Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Ia tumbuh sebagai anak yang gelisah—bukan karena tak punya arah, justru karena pikirannya berlari terlalu cepat. Sejak muda, Chairil sudah akrab dengan buku-buku asing, kata-kata yang menantang, dan keinginan kuat untuk hidup dengan caranya sendiri. Ia tak betah pada aturan, tak sreg dengan kemapanan. Hidup, baginya, adalah sesuatu yang harus ditaklukkan—atau setidaknya dilawan dengan kata-kata.
Ketika hijrah ke Jakarta, dunia terasa lebih keras, tapi juga lebih luas. Di kota inilah Chairil menemukan panggungnya. Ia menulis puisi dengan napas baru: lebih berani, lebih jujur, lebih “aku”. Puisinya tak bertele-tele, tapi menghantam. Tak rapi menurut selera lama, tapi justru di situlah daya ledaknya. Ia seperti membuka jendela dan membiarkan angin masuk—dingin, liar, tapi menyegarkan.
Chairil hidup sederhana, bahkan sering kekurangan. Ia berpindah-pindah tempat, berutang ke sana-sini, dan kerap sakit. Namun semangatnya nyaris tak pernah padam. Ia menulis bukan untuk jadi suci, tapi untuk jadi hidup. Dalam kata-katanya, ada perlawanan, ada cinta, ada kesepian yang tidak minta dikasihani. Ia menolak tunduk, bahkan pada usia muda.
Kesehatannya perlahan runtuh. Penyakit datang bertubi-tubi, sementara hidup tak juga melunak. Pada 28 April 1949, Chairil Anwar meninggal dunia di Jakarta, dalam usia yang sangat muda—26 tahun. Terlalu cepat, kata banyak orang. Tapi barangkali Chairil sudah membakar hidupnya sehabis-habisnya. Ia pergi dengan tubuh yang lelah, namun dengan nama yang terus menyala.
Kini, Chairil Anwar dikenang bukan sekadar sebagai penyair Angkatan ’45, tapi sebagai suara yang mengajarkan keberanian: berani menjadi diri sendiri, berani jujur pada luka, berani hidup meski tahu akhirnya fana. Ia memang tak panjang umur, tapi kata-katanya—seperti ia sendiri—menolak mati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar