Rabu, 11 April 2012

Belajar dari Penyu

Tahu film Kura-kura Ninja kan ya.. ?, keluar sarangnya dan siap menumpas kejahatan. Lain halnya dengan cerita ini, kura-kura yang ada di laut itu adalah penyu, kalau kura-kura kepalanya bisa bersembunyi dalam tempurung, sementara penyu tidak, penyu dapat ditemukan disemua Samudera di dunia. Para ilmuan mengemukakan bahwa Penyu dengan panjang  enam meter sudah ada dari jamannya Dinosaurus, sekarang ukurannya lebih kecil.

Kalau mau bertualang belajarlah dari penyu, sepanjang hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata kelas reptilia itu naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Oh ya.. penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi 3.000 kilometer dengan waktu  tempuh 58 – 73 hari. Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya. Yang ngaku petualang belum tentu kayak gini.


Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar. Tahukah kamu bahwa jenis kelamin tukik ditentukan pada suhu di dalam pasir. Suhu hangat menghasilkan lebih banyak betina, suhu dingin menghasilkan banyak tukik jantan.



Anak-anak Serangan-Bali mengamati penyu hijau


Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 – 8 tahun sekali. Penyu jantan menghabiskan masa hidupnya di laut, kalau yang betina bertelur mampirnya ke pantai. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising serta cahaya kalau keganggu sedikit aja maka niatnya jadi berubah, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya bisa menghasilkan ratusan telur. Bisa dibayangin nggak kalau penyu betina update status kalau lagi mendarat ke pantai, pasti jadi cepet punah.



Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Selasa, 10 April 2012

Rujak Bali

Ada yang tahu makanan khas Bali seperti Nasi Campur, Sambal Matah, Sate Lilit Ayam, Bebek Goreng dan rujak. Yang paling buat saya kangen yakni Rujak Kuah Pindang, aromanya sangat kuat, sampai ke telinga dan ubun-ubun apalagi kalau pedas. Buatnya juga mudah, nggak ngejelimet, cepat, yang penting semuanya dicuci bersih.

Buah-buahan campur aduk yang biasanya diberi bumbu pedas. Rujak merupakan makanan khas Indonesia, kalau diingat banyak orang yang kenal berasal dari Jawa Timur, namun lain halnya dengan Rujak Kuah Pindang. Pertama-tama saya rasakan rujak ini di Serangan, Bali. Dari aromanya saja buat liur bercucur, maklumlah ada terasi  dan kaldu ikan, aromanya sangat kuat sekali, masam, pedas, menggiurkan !

Orang Bali mengkomposisikan buah untuk Rujak Kuah Pindang, biasanya mencampur 1 buah mangga mengkal, setengah potong pepaya muda, 2 buah kedongdong, 1 buah belimbing mengkal dan 1 buah bengkoang, setelah dikupas kesemuanya diiris memanjang dalam satu wadah, makin tipis diiris maka bumbunya makin meresap sampai ke dalam.  Bumbu biasanya diuleg, semua rujak tergantung bumbunya.

Kuah Pindang pertama yang saya cicip di Serangan

Bumbu Kuah Pindang lebih encer dari rujak yang lain, komposisinya 100 ml kaldu ikan dari Kuah Pindang, terasi udang secukupnya, gula pasir dan garam sesuai selera serta cabe yang sudah dihaluskan (kalau suka pedas). Setelah semuanya selesai siapkan piring atau mangkok, campur bumbu dengan irisan buah tadi. Kini rujak Kuah Pindang siap disajikan, lebih enak jika semua buah segar dengan bumbu meresap. Mudah bukan cara membuatnya? pasti ketagihan. Selamat mencoba.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman