Minggu, 29 Juni 2014

Tahukah kamu

Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam ?” Ia (Ziyad) berkata, aku menjawab, “Tidak tahu.” Umar bin Khattab RA berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Alquran, dan hukum (keputusan) para pemimpin yang menyesatkan.”
(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).

Jumat, 27 Juni 2014

AQIDAH

Akidah (Bahasa Arab: اَلْعَقِيْدَةُ; transliterasi: Aqidah) dalam istilah Islam yang berarti iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah. Pondasi akidah Islam didasarkan pada Hadits Jibril, yang memuat definisi Islam, Rukun Islam, Rukun Iman, Ihsan dan peristiwa hari akhir.

 Hadits Jibril (bahasa Arab: حديث جبرائيل,Hadīts Jibraīl) adalah sebuah hadits yang memuat definisi tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat menurut akidah umat Islam. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Umar bin Al-Khaththab dan Abu Hurairah. Hadits ini dapat ditemukan di kedua kitab Shahihain, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, juga Arbain Nawawi hadits ke-2.

Rukun Iman (bahasa arab: أركان الإيمان) yaitu pilar keimanan dalam Islam yang harus dimiliki seorang muslim. Jumlahnya ada enam. Enam rukun iman ini didasarkan dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Jibril yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab.

Ihsan (bahasa Arab: احسان) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "kesempurnaan" atau "terbaik". Dalam istilah agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

Akhir zaman atau kiamat biasanya merujuk kepada tulisan eskatologis dalam ketiga agama Abrahamik: Yudaisme, Kristen, dan Islam. Akhir zaman seringkali digambarkan sebagai suatu masa yang diwarnai oleh kesusahan yang mendahului kedatangan kembali dari Mesias yang telah diramalkan. Mesias adalah tokoh yang akan mengantarkan datangnya Kerajaan Allah dan mengakhiri penderitaan dan kejahatan. Namun demikian, gambaran-gambaran terinci tentang kejadian ini tergantung pada keyakinan masing-masing yang dipelajari.
Sejumlah agama dan tradisi memiliki keyakinan-keyakinan tentang akhir zaman, yang menghasilkan beraneka sistem keyakinan, tradisi, dan perilaku.



Kamis, 26 Juni 2014

KULKAS ABADI

Telah diketahui bahwa kulkas membutuhkan asupan listrik yang tidak sedikit. Banyak sekali makanan, minuman yang bisa diawetkan dari kulkas tersebut. Di tengah kebutuhan listrik yang sangat besar, beberapa lembaga menyelenggarakan kegiatan 1 jam menghemat listrik, 1 hari tanpa listrik dan masih banyak lagi kegiatan serupa.

Namun ada juga yang berpandangan bahwa kulkas juga lambang kemapanan keluarga dalam skala rumah tangga. Ketika saya lima tahun di Borneo, tidak sedikit saya temui di rumah rumah pedalaman orang yang memiliki kulkas, sayangnya tidak diimbangi listrik, walhasil kulkas beralih fungsi menjadi lemari pakaian.

Sementara si Fulan hidup sederhana, di sebuah kontrakan yang dia tinggali. Tidak terdapat TV, AC dan Kulkas, alasannya sederhana, belum memerlukannya. Untuk TV bisa diganti internetan, AC bisa diganti kipas angin. Sementara kulkas, ketika beliau memiliki makanan lebih maka makanan tersebut langsung dibagikan ke tetangga.

Tak terasa hari berganti, makanan segar datang secara tiba tiba dari tetangga yang pernah diberikan makanan. Sungguh dahsyat, bahwa berbagi ternyata lebih berkah dibandingkan memiliki kulkas. Saya sangat yakin tak ada kulkas di Bumi ini setelah berhari hari masih menyajikan makanan baru buat kita. Sillaturrahmi terjaga, makanan tanpa dipinta mampir ke rumah dari pemberian mungil beberapa hari lalu. Mari kita membuat kulkas kebaikan untuk para tetangga tetangga kita, terlebih ketika bulan Ramadhan.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Senin, 23 Juni 2014

Jumlah Malaikat

Diantara tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, Dia menciptakan makhluk yang jauh lebih besar dari pada jin dan manusia, selalu taat terhadap perintah dan mematuhi aturannya, dalam jumlah yang sangat banyak. Saking banyaknya, tidak ada satupun yang tahu populasinya kecuali Allah yang menciptakannya. Allah menjadikan mereka sebagai pasukan-Nya (junudullah). Berikut beberapa dalil yang menerangkan jumlah malaikat,

Pertama, firman Allah yang menyebutkan tentang pasukan-Nya,
وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ . لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ . لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ . عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.  (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (QS. Al-Muddatsir: 27 – 30)
Ketika turun ayat ini, Abu Jahal bekomentar,
أما لمحمد من الجنود إلا تسعة عشر
“Muhammad tidak memiliki pasukan kecuali 19 orang.”
Menanggapi ucapan lancang ini, Allah menurunkan ayat berikutnya yang menceritakan penjaga neraka. Di akhir ayat Allah menegaskan,
وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ
“Tidak ada yang tahu berapa jumlah pasukan Tuhanmu kecuali Dia. Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS. Al-Muddatsir: 31).
Ketika menafsirkan ayat ini, Al-Qurthubi mengatakan,
وما يدري عدد ملائكة ربك الذين خلقهم لتعذيب أهل النار إلا هو أي إلا الله جل ثناؤه
Tidak ada yang tahu jumlah Malaikat Tuhanmu, yang Dia ciptakan untuk menyiksa penghuni neraka kecuali Dia, yaitu Allah Ta’ala. (Tafsir Al-Qurthubi, 19/82).
Kedua, hadis tentang langit merintih
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, aku mendengar sesuatu yang tidak kalian dengar. Langit merintih… dan layak baginya untuk merintih. Tidak ada satu ruang selebar 4 jari, kecuali di sana ada malaikat yang sedang meletakkan dahinya, bersujud kepada Allah. Demi Allah, andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis…” (HR. Ahmad 21516, Turmudzi 2312, Abdurrazaq dalam Mushanaf 17934. Hadis ini dinilai hasan lighairihi oleh Syuaib Al-Arnauth).
Allaahu akbar…, betapa banyaknya jumlah mereka..
Ketiga, hadis tentang baitul ma’mur
Ketika dinaikkan ke langit (kejadian mi’raj), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat banyak hal luar biasa. Diantaranya adalah baitul ma’mur. Beliau menceritakan,
فَرُفِعَ لِي البَيْتُ المَعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: هَذَا البَيْتُ المَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ
Kemudian ditunjukkan kepadaku baitul ma’mur. Akupun bertanya kepada Jibril, beliau menjawab, ‘Ini Baitul Ma’mur, setiap hari ada 70.000 malaikat yang shalat di dalamnya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan kembali lagi, dan itu menjadi kesempatan terakhir baginya.‘ (HR. Bukhari 3207, Muslim 164, Nasai 448 dan yang lainnya).
Subhanallaah..
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa takut kepada-Nya dan mengagungkannya.

Silahkan simak

Jangan begini jangan begitu, jangan yang ini jangan yang itu. hal yang kita anggap ringan bisa berkibat fatal bagi anak. Secara sadar maupun tidak banyak anak yang tidak lagi berani menjadi dirinya sendiri. Saya mengalaminya sendiri banyak sekali perbedaan ketika masuk sekolah sekolah yang guru gurunya sering menggunakan kata jangan dengan sekolah sekolah dengan guru yang lebih kreatif mengelola kata.

Kedua duanya jujur, namun yang satu sangat berakibat fatal pada anak. Contoh saja ketika saya mengunjungi salah satu sekolah di Gili Meno Lombok, banyak anak yang mengerti ketika ditanya, namun malu mengungkapkan sendiri di depan kelas, alasannya malu kak.

"Takut salah, takut diketawain, kalaupun sudah tampil masih saja memikirkan apakah tadi ketika tampil ada pernyataan saya atau jawaban saya yang salah. Hal ini juga terjadi di salah satu sekolah di desa Kemenuh Bali. Siswanya malu berbicara di depan umum dengan alasan yang sama.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Minggu, 22 Juni 2014

Eropa Timur Bilang

atau
Ben Müslüman olmaktan gurur duyuyorum

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Badai Pasti Berlalu

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

TERIAK

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

PAMERAN

Pameran lukisan, anak alam, anak lautan.

Jihad dengan Kepedulian

Seberat apapun derita yang dialami pada dasarnya terkandung kebaikan yang sangat banyak.
Di dalam al-Qur’an Allah berfirman;
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

 Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang Muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).


Hidup dengan segenap fenomena yang ada di dunia ini merupakan bagian dari ketetapan Allah. Termasuk suka dan duka, anugerah maupun bencana.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-anbiya’ [21]: 35).

Ibn katsir berkata, “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.”
Artinya, seorang Muslim tidak boleh berputus asa dengan bencana yang sedang melanda. Harus tetap optimis. Karena tidak ada satu perkara pun di dunia ini yang terjadi tanpa idzin Allah.
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabuun [64]: 11).

Ibn Katsir berkata, “Seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah Ta’ala tersebut, maka Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allah Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”

Sungguh Allah tidak akan membuat sengsara hamba-Nya. Sebaliknya, melalui apa pun Allah selalu akan memberikan pertolongan dan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang sabar, ridha, ikhlas dalam menghadapi apa yang menjadi ketetapan-Nya. Wallahu A’lam.*

Ringkasan

Kajian ahad di Masjid Baitul Makmur, Bali. Membahas berbagai hal terkait dengan keilmuan.
Setiap manusia mendambakan datangnya hidayah, dengan bekerja keras dan usaha yang tiada mengenal lelah. Hidayah akan datang setelah adanya usaha dari manusia, dan kelayakan sifat-sifat dan terpenuhinya syarat-syarat pada manusia tersebut. Hidaya adalah hak prerogatif Allah SWT sebagaimana firman-Nya (Al Qoshshosh : 56)
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
Perantara datangnya hidayah adalah :
1. Para Nabi dan Muballigh.
2. Para Guru atau Ustadz.
Sebab-sebab datangnya hidayah :
1. Adanya kejujuran tanpa kebohongan; karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga.
2. Bersikap adil kepada diri sendiri; sebagaimana Firman Allah (Q.S Ar-Ra’d :11):
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”
3. Bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran, sebagaimana Firman Allah SWT (Q.S Al Ankabut :69)
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. “
4. Mendengar nasihat dan mengikutinya, Ilmu yang bermanfaat itu dapat menjadikan orang mengikuti kebaikan dan kebenaran, dari realitas kehidupan yang kita saksikan, orang-orang yang mendapatkan hidayah itu adalah orang yang rajin ta’lim menuntut ilmu dan meminta nasihat pada orang ‘alim, karena dengan kita mengikuti nasehat yang baik dan mengikutinya, insyaAllah diberikan hidayah, sebagaimana Firman Allah SWT (Q.S Az -Zumar: 18) :
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. “
5. Tidak sombong dan berlaku tawadhu; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong. Rasulullah dalam sabdanya menyampaikan : “ Tidak masuk syurga orang yang dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat sombong “ (H.R. Muslim).
6. Lapang dada dalam menerima Islam; Lapang dada dalam menerima hukum Islam adalah pintu untuk mendapatkan hidayah, karena kriteria orang yang mendapatkan hidayah seperti yang Allah gambarkan dalam Al Qur’an (Q.S Al An’am :125):
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. “
(diringkas dari Bulettin Lentera Dakwah, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Bekasi, edisi 19 Juli 2013, penulis: Ust. Ahmad Salimin Dani, MA)

IND1SIA


Tujuh Slide di Hari Ahad

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Sabtu, 14 Juni 2014

Belajar dari Jane Goodall

 foto. fadlik
DR. Jane Goodall lahir di Valerie, Inggris pada tanggal 3 April 1934. Namanya mendunia dikarenakan beliau perempuan yang terus menerus memiliki konsentrasi terhadap hewan primata Simpanse yang hidup di Afrika. Beliau adalah ahli primata dari Inggris, seorang entologis, antropolog serta pembawa pesan perdamaian dari PBB.

Pada sore ini beliau berada di Green School, Bali. Jane Goodallselalu memiliki smangat untuk hewan hewan di Afrika khususnya Simpanse. Selama lebih dari 50 tahun Ia mempelajari prilaku Simpanse  yang memiliki kemiripan gen, hal ini bisa dilihat dari emosi, kecerdasan, keluarga serta hubungan sosial.

Besok saya berharap untuk lebih dalam mengenal tentang Konservasi secara luas, apa saja yang telah diterapkan di luar sana, apa kendala kendala yang spesifik serta banyak hal yang harus saya pelajari dari seorang ahli yang telah mempelajari mahluk hidup selama puluhan tahun.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Jalan Dakwah

Jalan Dakwah tidaklah mudah, begitu banyak sandungan, halangan dan rintangan selalumenyelimutinya dalam langkah langkah kita. Untuk itu ada tahapan yang harus dilalui. babak pertama yang harus dilakukan adalah menuntut Ilmu meski nanti dalam berdakwah kita banyak memetik Ilmu dari pengalaman yang kita temui.

Kedua adalah dengan Amal, semua bisa kita lakukan, meski dengan senyuman, menyingkirkan duri di jalan dan masih seabrek amal yang kita lakukan yang tentunya harus disertai dengan Ilmu, karena Amal tanpa Ilmu nampak seperti tetangga sebelah.

Usai Ilmu, Amal barulah kita menempuh jalan Dakwah, jalan ini adalah pilihan. Berapa banyak orang memiliki ilmu namun enggan untuk berdakwah. Dalam kesehariannya hanya sibuk mengejar tidel dampa memberikan apa apa yang mereka telah dapatkan. Untuk itu kita diperintahkan untuk berdakwah.

Rintangan yang keempat lebih sulit, karena ini pilihan, mampukah kita menjadi penyabar dalam menjalani jalur Dakwah ini. Banyak orang yang mundur, marah, murka karena tidak sabar dalam mendakwahkan keyakinannya. Mari berbagi dengan kedamaian, sirami dengan kasih sayang, bahwa Dakwah tidaklah mudah.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Membaca tengan telinga

"Dan dialah yang menciptakan bagi kamu sekalian,Pendengaran,Penglihatan dan hati."
(Surah Al Mukminun ayat 78 )

Dalam ayat diatas Al Quran menyatakan urutan penciptaan indra manusia sejak dalam kandungan.hal ini tentunya sangat menarik dan menakjubkan mengingat tidak adanya pengetahuan mengenai embryologi pada saat Al Quran diturunkan,dimana dengan tegas dinyatakan bahwa urutan penciptaan pertama adalah pendengaran,kemudian penglihatan,dan berikutnya adalah hati. Hati dalam pemaknaan disini tentunya alat untuk berpikir yakni otak, bukan (liver).

Alloh memberikan langsung contoh seorang anak bersama Ust. Yusuf Mansur, dia menghafal 30 Juz dalam usia 7 tahun, sekarang telah berusia 10 tahun telah menghafal 1400 hadist dengan sanad dan perawinya. Bukan hanya itu, dia juga hafal asbaabun nuzulnya. Inilah salah satu tanda bahwa Alloh SWT merawat wahyu wahyunya, sabda sabda Rasulullah SAW.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Jumat, 13 Juni 2014

Larangan Membicarakan Kejelekan Orang Lain


Pada suatu ketika menghadaplah seorang wanita yang sangat pendek badannya, menghadap kepada Nabi dalam suatu kepentingan, ketika wanita itu sudah keluar, maka Aisyah r.a berkata :
“Betapa pendek wanita itu”. Mendengar perkataan Aisyah r.a, maka Rasul bersabda : “Wahai Aisyah, kamu telah menggunjingnya tentang kelemahan fisik wanita itu sehingga termasuk menyebarkan fitnah.

Dikisahkan dari Amr bin Dinar, bahwa sesungguhnya di kota Madinah ada seorang lelaki yang memiliki saudara perempuan yang tinggal di pinggiran kota Madinah. Pada suatu hari saudaranya itu menderita sakit, ia datang untuk menjenguknya dan menemukan ia sudah meninggal dunia, iapun mengusungnya sampai ke pemakaman sampai mayit dikebumikan telah selesai, kemudian iapun segera pulang kembali kepada keluarganya ke rumahnya, namun setelah sampai di rumahnya ia teringat bahwa kantong punya sahabatnya telah jatuh ke liang kubur dan tertanam bersama mayat saudaranya itu.

Karena mengingat isi kantong itu sangat penting, maka ia bermaksud akan membongkar kuburan saudaranya itu. Setelah mendapatkan izin dari ibunya dan saudaranya ia segera membongkar kuburan, lalu ia mengangkat sebagian tutup liang lahat dengan sangat hati-hati. “Celaka, aduh celaka .........!” Kata orang itu setelah melihat keadaan liang lahat, maka yang mengikutinya segera berkata : “Ada apakah gerangan, sehingga engkau kelihatan kaget dan bilang celaka, ceritakanlah kepadaku apa yang terjadi dengan saudaramu itu?” Maka berceritalah ia, bahwa di dalam liang kubur tampak kobaran api yang sedang menyala-nyala, lalu ia segera menemui ibunya untuk menanyakan perbuatan apa yang telah diperbuat oleh saudara perempuannya itu, ibunya berkata : “Saudarimu itu selalu mendatangi pintu tetangganya dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh tetangganya itu (ngerumpi), kemudian ia menyebarkan fitnah kepada para tetangganya yang lain. Setelah mendengarkan penjelasan sang ibu, maka lelaki itu segera mengetahui bahwa saudarinya itu suka ngerumpi, sehingga menyebabkan ia mendapatkan siksa kubur. Itulah akibat orang yang suka menggunjing dan ngerumpi dan menyebarkan fitnah yang kelihatannya sepele, tetapi sangat mengasyikkan dan menyenangkan.

Sesungguhnya berbicara itu mudah, tetapi berat mempertanggungjawabkannya. Mulut ini bagaikan moncong teko yang hanya mengeluarkan isi teko. Apapun yang kita katakan lebih menunjukkan siapa sebenarnya diri kita. Apapun yang kita katakan lebih menunjukkan siapa sebenarnya diri kita. Misalnya, penghinaan kita terhadap seseorang lebih menunjukkan kehinaan diri kita sendiri dibandingkan kehinaan orang yang kita hina. Kritik dan koreksi yang kita sampaikan kepada seseorang kalau tidak hati-hati lebih memperlihatkan kedengkian kita.

Perkataan yang baik adalah pembuktian kemusliman seseorang. Hendaknya setiap orang memastikan bahwa kata-kata yang akan diucapkannya benar-benar baik. Apabila kita tidak yakin akan dapat mengeluarkan kata-kata yang baik, diam itu lebih baik. Berkata yang baik tentunya akan lebih bermanfaat dibandingkan diam. Akan Tetapi, menghindari akibat dari perkataan yang kurang baik akan lebih utama dibandingkan kita memaksakan berbicara yang akan berakibat jelek kepada diri sendiri maupun orang lain.

Alangkah ruginya apabila waktu kita habis untuk sekedar ngobrol hal-hal yang tidak penting. Terkadang kita tidak bisa memastikan apakah pembicaraan yang kita lakukan itu bermanfaat atau tidak. Bahkan, sering kita tidak berdaya untuk menghindar dari pembicaraan yang berisi fitnah, gunjingan dan permusuhan. Semoga Allah SWT mengkaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjaga lisan agar selalu berbicara yang bermanfaat.

Berdasarkan Al-Qur’an dalam surat Al-Hujuraat ayat 6 yang berkaitan dengan larangan berburuk sangka dan menggunjing berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.


Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Hujuraat ayat 11 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Hujuraat ayat 12 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat An-Nuur ayat 15 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah benar”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat An-Nuur ayat 23 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Israa ayat 36 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Fath ayat 6 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali”.


Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Fath ayat 12 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “...............Dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Qaaf ayat 18 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Qalam ayat 10 - 11 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Humazah ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela”.

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Muthaffifin ayat 29 - 31 yang berbunyi sebagai berikut :
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan mata. Dan apabila Orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira”.

Berdasarkan Al-Hadits yang berkaitan dengan ghibah yaitu :
Artinya : “Berhati-hatilah terhadap purbasangka. Sesungguhnya purbasangka adalah ucapan paling bodoh”. (H.R. Al-Bukhari)
Artinya : “Barangsiapa mengintai-intai keburukan saudaranya semuslim, maka Allah akan mengintai- intai keburukannya. Barangsiapa diintai keburukannya oleh Allah, maka Allah akan mengungkitnya (membongkarnya) walaupun dia melakukan itu di dalam (tengah-tengah) rumahnya”. (H.R. Ahmad)
Artinya : “Sesungguhnya bila kamu mengintai-intai keburukan orang, maka kamu telah merusak mereka atau hampir merusak mereka”. (H.R. Ahmad)

Rasulullah melarang umatnya meneliti dan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab yang demikian hanya akan menghancurkan kerukunan dan kebersamaan kaum muslimin. Di sisi lain ditegaskan bahwa seburuk-buruk suatu kaum adalah kaum yang di antara mereka ada seorang mukmin yang berjalan di kalangan mereka dengan cara sembunyi-sembunyi dan senantiasa meneliti serta mencari-cari kesalahan orang lain.
Artinya : “Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain”. (H.R. Adailami)
Artinya : “Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa, Celakalah dia ...... celaka dia”. (H.R. Abu Dawud dan Ahmad)
Artinya : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam”. (H.R. Bukhari-Muslim)
Artinya : “Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya”. (H.R. Athbrani dan Al-Baihaqi)
Artinya : “Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab : “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Beliau bersabda : “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai”. (H.R. Muslim)
Artinya : “Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk”. (H.R. Al-Bukhari dan Al-Hakim)
Artinya : “Rasulullah saw pernah ditanya : “Ya Rasulullah, apakah tebusan mengumpat?” Jawab Rasulullah : “Hendaklah engkau beristighfar (memohonkan ampunan) kepada Allah bagi orang yang engkau umpat”. (H.R. Thahawi)
Artinya : Dari Hudzaifah r.a, dia telah berkata : Rasulullah saw telah bersabda : “Tidak akan pernah masuk surga orang yang suka mengumpat”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah memberikan solusi kepada umatnya yang terlanjur mengumpat orang lain. Yakni dengan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang diumpatnya. Dengan cara demikian, maka orang yang mengumpat akan mendapatkan maghfirah dari Allah SWT. Sebab bila tidak mendapat maghfirah, orang yang suka mengumpat atau menyebar fitnah pasti masuk neraka.
Artinya : “Barangsiapa di sisinya diumpat saudaranya sesama muslim kemudian dia tidak menolongnya padahal dia dapat menolongnya, maka Allah akan merendahkan dirinya di dunia dan di akhirat”. (H.R. Baghawi dan Ibnu Babawaih)
Artinya : “Barangsiapa mengembalikan kehormatan saudaranya lantaran diumpat, maka Allah berhak untuk memerdekakan dirinya dari neraka”. (H.R. Baihaqi)
Bila ada seorang muslim mengumpat orang lain, maka orang yang berada di sisinya wajib untuk mencegahnya. Yang demikian berarti dia telah memberikan pertolongan kepada saudaranya sesama muslim. Namun bila tidak mencegahnya, berarti dia rela direndahkan martabatnya oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, bila dia memberikan pertolongan dengan cara mencegah, maka Allah akan memberikan pertolongan kepadanya di dunia dan di akhirat. Bahkan berhak dimasukkan ke dalam surga. Sedang bila yang diumpat orang fasik, maka tidak perlu membelanya.

Rasulullah sangat membenci orang yang mengumpat, hingga beliau menegaskan bahwa kata-kata umpatan itu apabila dicampur dengan air laut akan mencemarkannya. Ini adalah gambaran tentang betapa bahaya dan besarnya dosa mengumpat. Sebab mengumpat dapat membatalkan pahala amal kebajikan seseorang. Di sisi lain, setan masih merasa mampu dan besar harapan untuk menghancurkan umat manusia sepanjang masih ada kesempatan untuk membuat mereka bersedia mengumpat sesamanya. Padahal ketika melihat Allah disembah oleh umat manusia dengan pelaksanaan shalat, setan sudah merasa putus asa. Itulah bahaya mengumpat, menggunjing, berprasangka buruk dan meneliti kesalahan orang lain.
Artinya : “Dari Abi Musa r.a, dia telah berkata : “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, muslim manakah yang lebih utama?” Jawab Rasulullah : “Orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Orang yang beriman sempurna akan selalu menjaga ucapan dan perbuatannya jangan sampai merugikan dan menyakitkan orang lain. Bila tidak bisa berbicara baik, dia akan lebih memilih berdiam diri. Sebab suka mencela, mengutuk, berlaku keji dan berkata kotor bukanlah kebiasaan orang yang beriman.

Orang yang menutup ‘aib orang lain di dunia, niscaya Allah menutup ‘aibnya pula kelak di hari kiamat. Hindarilah menggunjing, karena menggunjing itu lebih berat (siksaannya) dari berzina”. Para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, apa alasannya menggunjing itu lebih berat dari berzina? Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya seorang lelaki yang telah berzina, lalu dia mau bertobat, maka Allah tidak akan mengampuninya sebelum orang yang digunjingkannya itu mengampuninya”.

“Menggunjing itu memang lezat rasanya di dunia, tetapi dapat mengantarkannya ke neraka di akhirat kelak”. Rasulullah saw ketika ditanya tentang kebanyakan hal-hal yang memasukkan manusia ke dalam surga, beliau menjawab : “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik!” Dan ketika beliau ditanya lagi tentang kebanyakan hal-hal yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan!”. (H.R. Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : “Takutlah kamu terhadap prasangka. Sebab sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta pembicaraan. Janganlah kamu mencari-cari dan meneliti kesalahan orang lain, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling belakang membelakangi . Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana Allah telah memerintahkan kepadamu. Orang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak saling menzhalimi, tidak saling merendahkan dan tidak saling menghina. Takwa adalah di sini, takwa adalah di sini”, sambil Rasulullah menunjuk ke a rah dada.

Kemudian melanjutkan sabdanya : “Cukuplah keburukan bagi seseorang dengan menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim adalah haram atas muslim yang lain akan darah, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu dan rupamu, tetapi Allah melihat kepada hatimu”. (H.R. Muslim). Rasulullah secara tegas memerintahkan kepada umatnya agar menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara dan melarang mereka saling mencari-cari dan meneliti kesalahan orang lain, saling berlomba-lomba kemewahan, saling mendengki, saling membenci, saling membelakangi, saling menzhalimi, saling merendahkan, saling menghina, saling menjerumuskan, saling mendiamkan dan membeli belian orang lain. Sebab semua itu merupakan akhlak tercela yang tidak pantas dimiliki oleh seorang muslim. Rasulullah mengingatkan pula bahwa antar sesama muslim berkewajiban untuk saling menjaga darah, kehormatan dan harta di antara mereka. Dengan cara demikian, mereka tidak akan pernah saling menghina maupun menzhalimi. Yang perlu dicatat, bahwa Allah sama sekali tidak akan pernah melihat penampilan seseorang, baik bodi tubuh maupun paras muka, tetapi Allah akan selalu memperhatikan hati seseorang. Sebab di sanalah ketakwaan kepada Allah berada.

Dari Watsilah bin Al Asqa’ r.a, dia telah berkata : Rasulullah saw telah bersabda : “Janganlah engkau menampakkan kegembiraan terhadap saudaramu yang mendapat cobaan. Sebab boleh jadi Allah menyayanginya, kemudian memberi cobaan kepadamu”. (H.R. Tirmidzi). Ketika orang lain mendapatkan musibah, kita tidak diperbolehkan menunjukkan kegembiraan. Karena yang demikian adalah termasuk akhlak tercela dan penghinaan. Sebab, boleh jadi Allah menguji orang tersebut hanya karena akan diberi kasih sayang yang lebih besar lagi, sementara dalam kesempatan lain boleh jadi Allah memberikan ujian yang lebih berat kepada kita.

Dari Ibnu Abbas r.a dari Nabi saw, beliau telah bersabda : “Barangsiapa mengaku bermimpi dengan suatu mimpi yang tidak pernah dilihatnya, maka dia akan dituntut untuk mengikat antara dua butir gandum dan pasti dia tidak akan pernah dapat mengerjakannya. Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedang mereka merasa benci terhadap perilaku tersebut, maka pada hari kiamat nanti akan ditumpahkan cairan timah pada kedua telinganya. Dan barangsiapa menggambar suatu gambar, maka dia akan disiksa dan dibebani untuk meniupkan ruh padanya, padahal dia tidak akan pernah dapat meniupkannya”. (H.R. Bukhari)

Orang yang berdusta, orang yang mengintai pembicaraan orang lain dan orang yang menggambar berhala sesembahan, maka akan mendapatkan siksaan yang berat dari sisi Allah. Dia akan dituntut untuk melakukan sesuatu yang mustahil bisa dilakukan, lubang telinganya disiram dengan cairan timah dan disuruh untuk menghidupkan berhala atau gambar yang digambarnya sebagai sesembahan. Yang demikian adalah merupakan siksaan yang sangat pedih lagi berat. Pengertian menggambar suatu gambar adalah membuat suatu gambar benda atau patung yang disediakan untuk beribadah kepada selain Allah. Misalnya : menggambar salib kemudian disembah atau membuat berhala kemudian disembah. Sebab hal tersebut akan memudahkan perkembangan penyembahan terhadap berhala. Karena itu, Islam melarangnya. Lain halnya kalau gambar itu hanya bernilai seni dan dinikmati keseniannya, bukan untuk dipuja dan disembah, maka tidak ada larangan.

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : “Adakah kalian mengetahui, apakah mengumpat itu?” Para sahabat menjawab : “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Rasulullah kemudian bersabda : “Engkau menuturkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak menyenangkan”. Lalu ditanyakan : “Bagaimanakah pendapatmu jika apa yang aku katakan itu adalah terdapat pada saudaraku?” Jawab Rasulullah : “Jika apa yang engkau katakan terdapat pada saudaramu, berarti engkau telah mengumpatnya. Dan jika apa yang engkau katakan tidak terdapat pada saudaramu, berarti engkau telah membuat kedustaan terhadapnya”. (H.R. Muslim)

Mengumpat adalah bagian dari akhlak tercela. Pengertian mengumpat adalah mengatakan sesuatu tentang orang lain yang apabila dia mendengar merasa tidak senang, sekalipun apa yang dikatakan itu benar adanya. Sebab kalau apa yang dikatakan tidak benar adanya, maka yang demikian adalah termasuk perbuatan dusta, bukan mengumpat.

Dari Anas r.a, dia telah berkata : Rasulullah saw telah bersabda : “Ketika aku dimi’rajkan, aku melewati sekelompok kaum yang yang mempunyai kuku dari tembaga yang untuk melukai wajah dan dada mereka. Kemudian aku bertanya kepada Jibril : “Siapakah mereka itu, wahai Jibril?” Jawab Jibril : “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan menjatuhkan kehormatan mereka”. (H.R. Abu Dawud) Orang yang senantiasa mengumpat orang lain dan mencari-cari kesalahannya akan disiksa oleh Allah dengan siksaan yang berat. Yakni mencakar-cakar muka dan dada sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga.

Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw pernah berjalan melewati 2 (dua) kuburan, kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya 2 (dua) orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu adalah besar. Salah seorang di antara keduanya adalah berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). Sedang salah seorang yang lain tidak bertirai ketika kencing”. (H.R. Bukhari dan Muslim). Orang yang senantiasa menyebarkan fitnah atau mengumpat sesama muslim kelak dikubur akan mendapatkan siksa yang berat. Demikian pula halnya orang yang tidak hati-hati ketika kencing, sehingga percikan air kencingnya mengenakan tubuh atau pakaian. Dari Sahl bin Sa’ad r.a, dia telah berkata : Rasulullah saw telah bersabda : “Barangsiapa memberikan jaminan kepadaku terhadap apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang berada di antara dua pahanya, maka aku memberi jaminan surga baginya”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Seseorang yang mampu menjaga lisannya dari perkataan bohong, menghina dan memfitnah serta menjaga kemaluan dari perbuatan zina, maka Rasulullah memberi jaminan surga baginya. Itulah kemuliaan dan ketinggian derajat memelihara lisan dan kemaluan. Dari Aisyah r.a, dia telah berkata : Rasulullah saw telah bersabda : “Janganlah kamu memaki-maki orang-orang yang sudah meninggal. Sebab mereka telah sampai kepada apa yang mereka lakukan”. (H.R. Bukhari). Mencaci maki dan menghina orang yang sudah meninggal adalah bagian dari akhlak tercela. Karena itu, harus dijauhi oleh setiap muslim. Sebab orang yang sudah meninggal pada hakikatnya sudah sangat dekat dengan keridhaan Allah, sehingga tidak selayaknya dicaci maki.

Ada 4 (empat) sebab mengapa orang menggunjing (ghibah) orang lain :


  1. Karena alasan meredakan amarah diri. Maksudnya, ketika ada seseorang yang membuat marah, maka ia lantas menggunjing orang tersebut hanya karena ingin meredakan amarah dirinya.
  2. Hanya karena ingin menyesuaikan diri dengan teman-temannya atau dengan alasan menjaga keharmonisan.
  3. Ingin mengangkat diri sendiri dan menjelek-jelekkan orang lain.
  4. Menggunjing untuk canda dan lelucon. Dia menggunjing seseorang dengan maksud membuat orang-orang tertawa.

Maka ketahuilah obatnya dengan memahami bahwa menggunjing orang lain akan memancing kemurkaan Allah, menyebabkan pindahnya kebaikan-kebaikan diri kepada orang yang digunjingkan. Dan jika yang menggunjing tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang yang digunjingkan akan dipindahkan kepada orang yang menggunjing. (Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qasidin)

Ada 6 (enam) perkara yang tidak mengharamkan bergunjing yaitu :
  1. Dalam rangka kezaliman agar supaya dapat dibela oleh seseorang yang mampu menghilangkan kezaliman itu.
  2. Jika dijadikan bahan untuk merubah sesuatu kemungkaran dengan menyebut-nyebut kejelekan seseorang kepada Penguasa yang mampu mengadakan tindakan perbaikan.
  3. Di dalam Mahkamah, seorang yang mengajukan perkara boleh melaporkan kepada Mufti atau Hakim bahwa ia telah dianiaya oleh seorang Penguasa yang (sebenarnya) mampu mengadakan tindakan perbaikan.
  4. Memberi peringatan kepada kaum muslimin tentang suatu kejahatan atau bahaya yang mungkin akan mengenai seseorang, misalnya menuduh saksi-saksi tidak adil, atau memperingatkan seseorang yang akan melangsungkan pernikahan bahwa calon pengantinnya adalah seorang yang mempunyai cacat budi pekertinya atau mempunyai penyakit yang menular.
  5. Bila orang yang diumpat itu terang-terangan melakukan dosa di muka umum.
  6. Mengenalkan seseorang dengan sebutan yang kurang baik, seperti a’war (orang yang matanya buta sebelah) jika tidak mungkin memperkenalkannya kecuali dengan nama itu.

Orang yang membicarakan yang tidak berguna (batil) akan dimasukkan dalam neraka Saqor dan orang yang suka mencela dan mengumpat akan dimasukkan dalam neraka Huthomah.

Kesimpulan :
  1. Berita kejelekan orang lain bukanlah untuk disebarluaskan, tetapi ini adalah bahan untuk introspeksi diri.
  2. Berburuk sangka, menggunjing, menghina, memfitnah, menertawakan, mencela dan mengolok-olok serta meneliti kesalahan orang lain adalah bagian dari akhlak tercela yang harus dijauhi oleh setiap muslim. Sebab akan menghancurkan keimanan yang telah tertanam di dalam hati dan hanya akan mengantarkan seseorang mendapatkan laknat Allah sehingga menjadi penghuni neraka.

Sumber : http://www.frijal.com/2013/04/larangan-berburuk-sangka-dan-menggunjing.html
  1. Agenda Muslimah Menuju Pribadi Muslimah Ideal;
  2. Bahan Renungan Kalbu Penghantar Mencapai Pencerahan Jiwa karangan : Ir. Permadi Alibasyah;
  3. Kumpulan Khutbah Jum’at Para Kiai;
  4. Mengungkap Kisah Nyata dari Zaman ke Zaman karangan : Abdul Hadi AR
  5. Muslim Best of the Best karangan : Abdullah Gymnastiar;
  6. Tawakal Yayasan Pendidikan Islam “Raudhatul Muttaqin” karangan : Farida Hanum
  7. 1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad karangan : Dr. Muhammad Faiz Almath.

Kamis, 12 Juni 2014

Gili Matra

Pendidikan lingkungan hidup di tiga Pulau yakni Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air yang dikenal dengan sebutan Gili Matra sangat penting dilakukan, mengingat ketiga Pulau ini semakin lama semakin rentan terhadap pencemaran. Di Pulau yang terbilang sepi saja seperti Pulau Gili Meno terdapat sampah dimana mana, belum lagi pembuangan air yang menyerap di Pulau yang tidak begitu besar, sisa sisa limbah makanan masuk ke dalam tanah seperti minyak.

Belum lagi di lautan bahwasanya kelestarian terumbu karang mendapat ancaman dari sampah sampah yang pada akhirnya bermuara di laut. Pada tanggal 11 Juni 2014 beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat bekerjasama melakukan pendidikan lingkungan hidup kepada kelas 3 -5 di SD yang ada di Pulau Gili Meno di Lombok.

60 anak dari tiga sekolah belajar dan bermain di dalam serta luar ruangan, Pantai menjadi salah satu tempat pembelajaran yang baik untuk menjelaskan abrasi, intrusi serta pelestarian penyu hijau. kami mengambil tempat di Gili Menu karena tempat ini yang paling sepi dari turis sehingga cukup baik untuk belajar ungkap Bibi staf dari WCS. Semoga kegiatan ini berkesinambungan sehingga menciptakan pahlawan pahlawan baru yang membela lingkungan di Gili Matra.

Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Senin, 09 Juni 2014

PERANG BADAR


Melawan Plurarisme

◕TABLIGH AKBAR "PERANG MELAWAN PLURARISME"◕

⇛ Yogyakarta, Masjid Gede Kauman, Minggu 08 06 2014

⇛ Tabligh Akbar Bertemakan seruan perang melawan plurarisme yang telah rampung diselenggarakan muslimin yogyakarta yang tergabung dalam Forum Ukhuwah Islamiyah Yogyakarta dan dihadiri lebih dari seribu orang baik muslimin lokal jogja dan juga dari luar kota, ada dari perwakilan Solo,Surakarta ,Kalimantan, Jakarta ikut menghadirinya, dengan pemateri Ust Ja'Far Umar Tholib (panglima Laskar Jihad)

⇛ Diantara Ceramah yang menggelora tersebut adalah Bahaya Fitnah Plurarisme yang begitu nyata, kaum munafik penyeru plurarisme ditegaskan Ust Ja'far adalah perusak akidah, mereka mencari muka diadapan kafirin, menyetarakan semua agama adalah sama, dan menggiring umat menuju kesesatan dan mengarahkan untuk murtad,

⇛ Dipertegas oleh Ust Ja'Far Umar Tholib, Bahwa plurarisme adalah sesat dan menyesatkan

⇛ Ditambahkan lagi, Umat islam harus membentengi diri dengan menanamkan Ketauhidan yang benar ada pada diri kita masing masing, jadilah singa yang siap menghadapi dalam segala suasana.

⇛ Beliaupun dengan lantang mengangkat jari dan mewanti wanti untuk Jajaran pemerintahan, Baik instansi Polri,TNI,Anggota dewan dan bahkan kraton jogja,Meskipun seribu kraton bersatu dalam kesatuan dan mereka terus menerus menyerukan ajaran plurarisme maka tunggu, Tunggu kehancuran kalian

⇛ Beliau mencontohkan bagaimana Uni Soviet yang membuat makar dan menggempur Afganistan tidak lelah memeranginya, negara yang super power itupun tidak mampu mengalahkan mujahidin Afgan, mujahidin yang hanya basicnya penggembala kambing, membaca saja tidak mampu, Mereka pun (Uni Soviet) tidak mampu mengalahkan muslimin Afgan penyeru Laa Illa Ha Illa Allah, meski seribu lebih mujahidin gugur dalam pertempuran dan darah mereka ditumpahkan namun apa yang Uni Soviet dapatkan,bukanlah kemenangan namun Hanyalah kehancuran dan mereka kalah, lihatlah dimana Uni Soviet sekarang, Hancur luluh lantah,

⇛ Satu pertanyaan kontributor Voice Of Muallaf untuk beliau, ustad bagaimana sikap kita kepada mereka penyeru pluraritas yang sekarang semakin terang terangan, jawab beliau Tindak mereka dan serukan Jihad melawan mereka, mereka hanyalah pengekor setan dan tipu daya setan itu adalah lemah, Kita adalah umat yang kuat, jangan gentar Allah bersama kita,

⇛ Sahabat Voice Of Muallaf, kami akan mengunggah cuplikan video ceramah beliau yang kami dapatkan dari kontributor VOM Yogya yang menghadiri Tabligh Akbar Tersebut, bersabar untuk menunggunya,

 Team Muslim
Voice Of Muallaf

Jumat, 06 Juni 2014

Yang Mengaku Mencintai Ali Bin Abi Tholib

Kholifah Rosyidah yang keempat, Ali bin Abi Tholib -رضي الله عنه- telah mengatakan dan memberikan sebuah wasiat yang sangat berharga dalam masalah mempersiapkan diri untuk menghadapi datangnya hari kiamat dengan perkataan beliau :
ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
“Dunia pastilah berlalu meninggalkan dan akhirat datang menjelang. Setiap dari keduanya memiliki generasi, maka jadilah kalian anak-anak (generasi) akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak (generasi) dunia. Sesungguhnya hari ini yang ada amal dan tidak ada hisab (perhitungan), dan esok (akhirat) yang ada hanyalah hisab dan tidak (ada kesempatan) amal
(dikeluarkan oleh Imam Bukhori dalam kitab shohihnya, dalam kitab Ar Roqoiq, bab : Al Amal wa Thuuluhu)
Dari sini, bisa nampak oleh kita bagaimana keberhasilan Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- dalam menggembleng para sahabatnya untuk menjadi generasi akhirat. Sebagaimana yang tergambar pula dalam hadits lain yang menceritakan seseorang bertanya kepada Rosululloh -صلى الله عليه وسلم- tentang kapan terjadinya hari kiamat. Lalu Nabi -صلى الله عليه وسلم- justru balik bertanya dengan pertanyaannya, apa yang sudah engkau siapkan untuk itu.
Lebih lengkapnya kita simak penuturan Imam Al Bukhori dalam meriwayatkan hadits tersebut :
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
Dari Anas –semoga Alloh meridloinya- bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Nabi -صلى الله عليه وسلم- tentang hari kiamat, ia berkata ; “Kapan hari kiamat itu ?” (Nabi) menjawab ; “Apa yang sudah engkau siapkan untuknya ?” ia (laki-laki) menjawab : “Tidak ada, hanya saja aku mencintai Alloh dan Rosul-Nya -صلى الله عليه وسلم- , lalu (Nabi) menjawab : “Engkau bersama orang yang engkau cintai”. Berkatalah Anas : “Tidak ada yang membuatku lebih bahagia dari perkataan Nabi -صلى الله عليه وسلم- ; “engkau bersama rang yang engkau cintai”; Maka akupun mencintai Nabi -صلى الله عليه وسلم- dan begitu juga kepada Abu Bakar dan Umar, serta aku berharap bersama mereka karena cintaku kepada mereka meskipun aku belum bisa beramal seperti amalan mereka”.
(HR. Bukhori)
Selanjutnya, perlu kita mengetahui bagaimana mempersiapkan diri dalam menghadapi fenomena akhir zaman dan berupaya menjadi generasi pilihan yang selalu berorientasi akhirat.

Gunung Sangiang di Bulan Mei 2014

Menurut catatan sejarah aktivitas letusan G. Sangeangapi umumnya bersifat eksplosif dengan pusat kegiatan di puncak. Namun terkadang muncul aliran lava, awan panas dan pertumbuhan kubah lava. Pada saat ini G. Sangeangapi memiliki kubah lava yang menambah potensi bencana bila terjadi letusan yang menghancurkan kubah lava tersebut dan menimbulkan aliran awan panas dan jatuhan piroklastik.

1. Kesimpulan
  • Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Sangeangapi maka status kegiatan G. Sangeangapi dinaikan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) terhitung sejak tanggal 30 Mei 2014 pukul 16:00 WITA.
  • Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Sangeangapi, serta pemahaman akan aktivitas G. Sangeangapi harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman aktivitas erupsi G. Sangeangapi.
  • Jika terjadi perubahan peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik G. Sangeangapi secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya. 
2. Rekomendasi
Sehubungan dengan status SIAGA G. Sangeangapi, maka diberikan rekomendasi sebagai berikut:
  1. Masyarakat di sekitar G. Sangeangapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dan beraktivitas di P. Sangeang.
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat untuk diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata.
  3. Masyarakat di sekitar G. Sangeangapi diharap tenang dan tetap waspada, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Sangeangapi.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan BPBD Kabupaten Bima dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Sangeangapi.
  5. Pemerintah Daerah Kabupaten Bima agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Sangeangapi  yang terletak di Desa Sangeang Darat, Kecamatan Wera atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

Mesir dan Suriah

Damaskus – Sekutu internasional Assad, termasuk Iran, Rusia dan kelompok Syiah Hizbullah Lebanon serempak memuji pemilu yang telah diselenggarakan pada 3 Juni dan langsung diumumkan hasilnya pada keesokan harinya.

“Pemilihan Bashar Assad adalah obituari dari konspirasi yang bertujuan menghancurkan (Suriah),” ujar Mohammad Raad, pemimpin blok parlemen Hizbullah, seperti dikutip oleh jaringan televisi milik Syiah Hizbullah, Al Manar.

Rusia pun ikut melayangkan pujiannya dengan mengatakan tim pengamat parlemen dari negara-negara yang sebagian besar bersimpati kepada Assad telah menemukan jajak pendapat itu dilaksanakan secara adil, bebas dan transparan, dan mengkritik negara-negara yang mengecam pemilu.

Namun, Uni Eropa mengatakan pemilu itu merupakan upaya tidak sah dan merusak solusi perang saudara yang telah membunuh lebih dari 160.000 korban jiwa. Sementara, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menjelaskan pemungutan suara itu sebagai “nol besar”.

Yasin Aktay, kepala urusan luar negeri dari Partai AK yang berkuasa di Turki, mengatakan bahwa ada kesamaan dalam pemilu di Suriah dan Mesir – di mana mantan panglima militer Abdel Fattah al-Sisi mendapat 96,9 persen suara meskipun partisipasi pemilihnya sangat rendah. Aktay menegaskan bahwa pemilu di Suriah dan Mesir merupakan “komedi yang lengkap”.

“Di Suriah ada pemilihan tanpa kotak suara, tidak ada yang bisa melihat di mana mereka menempatkan kotak suara. Di Mesir ada pemilihan tanpa pemilih,” kata Aktay.

Tapi, banyak warga Suriah yang ikut dalam pemilu bukan karena mereka mendukung Assad, mereka tampaknya memiliki motif pribadi dan memiliki kerinduan untuk mendapatkan ketenangan dan keamanan. Banyak warga yang tidak senang kepada rezim Bashar Assad tetapi ikut andil dalam pemilu.
“Kita hidup di sini, dan kita harus tampil di teater ini,” kata seorang ibu setengah baya. “Kalau kita ikut memilih berarti kita jauh dari pantauan radar dan tidak ada yang mengganggu kita, tidak ada yang akan mengganggu anak-anak saya, maka itu pantas untuk dilakukan. Selain itu, bukan seolah-olah suara saya saja yang akan membuat perbedaan. Ia (Bashar Assad, red) akan menang tidak peduli bagaimana caranya.” katanya.

“Setelah mendapatkan tanda tinta ini. Aku merasa aku melakukan hal yang benar,” katanya, sembari menunjukkan jari telunjuk bertintanya.

Editor: Fajar Shadiq
Sumber: World Bulletin

Rabu, 04 Juni 2014

Hari Lingkungan Hidup 2014

5 Juni 2014.

Begini Tahapannya

Ilmu, Amal, Dakwah dan Sabar.
Salam berbagi,
Fadlik Al Iman

Silahkan Pilih

Ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada  Allah,
dan mendorong manusia kepada amal perbuatan.

Sementara   dalil   yang   berasal  dari  hadits  ialah  sabda
Rasulullah saw:

   "Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia
   akan diberi-Nya pemahaman tentang agamanya."2

Karena bila dia memahami ajaran agamanya,  dia  akan  beramal,
dan melakukan amalan itu dengan baik.

Dalil   lain   yang   menunjukkan   kebenaran   tindakan  kita
mendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang pertama kali
diturunkan  ialah  "Bacalah."  Dan  membaca  ialah  kunci ilmu
pengetahuan;  dan  setelah  itu  baru  diturunkan  ayat   yang
berkaitan dengan kerja; sebagai berikut:

   "Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah
   peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu
   bersihkanlah." (al-Muddatstsir: 1-4)

Sesungguhnya ilmu  pengetahuan  mesti  didahulukan  atas  amal
perbuatan,  karena  ilmu  pengetahuanlah yang mampu membedakan
antara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat  manusia;
antara  yang  benar  dan yang salah di dalam perkataan mereka;
antara perbuatan-perbuatan yang  disunatkan  dan  yang  bid'ah
dalam  ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalam
melakukan muamalah; antara tindakan yang  halal  dan  tindakan
yang  haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak
manusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang  ditolak;
antara  perbuatan  dan  perkataan  yang bisa diterima dan yang
tidak dapat diterima.

Oleh sebab itu, kita seringkali menemukan ulama pendahulu kita
yang   memulai   karangan   mereka  dengan  bab  tentang  ilmu
pengetahuan. Sebagaimana yang dilakukan oleh  Imam  al-Ghazali
ketika menulis buku Ihya' 'Ulum al-Din; dan Minhaj al-'Abidin.
Begitu pula yang dilakukan oleh al-Hafizh  al-Mundziri  dengan
bukunya   at-Targhib   wat-Tarhib.   Setelah  dia  menyebutkan
hadits-hadits tentang  niat,  keikhlasan,  mengikuti  petunjuk
al-Qur'an  dan  sunnah  Nabi saw; baru dia menulis bab tentang
ilmu pengetahuan.

Kebiasaan Orang Soleh di Pagi Hari

[1] Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid’. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,
أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
“Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”
Jabir menjawab,
نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ.
“Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670)
An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan).
Al Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Maktabah Syamilah)



[2] Kebiasaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu


Dari Abu Wa’il, dia berkata, “Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Mas’ud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sembari berkata, “Mari silakan masuk.” Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Mas’ud sedang duduk sambil berdzikir.
Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?”
Lalu kami menjawab, “Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur.”
Ibnu Mas’ud lantas bekata, “Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?”
Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, “Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit.” Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sembari berkata, “Lihatlah apakah matahari telah terbit.” Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا
“Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini.” (HR. Muslim no. 822)



[3] Keadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di Pagi Hari


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang gemar beribadah dan bukanlah orang yang kelihatan bengis sebagaimana anggapan sebagian orang. Kita dapat melihat aktivitas beliau di pagi hari sebagaimana dikisahkan oleh muridnya –Ibnu Qayyim Al Jauziyah.-
Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.” 

(Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib, hal.63, Maktabah Syamilah)