneduhkan

Memeluk jiwa yang merapat padanya

Berpuluh windu

Hingga kuda kuda di atas tanah

Tangan terlentang seolah memberi jiwa untuk manusia, fauna serta biota


Kemudian waktu cemburu

Prasangka ruang

Tanpa prahara


Kemudian gergaji pada pikir

Kemudian gergaji pada lidah

Kemudian langkah dengan tangan tanpa keringat


Melupakan ibu penopang

Mengundang lapang lapang ombak keriangan

Perlahan melumpuhkan teluk, mengamputasinya

Ngeeeeeeng... dan tumbang


Mereka dilupakan oleh tulisan reklame wisata untuk Selfie. Menganggapnya abadi mengundang badai mati rasa mati asa


Hidup yang tipuan mematikan hidup dan kehidupan.



Kosong


#sajakfadlik