Minggu, 02 Februari 2014

Jadi abu, jadi arang

Tanda tanda akhir zaman adalah banyaknya terjadi fitnah, untuk itu kita disarankan berdoa untuk terhindar dari segala fitnah, termasuk fitnah dajjal. dari fitnah fitnah yang terjadi menyebabkan umat Islam saling bersebrangan. Semua saling merasa benar, mestinya kita kembali berpegang pada yang satu yakni Kitabbullah dan sunah Rasul, selain itu hanya pada masalah khilafiyah.

Hari ini ibu menelepon dari Jakarta, mengabarkan kamu masuk Tv, saya tertawa, kemudian ibu menyuruh saya agar menonton Tv, kemudaian saya menjawab bahwa tak memiliki Tv, ibu sedih, lalu saya menimpalkan sampil mengatakan perkataan ibu beberapa tahun lalu "ibu pernah bilang, jauhi setan kotak, agar kita bisa khusu beribadah", untuk itu saya tak punya Tv, semoga hal tersebut agar menjauhkan saya dari fitnah Dajjal.

Nyambung lagi dengan masalah di atas, ketika keyakinan dimiliki kedua pihak yang berlainan, maka satu sama lain ingin menguasai, lalu terjadilah peperangan. Ketahuilah wahai sobat bahwa, dari Abi Bakrah Nufai' ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi salallahu 'alaihi wasallam bersabda : "jika ada dua orang muslim berhadapan dengan membawa pedang masing masing (mau saling membunuh), maka yang membunuh dan yang dibunuh sama sama masuk neraka." Aku bertanya : "Ya Rasulullah, kalau yang membunuh itu sudah sepantasnya (masuk neraka) tetapi bagaimana dengan yang dibunuh ? "Beliau menjawab : "Sesungguhnya dia juga berkeinginan keras untuk membunuh lawannya itu." (Mutafaq 'alaihi, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan lafazh di atas dari riwayat Imam Muslim (2888).


Pribahasa ini mungkin dekat sekali dengan cerita di atas : "menang jadi abu, kalah jadi arang". Banyak fitnah bertebaran, semoga kita terhindar dari fitnah fitnah yang menyebabkan pertikaian.

Pasti ada jalannya

Kota dimana tempat menjadi magnet, auranya kuat, aromanya menyengat. Televisi mengiming imingi, bekerja di kota lebih bersih, teduh, jauh dari terik matahari. Dalam wacana tersebut orang orang merebut tempat.

Kini disaat kota jadi padat, semuanya jadi numpuk satu disitu. Hasil aktivitas manusianya seperti pakaian bau tidak punya ruang yang layak, mereka semua terpaksa parkir di jalan jalan aspal (lihat saja di pulau serangan), mereka harus nongkrong di atap atap rumah (lihat di kampung jawa denpasar), mereka harus berjemur dimana sinar ada, bahkan di dekat kandang ayam pun jadi, lihat saja di daerah monang maning.

Semua itu dilakukan untuk sebuah eksistensi, mengisi hidup yang cuma sekali, meraih hidup lebih layak di hari depan. Permasalahannya sekarang, apakah pemerintah memiliki program pemerataan, memasukkan program program manuver untuk membangun desa. Apabila ini terjadi, maka pelan pelan magnet kota pun hilang.

"pasti ada jalannya"

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman