Rabu, 03 Desember 2025

Kenapa

 HARI KELIMA: KAMI BELAJAR HIDUP TANPA MEREKA


I

Hari kelima. Lumpur mulai menjadi bagian dari kulit kami.

Sungai memang surut,

tapi sunyi justru meninggi,

seakan ingin memperlihatkan

betapa mudahnya penguasa

melupakan sebuah desa

tanpa merasa kehilangan apapun.


II

Di pengungsian, sandal-sandal basah

berbaris seperti bukti

yang tak pernah dipersidangkan.

Anak-anak bertanya

kenapa makanan tak kunjung datang,

dan kami, orang dewasa,

tak tahu bagaimana menjelaskan

bahwa yang lapar bukan hanya perut,

melainkan kepercayaan.


III

Tadi pagi seorang pejabat muncul di layar ponsel,

katanya: “semua sudah terkendali.”

Kami tertawa lirih,

bukan karena lucu,

tapi karena kata-kata itu

berjalan tanpa memandang ke arah kami.

Hutan kami dulu rubuh

oleh izin yang ditandatangani cepat,

lebih cepat dari bantuan

yang masih tersesat di ruang rapat.


IV

Malam kelima. Angin membawa bau anyir

yang tidak bisa disensor.

Jika pejabat itu akhirnya datang,

kami tak akan menyambutnya

dengan tangan terulur.

Kami hanya ingin tahu

apakah mereka sanggup menatap kami

tanpa menunduk,

tanpa menyalahkan cuaca,

tanpa mencari kamera,

dan tanpa takut mendengar nurani,


bahwa kami sudah berhenti

menunggu mereka sejak kemarin.



***


30 November 2025

Helvy Tiana Rosa

Selasa, 02 Desember 2025

Ketika Libral Menggunakan Dalil

 Ketua Lakpesdam PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), sedang mengalami hari-hari yang berat.


Ponselnya tidak berhenti berdering, bukan karena ucapan selamat, melainkan karena "teror" makian dan ancaman dari publik via telepon dan Whatsapp.


"Dibombardir telp dan WA ndak berhenti-berhenti," curhat Gus Ulil di Facebook, Senin (1/12/2025).


Penyebabnya yaitu karena jejak digital.



Di saat banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan Sumatera, netizen yang geram menemukan kembali video debat lawas (Juni 2025) di Kompas TV, di mana Gus Ulil melontarkan argumen yang kini terdengar sangat "di luar nalar".


Dalam video yang viral itu, Gus Ulil berdebat dengan Iqbal Damanik (Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia).


- Tantangan Iqbal


Iqbal menantang Gus Ulil untuk menunjukkan satu saja konsesi tambang/sawit di Indonesia yang berhasil dikembalikan ke ekosistem awalnya.


Jawabannya: Nol.


- Jawaban "Skakmat" (tapi blunder) Gus Ulil


Bukannya menjawab data, Gus Ulil malah bertanya balik dengan nada filosofis yang bikin Iqbal (dan penonton) bengong.


"Kenapa Anda begitu peduli untuk mengembalikan ekosistem awal?" tanya Gus Ulil.


Iqbal yang kaget menjawab simpel: "Karena kita butuh, Gus. Dan itu wajib!"


Inilah bagian yang paling memancing emosi (dan tawa getir) netizen.


Gus Ulil menuduh para aktivis lingkungan yang ingin menjaga kemurnian alam sebagai penganut "Wahabisme Lingkungan".


Logika Gus Ulil:


- Orang Wahabi ingin menjaga kemurnian teks agama.


- Aktivis lingkungan ingin menjaga kemurnian alam.


- Kesimpulan: Aktivis lingkungan = Wahabi.


"Harus puritan... Teman-teman lingkungan ini yang terlalu ekstrem... menolak sama sekali mining (tambang)," ketus Gus Ulil.


Menurutnya, alam berubah itu wajar (dinamika sejarah), dulu sawah, sekarang rumah, itu biasa.


Tambang dan pohon adalah anugerah Tuhan yang harus diekstraksi dan dimanfaatkan, bukan didiamkan.


Iqbal saat itu sudah mengingatkan bahwa analoginya tidak apple-to-apple.


Menebang satu pohon beda dengan industrialisasi alat berat yang meratakan hutan dalam sekejap.


Iqbal menegaskan daya tampung lingkungan ada batasnya, dan kita harus menyisakan warisan untuk anak cucu, bukan cuma lubang tambang.


Kini, saat bencana banjir bandang terjadi karena hutan gundul, teori "Wahabisme Lingkungan" Gus Ulil seolah menjadi bumerang yang menghantam balik dirinya sendiri.


Publik menilai argumennya sebagai pembenaran atas kerusakan alam yang kini menelan ratusan korban jiwa.